Home / Artikel / Kontribusi Pendahulumu

Kontribusi Pendahulumu

 
Kepemimpinan kita, merupakan sambungan dari kepemimpinan sebelumnya. Makanya ada istilah ‘estafeta tampuk kepemimpinan’ kan. Makna filosofis dari istilah itu adalah; seorang pemimpin itu meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh para pemimpin pendahulunya.
Maka menyombongkan diri atas prestasi yang diwujudkan pada masa kepemimpinan kita, bukan sekedar bentuk takabur. Tapi wujud dari sifat tidak tahu diri. Seorang leader yang baik, paham bahwa eksistensinya merupakan kelanjutan dari eksistensi pemimpin pendahulunya. Begitulah seorang pemimpin yang berakhlaq mulia.
 
Namun. Zaman sekarang, kita makin jarang mendengar pemimpin menyebut jasa pendahulunya. Yang kadang kita dengar malah ungkapan tak patut seperti ini; “‘pemimpin’ sebelumnya ngapain aja?”
 
Tidak sedikit orang yang dipromosi, lalu berhasil membukukan prestasi dalam jabatannya. Kemudian, merasa seolah pencapaian itu hasil dari kepemimpinan dirinya semata. Tidak ada hubungannya dengan pejabat sebelumnya. Walau pun sebenarnya dia hanya meneruskan project yang sudah sejak lama digagas oleh pendahulunya.  Maka cara menyikapinya sederhana: jangan ditiru.
 
Professor Planck mengirim utusan untuk menemui Einstein. Lalu mengucapkam selamat sambil menyebutnya sebagai ‘sang penemu teori relativitas.’
 
Enstein menjawab; “Saya bukan penemu teori relativitas. Hanya melakukan beberapa perbaikan saja dari teori itu.” Demikian contoh positif yang perlu kita tiru.
 
Tak seorang pun meragukan pencapaian Einstein. Namun Einstein, tidak mengabaikan begitu saja usaha Gelileo dalam gagasan tentang relativitasnya. Bahkan dalam kepustakaan klasik Islam, teori relativitas sudah muncul dalam karya Al-Kindi lebih dari 1000 tahun sebelumnya.
 
Sekarang, kita cenderung orang melupakan jasa para pendahulunya. Seolah tidak ada kontribusi para pendahulu pada pencapain kita. Zaman sudah dipenuhi orang yang terlalu percaya diri sehingga lupa bahwa tidak mungkin dia sampai kepada pencapaian hari ini, andai saja para pioneer tidak meletakkan fondasi yang kokoh untuk kita jadikan pijakan. Agar kita bisa melompat lebih tinggi.
 
Kenapa pencapaian para pendahulu kita tidak setinggi kita kini? Karena peran mereka, adalah mencurahlan segenap kemampuannya untuk membangun landasan yang lokoh bagi kita. Agar kita bisa berpijak lebih kuat. Sehingga kita bisa lebih tinggi dalam melompat. Kan gitu.
 
Demikianlah etika dalam bekerja dan berkarya. Kita ada, antara lain dalam zaman yang dibangun dari jerih payah dan keringat para pendahulu kita. Kita mencapai sesuatu, dengan alat dan sarana yang diciptakan oleh para pendahulu kita. Kita mengerjakan proyek, dari titik terjauh yang diukirkan oleh senior-senior kita.
 
Maka sesungguhnya kita; tidak benar-benar memulainya dari nol. Sebab apa yang kita sebut titik nol itu, merupakan titik 100 dari langkah yang sudah dibangun oleh peran para pendahulu kita.
 
Kita ini meneruskan langkah mereka. Sehingga keberhasilan ini. Bukan semata-mata keberhasilan zaman kita. Melainkan keberhasilan kumulatif sepanjang sejarah umat manusia.
 
Lantas, untuk apa kita memahami hal ini? Untuk menghormati mereka yang sudah mati? Bukan. Untuk kita yang masih hidup. Supaya tidak lari dari kodrat sebagai mahluk sosial. Yaitu mahluk yang saling berkontribusi satu sama lain.
 
Supaya juga tidak kecewa jika sudah lelah-lelah berbuat bagi orang lain, ternyata mereka lupakan kontribusi kita. Wajar. Jika kita abai kepada para pendahulu kita. Maka kelak kita akan diabaikan pula oleh generasi penerus kita.
 
Dan yang lebih prinsipil lagi adalah; menjaga nilai ibadahnya. Yaitu memberi manfaat kepada orang lain DENGAN tidak mengharapkan apapun selain penilaian yang baik disisi Tuhan sesuai firmannya; “Faman ya’mal mitsqooladzarratin khoiro yaroh…”

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment