Home / Artikel / Lelah Ngurusin Anak Buah Nggak Becus

Lelah Ngurusin Anak Buah Nggak Becus

 
“Sudah dikasih tahu, tapi masih salah juga. Sudah diajari, tapi masih nggak bisa juga. Jadi musti gimana lagi?” Demikian kendala yang banyak dihadapi oleh atasan. Lelah banget ngadepin anak buah yang nggak becus! Mesti gimana lagi coba?
Hari minggu kemarin, saya mampir di sebuah masjid. Begitu sampai, disana banyak sekali kamera dan peralatan ‘aneh’ lainnya. Rupanya, sedang ada syuting sebuah sinetron. Karena tanggung, ya sudah kisera-sera saja. Mau kemana lagi kan?
Di tivi, sinetron yang kita tonton itu alur ceritanya sedemikian lancarnya. Setiap pemain menjalankan perannya dengan sempurna. Hebat mereka. Andai saja anak buah kita, kerjanya lancar seperti itu. Maka sebagai atasan, kita nggak usah lelah menyuruh dan mengarahkan mereka.
Di masjid itu. Saya mendapati perspektif lain tentang kompetensi anak buah kita. Cuplikan sinetron yang kita bilang lancar itu ternyata tidak dihasilkan dari satu atau dua kali syuting yang mulus. Melainkan hasil dari pengulangan belasan bahkan puluhan kali.
Untuk satu adegan berdurasi beberapa menit saja misalnya, dibutuhkan proses pengambilan gambar berkali-kali. Berulang-ulang. Selama berjam-jam. Bolak-balik dimulai dari awal lagi. Dan lagi.
Saya jadi berpikir, apa fair jika kita menuntut kesempurnaan dari anak buah kita hanya karena sudah mengajarinya satu atau dua kali saja? Proses belajar itu, butuh pengulangan. Supaya ilmu yang kita ajarkan diserap sebanyak mungkin. Dan keterampilan yang kita latihkan, dikuasai sebaik mungkin.
Saya mengagumi kesabaran sang sutradara. Dengan lantangnya berteriak ‘action’ dan ‘cut’. Setiap sebelum ‘action’ itu, dia mengarahkan sang aktor. Dan setiap habis bilang ‘cut’ diulanginya lagi pengarahan itu. Sampai kualitas adegan yang dilakukan sang aktor memenuhi kriteria standarnya.
Ini sikap mental yang dibutuhkan oleh setiap atasan lho. Sikap yang mendorongnya untuk terus melatih dan mengarahkan anak buahnya hingga mampu menghasilkan kinerja terbaik yang diinginkannya.
Tapi kan lelah juga Dang, kalau mesti terus-terusan mengajari anak buah! Emangnya kita nggak punya kerjaan lain apa?! Masak setiap kali mau mengerjakan sesuatu mesti diarahkan melulu.
Benar. Untuk penugasan atau pekerjaan yang sama, nggak perlu terus diarahkan dan diajarkan. Itulah sebabnya, atasan harus melatih anak buahnya sampai tidak harus diarahkan lagi. Supaya nanti ketika mengulangi pekerjaan itu, mereka bisa sendiri.
Sudah diajari. Tapi bego lagi. Begi lago. Nah, itu artinya proses belajar dia belum sampai ke level benar-benar bisa. Seperti naik sepeda saja. Jika belajarnya nggak sampai bisa, skillnya tidak direkam sampai tua. Coba sampai bisa. Sampai kapan pun kita tetap bisa.
Anak buah saya kan bukan orang baru Dang. Masak mesti terus diajari juga sih?!
Untuk penugasan baru, memang anak buah kita mesti belajar hal baru. Jika tidak, bakal terjadi gap antara kompetinsi yang sudah dikuasainya dengan tuntutan penugasan yang didapatkannya.
Dalam syuting itu, saya melihat ada artis senior yang sudah malang melintang didunia sinetron. Penggemarnya banyak banget. Khususnya ibu-ibu. Karena, memang bagus banget sih actingnya. Menurut ibu-ibu loh ya.
Tapi ditempat syuting itu, dia beberapa kali melakukan kesalahan. Dan sang sutradara, dengan telatennya memberikan pengarahan berulang kali. Sampai adegannya dinilai layak tayang.
Begitu ternyata hubungan antara atasan dengan bawahan mesti dibangun. Jika ingin agar team kita mempunyai kinerja yang bagus. Sebagai atasan, kita mesti telaten. Untuk mengarahkan anak buah supaya bisa mencapai kualitas kerja terbaiknya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment