Home / Artikel / Latihan Memandang Wajah Alloh

Latihan Memandang Wajah Alloh

 
Memandang wajah istri, atau suami, atau anak-anak yang kita kasihi itu…berjuta rasanya. Lantas, bagaimana seandainya kita bisa memandang wajah Alloh?
 
Adalah Nabi Musa a.s yang mengajukan permintaan untuk muwajahah dengan Alloh. ‘Kamu tidak akan sanggup,’ demikian respon yang didapatnya.
 
Hanya nabi Musa-kah yang memiliki keinginan untuk bertemu Tuhan? Anda, tidak memiliki keinginan itu? Saya. Ingin sekali. Saya ingin menatap wajahNya. Namun saya tahu diri. Jika seorang nabi pilihan saja tidak mampu menatap wajah Tuhan. Apalah lagi manusia biasa seperti saya.
 
Tapi. Tepat satu pekan yang lalu. Ba’da sholat Jumat. Saya berkata ‘Ya Alloh, I want to see you…. I want to see you ya Alloh.’
 
Semakin sadar bahwa itu tidak mungkin, justru semakin tidak terbendung keinginan itu. Lidah ini teruuus saja berucap begitu disepanjang perjalanan dari masjid. Dan hati ini, entah kenapa, sedemikian inginnya melihat wajah Alloh…
 
Sampai disebuah lengkungan jalan. Saya melihat sebatang pohon rindang. Bukan pohonnya yang menarik perhatian. Melainkan seseorang yang sedang berjalan dibawahnya. Mata saya, terpaku kearahnya.
 
Lalu. Orang itu berhenti. Menatap sebuah objek dibawah pagar. Sebentuk mangkok plastik dengan tutup yang setengah terbuka. Lantas dia membungkuk. Mengambilnya. Kemudian…, mendekatkan mangkok itu ke…. mulutnya. Ya Allah. Dia mereguk isinya!
 
Saya mendekatinya. Masih saya lihat beberapa helai mie udon basi dalam mangkok itu. Melihat pemandangan itu. Berjuta rasanya. Lunglai jiwa saya. Lumer hati saya. Lemah lutut saya. Tidak kuat menyaksikannya. Bahkan nabi Musa pun tak kuasa mandang wajah  Alloh. Sedangkan saya. Melihat kejadian seperti ini saja sudah tidak kuasa.
 
Anda. Mungkin pernah melihat kejadian mengharukan. Yang membuat tubuh Anda lunglay. Hingga sekujur badan terasa lemas. Saat pertama kali melihat darah. Ketika mengetahui orang terkasih terkena musibah. Waktu menyaksikan kejadian yang melampaui kekuatan kita untuk melihatnya.
 
Hari ini Alloh menjawab permintaan saya. ‘Ya Alloh. I want to see you.’ Bukan dengan memperlihatkan dirinya. Karena pasti tak akan kuat. Melainkan dengan menunjukkan bahwa; ada begitu banyak fenomena di dunia yang menggambarkan sifat-sifatnya.
 
Inna fii kholqis samaawaati wal ardi wakhtilaafil laili wan nahaari la-aayaati li-ulil albaaab.
 
Merenungkan apa yang kita saksikan. Adalah hal terdekat pada peristiwa melihat Tuhan. Bukan dengan mata lahir. Melainkan dengan mata batin.  Menyaksikan betapa hidup kita dipenuhi dengan warna yang beraneka. Indah. Cerah. Murung. Mendung. Semuanya ada. Dan Tuhan, ada disana.
 
Namun selama ini, kita hanya fokus pada warna diri kita sendiri. Maka ketika bahagia, kita terlena dengan kebahagiaan sendiri hingga lupa hak dan nasib orang lain.
 
Dan ketika sedang susah. Kita terpaku kepada kesusahan saat ini sehingga lupa bahwa kemarin kita pernah lebih beruntung dari orang lain. Padahal besok. Boleh jadi Alloh kembali menggulirkan roda kehidupan ini ketempat yang lebih tinggi.
 
Kita sering lupa bahwa disekiling kita, bertebaran isyarat dari Alloh. Sehingga memandang dunia, seolah latihan memadang wajah Alloh. Ada Alloh disana. Namun kita tidak melihatnya. Ini adalah latihan.
 
Latihan untuk apa? Latihan untuk memandang wajah Alloh yang sebenarnya. Rasulullah, telah mengabarkan bahwa. Alloh akan menampakkan wajahnya kepada orang-orang mu’min diakhirat kelak. Yaitu orang yang menjaga kesucian aqidah. Dan memiliki kepatuhan pada perintah dan larangan Alloh.
 
Bagi seorang mu’min. Memandang wajah Alloh adalah cita-cita yang paling tinggi dalam hidupnya. Maka mu’min sejati. Tidak akan pernah menukarkan akidahnya dengan apapun yang melanggar aturan Alloh dalam Al-Quran. Karena baginya, memandang wajah Alloh. Lebih utama dari dunia dan seisinya. Semoga kita termasuk didalamnya.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment