Home / Artikel / Latihan Menjadi Seorang Peminpin

Latihan Menjadi Seorang Peminpin

 

Banyak orang yang ingin tampil menjadi pemimpin bagi orang lain. Entah karena memimpin itu memang enak. Atau karena perlakuan istimewa yang bakal didapat. Atau, ya kepengen aja jadi pemimpin. Makanya, orang pada rebutan untuk menjadi pemimpin. Baik dikantoran. Maupun di musim pilkada serentak kayak kemarin.

 

Pertanyaannya; apakah mereka yang berebut jabatan itu punya kompetensi untuk memimpin?

 

Pertanyannya salah. Mestinya begini; “Apakah kita memiliki kompetensi untuk memimpin?” Sudah seharusnya kita lebih konsern kepada kualitas diri kita sendiri daripada mempertanyakan kemampuan orang lain.

 

Tanya diri sendiri dulu sebelum ambil pusing urusan orang lain. Lalu, kalau ternyata kita sendiri pun belum mampu untuk menjadi pemimpin, piye? Ya belajar dong. Biar tidak nggak bisa terus. Dari gak bisa menjadi bisa. Butuh menempuh proses belajar.

 

Namun, jangan belajar kepada sembarang orang. Kalau mau belajar kepemimpinan, bergurulah kepada yang terbaik. Terus, siapa guru kepemimpinan yang paling t.o.p.b.g.t? Trainer leadership? Bukan.

 

Lha iya, siappaaaa?!

Para Nabi, my friend. Belajarlah dari para Nabi. Karena mereka dinobatkan Tuhan sebagai pemimpin umat. Bukan melalui sikut-sikutan antar karyawan. Bukan lewat kampanye bin jual beli suara. Juga bukan lewat pemilu yang hasilnya sudah diborong cukong sejak kertas suara belum dicoblos.

 

Saya membaca dalam berbagai literatur bahwa ternyata, hampir – jika tidak bisa disebut semua – hampir semua nabi pernah menjadi gembala domba. Nabi Isa Almasih Putera Maryam, misalnya. Semua orang tahu beliau seorang penggembala.

 

Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Beliau pun adalah seorang gembala dalam pengertian yang susungguhnya. Nabi Ibrahim, memiliki banyak domba. Dan Nabi Musa, menjadi penggembala dalam pelariannya dengan upah menikahi puteri tuannya.

 

Saya tidak tahu apakah Nabi Sulaiman yang lahir sebagai anak raja Nabiyullah Daud juga pernah menjadi gembala. Tapi jelas jika hampir semua nabi pernah menjadi penggembala.

 

Dadang Kadarusman, bukan Nabi. Tapi dimasa kecilnya, juga adalah gembala domba. Then why is it so importante to become a gembala?

 

Saya menemukan bahwa menjadi gembala domba itu merupakan latihan untuk memimpin manusia. Semacam LDK. Latihan Dasar Kepemimpinan.

 

Perhatikan bagaimana gembala mengarahkan dan menuntun domba-dombanya. Perhatikan bagaimana dia merawatnya. Memandikannya. Mengantarkannya ke padang rumput yang subur. Melindunginya dari para serigala.

 

Begitu seorang penggembala menjalankan amanahnya kepada para domba. Mengapa? Karena prinsip kepemimpinan yang diajarkan Allah kepada para Nabi adalah ‘TO SERVE’. Makanya, para Nabi itu melayani. Bukan dilayani. Kalau kebanyakan pemimpin dimuka bumi saat ini; to serve atau being served? Yutel mideh.

 

Pemimpin itu tanpa pamrih. Anda ngarepin pamrih apa dari kambing? Bilang ‘makasih’ aja gak bisa. Maka bagi para Nabi, tidak ada imbalan yang diharapkannya kecuali dari Allah ta’ala.

 

Menggembala domba juga merupakan profesi kepemimpinan tingkat gak bergensi. Tapi Nabi harus menjalaninya. Kalau ingin menjadi pemimpin bagus, kita juga mesti belajar memimpin dari tingkatan yang paling rendah. Jangan maunya langsung mentereng.

 

Ente, ngebet jadi bupati misalnya. Tapi seumur hidup ogah jadi ketua RT. Gak aci. Demen jadi anggota DPR. Tapi menghindar ketika tetangga meminta jadi sekretaris RT. Itu contoh. Yang bertolak belakang dengan teladan para Nabi.

 

Ente, mau jadi pemimpin di kantor. Minimal di unit kerja ente kan. Ya minimal coordinator atau supervisor. Pokoknya menjadi pemimpin, yang menandakan bahwa karir ente bagus. Maka mulailah dari tingkatan yang paling bawah. Yaitu, mempraktekkan ilmu kepemimpinan sejak ente berada pada posisi di bawah. Bantu teman ente yang masih belum paham kerja bener itu seperti apa. Pikirkan, gagasan apa yang bisa membuat perusahaan makin maju. Tanpa perlu minta tambahan bayaran.

 

Begitu kira-kira dulu para Nabi memulai proses kepemimpinannya. Ente, mau jadi pemimpin bagus nggak? Kalau iya, belajarnya ya kudu kepada para Nabi itu. Karena cuman para Nabi, yang dibimbing langsung oleh kuasa Allah. Sehingga pemimpin yang belajar kepada Nabi, bakal punya karakteristik “Atii’ullooha. Wa-atii’rasuuul…”

 

Maksudnya, dia pasti akan memimpin manusia dengan kaidah-kaidah yang sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulnya. Insya Allah, ente salah satu calon pemimpin masa depan seperti itu. Pemimpin yang bukan memperebutkan kursi jabatan. Melainkan pemimpin, yang mengabdikan dirinya untuk kebaikan orang lain.

Catatan kaki:

Guru kepemimpinan terbaik itu adalah para Rasul. Karena, mereka diutus Tuhan untuk memimpin umatnya. Bergurulah pada peninggalan para Nabi. Maka Insya Allah, kita akan menjadi pemimpin yang benar-benar berkualitas tinggi.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment