Home / Artikel / Manfaat Mencela Orang Lain

Manfaat Mencela Orang Lain

 
Dalam artikel kali ini, saya akan membeberkan: apa saja manfaat mencela orang lain. Betul. Manfaat mencela orang lain. Tapi. Sebelum memulainya, saya minta Anda untuk menyimak apa yang dikatakan oleh alam bawah sadar Anda ketika membaca judul artikel ini.
Apakah Anda mendengarnya? Bahkan saya yang berjarak jauh ini mendengar apa yang terbersit dalam hati Anda. Begini dia bertanya;”Emang ada manfaatnya mencela orang lain?”
Jika hati nurani Anda masih sehat. Begitu pertanyaannya. Jika pertanyaan itu tidak muncul. Mungkin Anda perlu pergi ke ruang sunyi. Lalu dengarkan dengan telinga batin. Maka Anda akan temukan bahwa, orang yang jiwanya bersih; paham kalau mencela orang lain itu. Tidak ada manfaatnya.
Saya sering mendapatkan email dari orang yang tidak jelas. Menghina agama yang saya yakini. Padahal saya tidak pernah mengusik agamanya. Menghina nabi yang saya imani. Padahal, jika nabi yang orang itu imani benar utusan Tuhan; maka saya pun beriman pula kepadanya.
Lalu saya bertanya dalam hati; apa yang orang itu dapatkan dengan terus mengirimi saya pesan-pesan seperti itu? Ketika saya yakin dia tidak mendapat manfaat apa-apa, maka saya memutuskan untuk memaafkannya.
Di media sosial. Kita sering mendengar orang mencaci maki orang lain. Pelakunya, dari berbagai macam kalangan. Laki-laki dan perempuan. Orang awam, pengacara, pesohor, gubernur. Dsb.
Seolah caci maki itu sudah menjadi budaya bangsa kita saja. Atau… Mungkinkah itu pertanda bahwa sang pemilik lidah dan jemari tangan itu sedang kurang ‘fit’ jiwanya?
Saya tidak tahu. Tapi. Tak pernah kita mendengar Tuhan berfirman dalam kitab suci yang isinya mencaci maki mahluk yang Dia benci. Padahal, Tuhan pantas marah besar pada kita; mahluk bernama manusia yang ndablek ini. Dia murka pun tak menggunakan kata-kata kotor.
Maka manusia yang gemar menggunakan lidahnya untuk mencela orang lain, perlu introskepsi diri. Jangan-jangan sudah menjadikan dirinya sendiri jauh dari sifat Ilahi. Itu kalau masih percaya adanya Tuhan. Jika punya iman.
Kalau nggak percaya? Jika tak ada iman? Bila tak punya tuntunan? Gampang saja. Cukup renungkan hukum gaung. Setiap ucapan yang kita lontarkan, akan direkam alam. Lalu dikembalikan kepada kita. Seperti Anda berteriak di bibir lembah. Teriakan Anda, akan menggema kembali kepada Anda dalam gaungnya.
Gaung itu, tidak hanya dihasilkan lembah. Sasaran celaan Anda pun bisa. Contoh. Jika Anda menghina ayah orang lain, maka orang itu akan mengina ayah Anda. Jika Anda menghina agama orang lain. Maka orang akan menghina agama Anda.
Jika saya tak suka dikritik lalu memaki orang yang mengkritik saya di kampus sambil menghardiknya; ‘Balikin saja dia ke Pontianak!’ Misalnya.
Maka pendukung sang kritikus itu akan menghardik balik: “Kirim saja si Dadang balik ke Bandung!” Kan begitu. Dan kalau itu terjadi, maka istri saya akan kembali ke Pontianak. Sedangkan saya dideportasi ke Bandung.
Tapi kan mereka duluan yang mencela kita Dang! Tetap luruskan dia. Tapi jangan ikutan menjadi pemilik mulut kotor seperti dia. Kenapa? Wajar dia begitu, karena mungkin tidak ada tuntunan yang mengajarinya akhlak untuk bicara yang baik.
Kita? Tidak pantas bicara begitu. Kenapa? Kalau kita, ada tuntunan dalam Al-Qur’an untuk ‘qul khairon. Au litasmut…’ Juga banyak hadis Nabi SAW tentang itu kan.
Jangan mencela orang lain. Agama lain. Nabi orang lain. Keluarga orang lain. Etnis orang lain. Kalau pun ada ketidakcocokan, pahami saja sebagai dinamika hidup. Dunia kan tidak diciptakan seragam. Dan itu mulut. Baiknya dilatih untuk belajar berkata yang baik-baik. Atau diam saja.
Teruuzzz, mana pembahasan tentang manfaat mencela orang lain yang dijanjikan diawal tulisan ini? Emmh… sebentar. Setelah saya cari-cari, nggak saya temukan manfaatnya sama sekali. Sehingga, saya nggak punya bahan untuk menulis tentang itu. Jadi mohon maaf. Saya batal menulis artikel ini.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, And Public Speaker

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment