Home / Artikel / Latihan Bersaing dan Berlapang Dada Menerima Kekalahan

Latihan Bersaing dan Berlapang Dada Menerima Kekalahan

 
Hidup kita, diliputi oleh persaingan. Coba saja perhatikan. Segala sesuatu mesti diperjuangkan melalui persaingan. Makanya, daya saing itu penting bagi semua orang.
Dikantor misalnya. Kita harus bersaing dengan kolega baik internal maupun eksternal. Bahkan dalam konteks tertentu, menentukan soal hidup dan mati kita. Bayangkan, apa yang terjadi jika tidak memiliki daya saing?
Sering saya bertanya; gimana caranya supaya punya daya saing tinggi? Kesimpulan sementara saya; perlu banyak latihan.
Sejak kapan kita latihan bersaing? Sejak proses pembuahan sel telur dalam rahim ibunda. Sebelum lahir pun kita sudah diceburkan dalam kancah persaingan. Maka tidak berlebihan kalau anak-anak pun harus sudah belajar bersaing.
Urusan memilih sekolah, misalnya. Seru sekali. Khususnya bagi yang tinggal di lokasi yang berbatasan dengan Jakarta seperti kami. Sekolah bagus hanya berjarak 2 atau 3 kilometer saja dari rumah kami. Tapi karena KK kami bukan DKI, maka kami hanya boleh memperebutkan kursi 5% saja.
Beda dengan calon anak didik ber-KK DKI yang mendapat jatah 90% kursi di jalur umum dan jalur lokal. Sekalipun rumah mereka lebih jauh jaraknya ke sekolah dibandingkan rumah kami. Fair? Ini soal realitas hidup. Bukan soal fairness.
Saya tahu, ada ‘cara tertentu’ untuk bisa masuk jalur 90% itu. Tapi, saya memilih untuk melatih anak-anak mendapatkan tempat sekolah itu dengan cara ‘apa adanya’. Walau pun berat, tapi ini soal mendidik integritas dan disiplin diri. Bukan sekedar meraih kursi di sekolahan.
“Kalau kalian mau masuk ke sekolah di Jakarta, kalian harus berjuang….” demikian saya menantang ketiga anak kami. Berat banget memang. Tetapi begitulah. You want it? You fight for it. You earn it.
Orang dewasa seperti kita, merasakan betul bagaimana beratnya persaingan. Di kantor. Di pasar. Di bisnis apapun. Dan anak-anak kita, mungkin akan menghadapi kancah persaingan yang lebih sengit lagi. Mungkin.
Tapi, apakah dijamin menang setiap kali bersaing? Tidak. Kita semua, pernah tersingkir dari persaingan. Saya, sering sekali mengalami kekalahan. Orang lain juga. Bagaimana dengan Anda? Sama sajalah kan.
Kita lihat. Betapa banyak orang yang tidak berlapang dada menerima kekalahannya. Tak jarang muncul berupa sifat dengki. Iri hati. Bahkan berusaha mencari-cari cara untuk menjatuhkan atau menfitnah pesaingnya.
Itu yang agresif. Bagaimana dengan yang pasif? Mereka mengurung diri. Murung. Sedih dan resah berkepanjangan. Bahkan tak sedikit yang mengakhiri hidupnya. Gara-gara tidak siap menerima kekalahan dalam persaingan.
Maka. Anak-anak kita perlu dilatih kalah. Biarkan saja mereka merasakan bagaimana kalah itu. Lalu berlatih menyikapinya. Sedih? Boleh. Tapi sikap lapang dada akan menghapus sedih mereka. Dan yang lebih penting lagi, akan menyingkirkan dengki maupun perilaku tidak sportif lainnya.
Ketiga anak saya, tidak berhasil masuk ke sekolah favorit di Jakarta. Tidak usah menggugat;”Coba KK kita Jakarta, Yah….” Tidak. Kami tidak memilih sikap seperti itu.  Terima saja. Masih ada sekolah pilihan kedua dan ketiga.
Kalah itu indah. Jika kita memahami maknanya. Efeknya; SALUT kepada pesaing lain dari luar DKI yang lebih unggul itu. Dan RESPEK pada peserta lain yang – maaf ya – tergeser namanya dari daftar siswa yang diterima di sekolah. KALIAN PARA KSATRIA!
Kita, berharap anak-anak mempunyai daya saing tinggi dan berjiwa sportif kelak jika sudah dewasa.
Semoga, kita bisa jadi teladan bagi mereka. Tentang belajar cara bersaing. Dan cara menyikapi kekalahan dalam persaingan. Sekali pun boleh jadi, untuk bisa begitu; kita butuh belajar lagi. Hayu.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment