Home / Artikel / Makna Hidup Dalam Jabatan Kita

Makna Hidup Dalam Jabatan Kita

 
Mempekerjakan orang-orang hebat, tidak otomatis menjadikan sebuah perusahaan hebat. Karena keunggulan individu tidak selalu berlaku dalam lingkup dimana kebijakan, program atau pekerjaan dilakukan secara kolektif. Inilah yang menjadikan leaders alignment itu penting.
Banyak perusahaan yang memiliki sumber daya kelas wahid. Tetapi gagal membangun sinergi satu sama lain. Sehingga keunggulan individual itu tidak banyak manfaatnya. Apa lagi kalau karyawan kunci itu saling berkonflik. Wah, bisa berbahaya sekali.
Daya diri dan kapasitas besar kita akan lebih berdampak jika ditunjang oleh kesediaan untuk selaras dengan leader atau kolega lainnya di kantor.
Apakah hal itu mudah dilakukan? Tidak. Jika kita lebih mengutamakan ego. Tapi. Bakal ringan jika dalam bekerja, kita mengelola ego sendiri. Lalu belajar saling menyelaraskan dengan orang lain. Jadi, kuncinya adalah mengendalikan ego.
Kenapa mesti mengendalikan ego? Karena, ditempat kerja; kita tidak bisa menghindari terjadinya friksi dengan orang lain. Akan selalu ada gesekan dalam setiap interaksi. Apa lagi jika di kantor Anda, dipenuhi orang-orang hebat yang berego liar.
Ego cenderung mendorong manusia bersikap arogan atau meremehkan orang lain. Sehingga jika dihadapkan pada orang yang egonya liar juga, bakal terjadi benturan hebat. Perang ego pun tak terelakkan. Sayangnya, itulah yang sering terjadi di banyak organisasi dan perusahaan.
Lucunya. Sikap yang begini ini justru paling sering muncul di level jabatan yang tinggi. Supervisor. Menejer. GM. Direktur. Semakin tinggi hirarki, semakin besar desakan ego pribadinya.
Lalu, apa yang harus Anda lakukan? Satu. Sadarlah bahwa jabatan Anda itu adalah titipan. Anda kalau nggak dikasih jabatan itu juga nggak bakal sekeren itu kok. Supaya kepala Anda nggak kayak balon.
Kedua, pahami jebakan ego jabatan. Ketika masih keroco dulu, kita nggak belagu. Kenapa berubah polah setelah punya jabatan? Karena ego mengambil alih kontrol atas diri sendiri. Sebenarnya kita orang baik. Tapi karena ego jabatan itu, kemudian kita lupa daratan.
Ketiga. Menemukan makna hidup kita. Tuhan sudah memberi kita posisi bagus. Dan pendapatan yang memuaskan. Apa lagi yang kita cari selain bekal untuk mempertanggungjawabkan hidup melalui makna yang kita berikan?
Lantas, hidup seperti apa sih yang bermakna itu? Merujuk kepada sabda Rasulullah, hidup yang bermakna itu adalah hidup yang bisa memberi banyak manfaat kepada orang lain. Makin banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, makin bermakna pula hidup kita.
Semakin tinggi jabatan Anda, mestinya semakin besar peluang Anda untuk memberi manfaat kepada orang lain. Minimal kepada anak buah Anda. Jadi, dengan jabatan itu sebaiknya tidak mementingkan ego sendiri lagi. Melainkan fokus kepada manfaat yang bisa kita berikan pada anak buah kita.
Hendaknya, jabatan kita bukan hanya sekedar memberikan uang dan kehormatan. Melainkan menjadi sarana untuk membuat hidup kita lebih bermakna. Jangan sampai sebaliknya. Dengan jabatan itu, kita diterkam ego. Lalu meniru ketakaburan Iblis. Na’udzubillah.
Semoga dengan jabatan itu, kita menjadi pribadi rahmatan lil’alamin. Yaitu, pribadi yang makin banyak memberi manfaat. Baik kepada perusahaan melalui sinergi yang dibangun bersama orang-orang hebat lainnya. Terlebih lagi kepada orang-orang yang kita pimpin.
Catatan kaki:
Kehadiran orang hebat yang egosentris sering membuat gerah suasana. Sedangkan orang hebat yang rendah hati, menjadikan lingkungan kerja semakin menyenangkan dan menggairahkan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment