Home / Artikel / Memahami Instruksi Atasan

Memahami Instruksi Atasan

 
Kepemimpinan sering digambarkan secara sederhana sebagai ‘mencapai hasil melalui orang lain’. Bagaimana hal itu bisa dilakukan?
Tentu melalui serangkaian instruksi atau penugasan yang diberikan kepada setiap anggota team sehingga keseluruhan team menghasilkan kinerja yang diinginkan. Tapi, kenapa banyak menejer yang kesal karena kinerja buruk anak buahnya? Padahal, rasanya dia sudah memberi instruksi yang jelas loh.
Dalam training di Rumah Perubahan senin kemarin saya membuat sebuah simulasi tentang kepemimpinan. Simulasi itu dirancang supaya para menejer bisa ‘merasakan sendiri’ (bukan ‘mengetahui’) efektivitas kepemimpinan terhadap kinerja team.
Dari sejumlah learning poin yang kami dapatkan, ada satu temuan menarik. Kenapa menarik? Karena temuan itu ada di semua team tanpa kecuali. Artinya, hal itu mutlak secara aklamasi. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Para leader, mesti memiliki kemampuan mumpuni dalam aspek itu. Jika ingin teamnya berkinerja baik.
Tahukah Anda, aspek apa yang kami temukan secara kolektif itu? “Kemampuan dalam memberikan instruksi kepada anak buah.” Itu loh, yang dirasakan oleh semua peserta training kami. Dan itulah pula masalah yang sering ditemukan dibanyak perusahaan. Mungkin, di perusahaan Anda juga loh. Mungkin, saya bilang.
Mengapa skill memberikan instruksi itu penting dikuasai oleh para leader? Karena ternyata. Ini penting Anda ketahui. Ternyata, anak buah Anda bekerja BUKAN berdasarkan instruksi yang Anda berikan kepadanya. Saya ulang; Anak buah Anda bekerja BUKAN berdasarkan instruksi yang Anda berikan kepadanya.
Lantas atas dasar apa mereka bekerja jika demikian? Ini penting untuk Anda pahami. Anak buah Anda, bekerja berdasarkan PEMAHAMAN mereka atas instruksi yang Anda berikan. Saya ulang: Anak buah Anda, bekerja berdasarkan PEMAHAMAN mereka atas instruksi yang Anda berikan.
Harap Anda camkan hal ini. Kenapa? Karena,  selama ini banyak atasan yang merasa sudah memberi instruksi kepada anak buahnya. Tapi kok meleset terus. Makanya, atasan kesal. Marah-marah. Menganggap anak buahnya tidak kompeten.
Dan kalau Anda bersikap seperti itu kepada anak buah, maka anak buah Anda tidak akan betah kerja dengan Anda. Mereka patuh karena takut pada Anda. Mereka rajin hanya karena Anda terus menerus memelototinya.
Dari temuan aklamasi dalam simulasi itu, kita semua bisa belajar bahwa; atasan tidak lagi boleh mengatakan ‘kan sudah saya kasih tahu kamu!’ Atau ‘makanya, kamu baca email saya!’ Atau ‘masa nggak ngerti juga sih!’
Nggak bisa. Mengapa? Karena. Bukan instruksi Anda yang menentukan kinerja anak buah Anda. Tapi, pemahaman mereka terhadap instruksi itu.
Lantas, bagaimana caranya untuk mengetahui apakah anak buah Anda sudah memahami instruksi Anda atau belum? Satu, Anda cross check tuch. Misalnya, tanya; bisa kamu jelaskan lagi kepada saya soal penugasan ini? Kalau jawabannya bengkok, masih ada kesempatan bagi Anda untuk meluruskan.
Kedua, cek pengerjaannya. Bisa saja paham secara kognitif tapi cara pengerjaannya yang meleset kan. Jangan sampai Anda baru ‘ngecek’ setelah semuanya selesai dikerjakan. Selain telat. Nyebelin juga buat orang yang mesti ngerjain ulang kan. Insya Allah, bakal lebih baik kinerja team Anda secara keseluruhan.
Catatan kaki:
Persepsi antara atasan dan bawahan bisa berbeda. Makanya, perlu dipastikan jika anak buah memahami apa yang diinstruksikan oleh atasan kepadanya. Jika tidak, ya tanggung resikonya saja.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment