Home / Artikel / Mampu dan Mau Melayani

Mampu dan Mau Melayani

 
Bisnis itu adalah pelayanan. Tidak peduli kantor Anda bergerak dalam bidang apa. Pasti berhubungan dengan pelayanan. Maka semua orang yang bekerja disana dituntut untuk (1) mampu dan (2) mau melayani.
Kenapa mampu dan mau itu harus dipenuhi kedua-duanya? Karena, mampu itu untuk perusahaan. Sedangkan mau, itu untuk diri sendiri. Maksudnya? Begini.
Kemampuan kita dalam melayani pelanggan berefek kepada kinerja. Kemampuan yang tinggi adalah modal dasar tercapainya kinerja tinggi. Perusahaan meraup untung melalui pelayanan yang diberikan kepada pelanggannya oleh karyawan yang kompeten. Itu, soal kemampuan.
Kemauan, penting buat diri sendiri. Karena, tanpa kemauan yang kuat; punya kemampuan tinggi pun tidak akan dikonversi menjadi kinerja tinggi. Banyak orang yang sebenarnya kompeten. Tapi kemauannya rendah.
Makanya, kinerja mereka tidak mencerminkan kompetensinya. Terampil orangnya, tapi memble prestasinya. Yang begini ini, banyak jumlahnya. Dan biasanya, mereka mengira kalau yang rugi itu perusahaan. “Bukan gue,” katanya.
Salah. Perusahaan mah yang penting masih bisa cetak laba. Walau pun gak capai target gara-gara karyawannya males, tapi kalau masih bisa beroperasi; ya masih oke. Tinggal nanti membenahi menejmen dan strategi bisnisnya saja.
Nah, kata ‘membenahi’ itu mengandung efek balik kepada karyawan. Minimal, elo nggak bakal dapat reward bagus kalau kinerja tidak bagus kan? Itu minimal. Maksimalnya, elo bakal kehilangan pekerjaan.
“Siapa takut?! Tinggal hitung saja pesangonnya.” Nggak sedikit karyawan yang menantang seperti itu. Khususnya mereka yang sudah punya gaji besar. Dihitung-hitung, uang pesangonnya gede juga. Jadi malah ngarep biar di phk sekalian.
Sialnya, perusahaan juga nggak bodo. Dari pada bayar pesangon mahal, mending kasih posisi atau situasi yang nggak asyik buat karyawan itu. Tujuannya, biar dia gerah. Nggak betah. Dan akhirnya, keluar sendiri sambil gigit jari. Repot kan.
Ah, banyak kok perusahaan yang kasih ‘golden shake hand’. Lha iya. Tapi itu terjadi bukan karena karyawannya memble. Melainkan lebih kepada efisiensi atau restrukturisasi ketika hendak melakukan perubahan dalam strategi proses bisnisnya.
Karyawannya bagus. Tapi kebanyakan, misalnya. Nggak kebanyakan, tapi butuh jenis keahlian lain. Nggak perlu keahlian lain, tapi butuh yang usianya dibawah 50 tahun. Dalam kasus macam ini, golden shake hand berlaku. Di phk, malah kaya. Tinggal pandai-pandai mengelola dana yang diterima saja kan biar bisa hidup sejahtera.
Kalau karyawan memble? Dari mana rumusnya dikasih uang pisah nggak berseri plus bonus gede? Ngimpi aja kali. Sory ya. Gak bakalan dapat. Ini efek pahitnya dari kemauan. Efek positifnya apa?
Karyawan yang memiliki kemauan tinggi dalam melayani, minimal bakal merasa senang menjalani pekerjaannya. Di tengah padatnya kesibukan kerja, tingginya tuntutan perusahaan, dan kerasnya persaingan; rasa senang dalam hati itu sangat berarti sekali.
Bahkan digaji besar sekali pun kalau nggak senang mah orang nggak bakal betah bekerja. Apa lagi kalau cuman digaji pas-pasan. Digaji gede. Senang hati pula. Wah. Indahnya. Itu yang kita cita-citakan kan. Insya Alloh, kita bisa mencapainya melalui kemampuan dan kemauan; untuk melayani.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment