Home / Artikel / Manfaat Seorang Pemimpin

Manfaat Seorang Pemimpin

 
Menjadi pemimpin itu mesti ada manfaatnya. Jika tidak, maka legitimasi kepemimpinannya bakal dipertanyakan. Anak buahnya, nggak bakal respek. Yang ada hanya gunjingan di belakang. Manut diluarannya. Tapi membangkang didalam hatinya.
 
Lantas, bagaimana caranya untuk menjadi pemimpin bermanfaat itu? Teorinya banyak. Tapi intinya hanya 2 hal saja.
 
Pertama, pahami apa fungsi seorang pemimpin. Kedua, penuhi fungsi-fungsi itu dengan sebaik-baiknya.
 
Cuma begitu saja. Maka seseorang bakal dinilai layak untuk memimpin. Dihargai. Dihormati. Dan dicintai. Minimal tidak akan ada yang mempertanyakan atau mempermasalahkan kepemimpinannya. Jika mampu memenuhi kedua hal itu.
 
Nggak bisa kita menuntut dihargai sebagai pemimpin, kalau fungsi-fungsi itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena anak buah memiliki hak yang hanya bisa terpenuhi apabila kewajiban kita dapat ditunaikan.
 
Contoh fungsi pemimpin itu apa? Ragam dan kedalamannya bergantung tingkat dan hirarki jabatan itu. Dan itu, satu paket dengan tanggung jawab serta kewenangan yang dipegangnya.
 
Tapi ada fungsi umum yang pasti tercakup dalam semua level kepemimpinan. Misalnya, fungsi mendidik dan mengembangkan anak buah. Semua pemimpin bagus pasti menjalankan fungsi ini tanpa kompromi.
 
Fungsi kontrol juga universal. Tapi, kita suka terkecoh oleh angka-angka. Contoh. Kita punya anak buah yang secara statistik hasilnya sesuai harapan. Tapi kita lengah terhadap ‘cara’ dia mencapai angka itu. Banyak sekali kejadian seperti itu. Dan ketahuan setelah kerusakannya tidak lagi bisa diperbaiki.
 
Contoh kongkrit. Seorang sales manager. Memuji-muji salah seorang salesman yang pencapaian targetnya bagus terus. Matanya fokus pada salesman yang jelek. Dipelototiii aja yang itu. Ndilalah, salesman bagus itu nggak betah. Keluar dan pindah pula ke perusahaan lain.
 
Ditinggal karyawan ‘bagus’ saja sudah menyakitkan. Tapi. Itu bukan bagian paling beratnya.  Belakangan ketahuan bahwa kepindahan itu ternyata meninggalkan segudang masalah. Rupanya, selama ini salesman ‘bagus’ itu melakukan pekerjaannya dengan cara-cara yang tidak semestinya. Dan dampak buruknya ‘diwariskan’ pada atasannya.
 
Hal itu bisa dicegah. Kalau saja sebagai pemimpin, atasannya menjalankan fungsi kontrol sebagaimana mestinya. Sehingga anak buah yang melenceng tidak melenggang dijalur bebas hambatan.
 
Selain fungsi-fungsi teknis itu, ada pula fungsi non teknis yang harus dijalankan pimpinan. Salah satunya, bersikap adil. Kelihatannya saja sepele. Tapi esensinya, sangat penting sekali.
 
Jangan mengira bahwa adil itu hanya dibebankan kepada pemimpin publik seperti presiden, gubernur, bupati atau walikota. Tidak. Adil adalah amanah yang wajib oleh setiap orang yang bergelar pemimpin untuk dipegang teguh.
 
Anak buah itu paling seneng pada atasan yang adil. Tidak diskriminatif. Atau membeda-bedakan orang hanya berdasarkan kesukuan atau kedekatan pribadi. Selain rasialis, hal itu juga berpotensi untuk menghilangkan objektivitas penilaian.
 
Kalau tidak adil, atasan atau pimpinan sebuah perusahaan mungkin tidak akan sampai mengalami tuntutan pelengseran seperti presiden. Tapi. Hati-hati. Karena ketidakadilan menimbulkan sikap penolakan dan anti pati bawahan. Bagaimana anak buah bisa loyal. Jika sebagai atasannya kita tidak bisa adil kan?
 
Tantangan bisnis makin besar. Persaingan semakin ketat. Dan situasi ekonomi juga semakin berat. Maka kita, membutuhkan anak buah yang semakin solid dan berkomitmen untuk berjuang bersama kita.
 
Dalam prinsip kepemimpinan, hal itu bisa diwujudkan melalui kaidah sederhana ini: “Do your part. I do mine.”
 
Bahwa anak buah dan atasan itu memiliki perannya masing-masing. Ketika anak buah menjalankan tugasnya sebagai anak buah. Dan atasan menjalankan fungsinya sebagai atasan. Maka semua pekerjaan selesai dengan baik. Sehingga memberi dampak yang baik pada bawahan. Juga baik dampaknya bagi sang atasan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment