Home / Artikel / Letak Puncak Rasa Nikmat

Letak Puncak Rasa Nikmat

 
Untuk segala sesuatu yang berasa enak, kita ingin mendapatkannya dalam jumlah banyak. Iya kan? Biasanya sih begitu. Nggak lazim deh kalau minta sedikit untuk hal-hal yang bikin asyik. Tapi, coba kita renungkan lagi. Bukankah puncak rasa nikmat itu tidak terletak pada jumlah yang banyak?
 
Ketika hanya memiliki dalam jumlah yang sedikit. Kita bertemu dengan puncak rasa nikmat. Kita, bahkan sering kehilangan selera pada sesuatu yang melimpah ruah. Kenikmatannya berkurang bukan karena rasanya beda. Tapi, jiwa kita memberi kesan lain.
 
Di rumah saya, misalnya. Ketika ada makanan enak dalam jumlah yang sangat terbatas. Kami membaginya dalam potongan kecil-kecil. Setiap orang hanya kebagian 1 potong saja. Ooh… rasanya lezaaat sekali. Kadang piringnya sampai dicoleki dan dijilati. Nikmat….
 
Ketika Anda punya banyak uang. Seberapa sering sih koin seribuan berceceran seolah nggak ada nilainya? Setiap transaksi menggunakan lembar biru atau merah. Kembaliannya, digulung lalu dihempaskan begitu saja. Kusut. Lecek. Dan terlunta.
 
Kalau uang saya sedang pada ‘ngilang’. Tiba-tiba saja koin 500an pun bernilai sekali. Dikumpulin. Ditumpuk. Kemudian dihitung. Walau nilainya tidak tiba-tiba menjadi jutaan, tapi rasa dan aroma serta gemerincing koin-koin itu menelusup kedalam hati sanubari. Nikmaaaat rasanya. Yang nikmat itu, nggak berasa ketika dibuku tabungan masih ada 5 atau 6 dijit lainnya.
 
Alhamdulillah. Saya kebagian peran menjadi insan yang serba sedikit. Walau kadang Allah kasih agak banyakan dikit. Kenapa alhamdulillah? Karena ternyata begitulah cara Allah menebalkan rasa nikmat dalam anugerah yang diberikanNya.
 
Ada kalanya juga Allah kasih saya keleluasaan dan keberlimpahan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Enak banget memang. Hidup pun berasa tenang. Tapi, ternyata; kenikmatannya sering berasa kurang. Nikmat iya. Tapi ya cuman begitu aja….
 
Sekarang saya lebih merasakan esensi dari keterbatasan yang Allah berikan. Tidak semata-mata Allah menyempitkan kita dalam suatu urusan, melainkan untuk menambahkan nilai kenikmatan didalamnya.
 
Hal itu berlaku dalam semua sisi kehidupan. Apakah itu soal keuangan. Kesehatan. Waktu luang. Apapun. Kita sesekali diberi kesempitan oleh Allah. Bukan untuk menyulitkan. Atau membuat kita kesakitan. Tapi biar kita lebih bisa merasakan puncak kenikmatannya. Sampai tetes terakhir dalam regukan yang kita rasakan.
 
Memang sih. Kadang kita sampai sediiih rasanya. Tertekan jiwa dan perasaan kita. Bercucuran air mata kita. Bahkan mungkin sampai tercoreng nama baik kita. Tapi. Makin terasa perih di hati, makin terasa nikmatnya; apa yang masih tersisa dari kita.
 
Allah kadang mengambil beberapa hal dari kita. Direnggutnya yang kita suka. Dicabutnya ‘hak guna pakai’ kita. Sehingga kita tidak memilikinya lagi. Tapi. Dia tidak mengambil semuanya. Ada hal-hal esensial lainnya yang masih disisakan buat kita. Dan. Itulah saat dimana kita menyadari puncak nikmat dan lezatnya.
 
Seluruh indera kita tiba-tiba lebih peka. Hati kita lebih jernih. Rasa kita lebih tajam. Pikiran kita lebih mudah melihat berbagai makna dibalik banyak peristiwa yang selama ini mungkin sering tak hirau kita kepadanya.
 
Memang. Nafsu kita sering meminta lebih banyak. Tetapi, sekarang kita sudah lebih menyadari bahwa. Puncak nikmatnya tidak terletak pada jumlah yang banyak. Melainkan pada kemampuan kita untuk menyadari kehadirannya.
 
Dan. Karena kita lebih mudah merasakannya ketika tengah berada dalam keserbaterbatasan. Maka sesekali Allah kasih kita kesempitan. Biar kita sampai di puncak kenikmatan yang Dia hendak berikan kepada kita.
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
HR Development Consultant

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment