Home / Artikel / Masih Ada Karir Buat Manusia

Masih Ada Karir Buat Manusia

 
Walaupun ancaman hilangnya pekerjaan karena kemajuan teknologi sudah sampai pada taraf ‘cafe tanpa awak’ dan diberikannya kewarganegaraan kepada Sophia si robot cantik itu, tapi karir manusia; masih tetap ada.
 
Yang saya bicarakan ini bukan sekedar pekerjaan. Tapi karir. Bagi manusia yang benar-benar berkomitmen untuk membangunnya. Dan sekarang, manusia yang seperti itu sedang banyak dibutuhkan. Karena sebagian besarnya sekedar sibuk bekerja. Bukan membangun karirnya. Bedanya apa?
 
Saya jelaskan pakai obrolan terbaru dengan teman yang sudah lama nggak ketemu ya. Awalnya, selepas sholat Jum’at pekan lalu. Saya langsung memenuhi panggilan perut. Melintasi lobby, lalu menuju ke restoran. Bukan pamer ya kalau restoran tempat saya makan ini BESAAAR sekali. Ini fakta.
 
Restoran itu membentang nyaris sepanjang jalan Bendungan Walahar. Yang berkantor di GKBI atau BRI tower pasti tahu soal itu. Iya. Itu restoran AMIGOS,  alias Agak MInggir GOt Sedikit.
 
Nggak disangka. Di deretan kios-kios makanan itulah saya bertemu dengan sahabat lama. Sekarang, dia sudah menjadi petinggi di kantor. Kangen-kangenannya kami pindahkan ke lobby GKBI yang super cozy. Dan inilah yang saya hendak bagikan kepada Anda jika ada manfaatnya.
 
Saya sudah lebih dari 8 tahun meninggalkan kantor itu. Lumayan, dengan dada tegak. Teman saya ini, tipe orang sabar dan tekun. Dia stay hingga sekarang berkedudukan tinggi. Karirnya berkembang. Tentu badannya juga, khas orang yang sangat berkecukupan.
 
Salah satu yang mengejutkan buat saya adalah, kemampuannya berbahasa Inggris. Jauh banget perkembangannya. Kalau Anda bekerja di PMA, bahasa bisnis dunia wajib bisa. Percuma kerja di perusahaan besar gak bisa bahasa internasional. Cuma kerja aja. Bukan bangun karir.
 
Di kantor kami. Dan dibanyak perusahaan asing lainnya, promosi sering terhambat hanya gara-gara kandidat internal nggak pede ngobrol sama boss besar. Dikirim ke event internasional apalagi. Gelagapan. Sudah deh, ambil orang dari luar saja. Jangan sampai presiden pun harus import lho ya.
 
Jika malas belajar bahasa bisnis, maka tidak perlu nunggu disrupsi dulu untuk kehilangan karir itu. Kerja ada, tapi karir tidak.
 
Berikutnya apa? Teman saya bercerita, bahwa kawan-kawan kami kesalip sama anak-anak muda. Kenapa? Saya tanya. “Karena mereka tidak mau dipindah ke kota lain…” katanya.
 
Masalah itu sudah terjadi sejak saya masih kerja disana. Banyak orang bagus, tapi nggak punya nyali ditempatkan di kota lain. Jago kandang dowang. Akhirnya kami rekrut orang dari luar. Opportunity yang ada buat orang dalam, tersia-siakan.
 
Jaman now mah, mobilitas itu penting banget. Aliran manusia sudah sangat cair sekali. Nggak usah nunggu jaman robot untuk membuat profesi kita terancam. Kalau kaku, kita mati kutu. Hanya mereka yang luwes yang bakal bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan perusahaan.
 
Memangnya nggak boleh ngendon lokalan saja? Boleh. Tapi ketika perusahaan menuntut mobilitas, berikan. Kalau tidak juga tidak apa-apa sih. Hanya saja, kita cuman punya kerja. Bukan karir.
 
Sudah dua hal penting tuch. Satu, bahasaDua, keluwesanTiga apa? Inisiatif.
 
Jangan anggap remeh inisiatif. Banyak orang pinter, tapi mingkeeeeem aje. Banyak juga orang berpengalaman namun diaaaam aja. Sedangkan anak-anak muda; berkreasi tanpa henti. Akhirnya, bukan disrupsi yang menggusur karir profesional tuwek. Tapi anak-anak muda yang penuh inisiatif melampaui para seniornya.
 
Orang-orang tuwek itu masih dipake? Masih. Tapi hanya untuk kerja dowang. Kalau karir, mereka sudah jauh ketinggalan. So, tunjukkan; mana inisiatifmu? Maka karir itu akan menjadi milikmu.
 
Itu saja dulu ya. Intinya, karir kita masih ada. Walau para robot dan drone berdatangan ke dunia kerja kita.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment