Home / Artikel / Kompetensi Seorang Atasan

Kompetensi Seorang Atasan

 
Pada suatu hari boss menelepon menejernya. “Tolong utus 1 anak buahmu untuk diperbantukan dalam team khusus saya,” demikian katanya. Saat ini memang sedang ada proyek besar di perusahaan. Lalu, sang menejer pun segera mengirim 1 anak buah sesuai permintan bossnya.
 
Keesokan harinya, pak boss menelpon lagi. Lalu;”Bagaimana kamu ini,” hardiknya. “Masa kamu tugaskan anak buah yang bodoh seperti ini untuk membantu saya…” Dari cara bicaranya ketahuan kalau beliau kesal sekali.
 
Mendengar omelan bossnya, sang menejer santai saja. Lalu; “Ah, Bapak ini bagaimana,” timpalnya. “Masa baru bekerja satu hari saja dengan dia kok Bapak sudah menelepon saya,” tambahnya. “Saya sudah bertahun-tahun bekerja dengan orang itu, tak pernah sekalipun saya mengeluhkannya kepada Bapak….”
 
Cerita konyol itu tidak terjadi dikantor Anda. Maybe. Tapi ada begitu banyak atasan yang mempunyai anak buah dibawah standard. Meskipun tidak puas dengan kinerjanya, namun terpaksa harus terus bekerja dengannya.
 
Sebenarnya, punya anak buah yang kurang kompeten itu normal loh. Yang nggak normal adalah; miara ketidakkompetenannya itu. Ngapain dipiara ketidakkompetenannya?
 
“Jadi harus dipecat orang itu?” Hey, bukan orangnya yang mesti dibuang. Tapi ketidakkompetenannya. Kalau kita mesti memecat setiap orang yang tidak kompeten, maka kita tidak akan pernah punya karyawan fresh graduate. Dan itu artinya, kita sendiri pun gak bakal pernah diterima kerja. Toh Anda pernah fresh graduate juga kan?
 
Lucunya, kebanyakan atasan mengatasi masalah itu dengan cara menutupi kelemahan anak buahnya melalui kerja keras dirinya. Makanya, cape banget kerjanya. Karena selain harus mengerjakan tugasnya sendiri, dia juga harus menutupi kekurangan anak buahnya. Bayangin kalau anak buah yang gak kompeten itu banyak. Gempor dia.
 
Kenapa punya anak buah nggak kompeten kok disebut normal? Karena kita tidak selalu bisa merekrut orang yang sudah jadi. Seringnya malah anak buah baru kita adalah orang-orang mentah. Seperti fresh graduate itu misalnya. Atau orang yang direkerut dari divisi lain. Kalau ngarep mereka langsung bisa, ya nggak fair dong.
 
Lha tapi sudah tahunan kok masih nggak kompeten juga? Nah soal itu, jangan langsung nyalahin anak buah juga. Introspkesi dulu; apa yang sudah Anda lakukan untuk mendidik dan melatihnya. Karena kalau Anda merekrut orang yang tepat, maka dengan didikan yang baik; pasti dia jadi terampil.
 
Ironis memang kita ini. Ngomel terus karena anak buah tidak kompeten. Tapi kita sendiri tidak kompeten dalam mengentaskan ketidakkompetenan anak buah. Maka salah satu kompetensi yang mesti dimiliki oleh seorang atasan adalah; memfasilitasi proses pengembangan sehingga anak buahnya yang tidak kompeten bisa jadi kompeten.
Catatan kaki:
Kalau anak buahnya tidak kompeten, maka atasan mesti bertanya kepada dirinya sendiri; “Apakah saya sudah punya kompetensi untuk mengentaskan ketidakkompetenan anak buah saya?”

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment