Home / Artikel / Memahami Bentuk Kesepakatan Kerja

Memahami Bentuk Kesepakatan Kerja

 
Saya maklum jika ada yang keberatan dengan artikel kemarin tentang “Bukan Basa Basi Menejemen”. Idenya seperti utopia. Sesuatu yang dipahami secara konsepsi, tapi kenyataannya seperti langit dan bumi. Karena, perilaku orang pada umumnya bertolak belakang dengan gagasan itu. Sehingga kita menganggap perilaku tertentu sebagai sebuah kewajaran.
Misalnya kalau karyawan buang-buang waktu kerjanya, dianggap wajar. Kalau sedang meeting malah chatting WA dan BB dengan orang didunia maya, dianggap wajar. Kalau komputer kerja malah dipake main game, dianggap wajar. Kalau makan siang kelamaan juga dianggap wajar. Dan seterusnya. Jadi, boleh dong kalau kita juga begitu?
Boleh.
Nah, tuch boleh!
Boleh, kalau Anda bekerja di perusahaan milik Anda sendiri. Tapi kalau bekerja di perusahaan milik orang lain, maka perhatikanlah bentuk kesepakatan kerja yang Anda buat dengan sang pemberi kerja.
Kalau status ketenaga kerjaan kita full time, maka itu berarti bahwa selama jam kerja itu kita berkewajiban untuk bekerja. Bukan melakukan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan.
Kalau Anda pekerja part time, maka tidak seluruh waktu Anda terikat dengan pekerjaan. Tapi tetep, waktunya kerja; ya kerja. Diluar waku kerja itu – meskipun masih jam kerja bagi pekerja full time – Anda bebas mau ngapain aja. Itu ciri profesionalitas Anda.
Anda, mungkin juga external konsultan atau kontraktor yang bekerja berdasarkan proyek tertentu dengan tenggat waktu tertentu. Maka Anda boleh mengatur irama kerja Anda sendiri. Mau ngapain boleh. Tapi proyek itu mesti diselesaikan sesuai batas waktu.
Memahami bentuk kesepakatan kerja, membantu kita untuk bersikap dan bertindak secara tepat dalam bekerja sehingga profesionalitas kita tetap terjaga. Dan pada saat yang sama, kita bisa menikmati keseharian kerja kita. Dengan tetap menjaga reputasi kita. Anda bisa?
Catatan kaki:
Kalau orang lain melakukan sesuatu, belum tentu hal itu sesuai dengan diri kita. Karena, boleh jadi situasi mereka berbeda dengan kita. Sehingga kita, tidak perlu iri kepada orang-orang yang diizinkan melakukan sesuatu yang kita tidak boleh melakukannya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment