Home / Artikel / KOMITMEN UNTUK MELAYANI

KOMITMEN UNTUK MELAYANI

 

Misalnya Anda punya produk atau jasa ‘limited edition’. Sedangkan peminatnya banyak. Kepada klien seperti apa Anda akan menjualnya? Yang berani membayar paling mahal? Sah. Memang begitu hukum ekonomi dalam bab ‘supply and demand’ kan?

Tak sedikit pedagang yang membatalkan kesepakatan jual beli karena ternyata ada pembeli yang berani membayar lebih. Banyak karyawan yang langsung hengkang karena ada employer yang mau menggaji lebih tinggi. Kalau trainer yang membatalkan jadwal training karena ada klien yang berani membayar mahal, ada nggak? Emboh.

Saya sedang menyiram tanaman, ketika ibu-ibu pada mengerubuti tukang sayur. Nggak berniat menguping. Tapi suara mereka beberapa desibel lebih tinggi dari level tidak kedengaran orang lain. Jadi ya, masuk deh ke telinga.

Intinya, tukang sayur itu memiliki suatu komoditi yang sangat terbatas. Dan ada seorang ibu yang ingin memborongnya. “Kalau ibu beli semua, bagaimana dengan pelanggan lainnya?” Demikian kata tukang sayur itu.

Deg. Saya tertegun. Lazimnya, seorang penjual akan senang jika barang dagangannya cepat laku. Kerjaan jadi gampang. Dan langsung dapat untung. Kenapa pusing dengan pelanggan yang lain?

Kejadian itu seperti sengaja Tuhan sodorkan kedepan batang hidung saya. Mungkin Dia hendak mengajari saya tentang komitmen pelayanan terhadap para klien saya. Supaya tidak main-main dengan komitmen yang sudah dibuat.

Kalau kita sudah memberikan komitmen kepada orang lain, maka tutuplah mata dan telinga dari berpaling pada peluang lain. Meskipun ‘angkanya’ lebih tinggi? Iya.

Kenapa? Satu, kita mesti malu kepada tukang sayur yang sedemikian gigihnya menjaga komitmen kepada para pelanggannya. Sekarang saya pun paham, kenapa dia paling dicintai ibu-ibu dibandingkan tukang sayur lainnya.

Kedua, begitulah yang Tuhan perintahkan kepada kita. “Yaaaa ayyuhalladziina aamanuu.” Demikian Allah berfirman. “Aufuu bil-‘uquuud…” Wahai orang-orang yang beriman, tunaikanlah janji-janji kalian.

Tapi Dang, hukum Tuhan itu bertentangan dengan hukun ekonomi! Keliru, jika Anda mengira demikian. Salah besar. Ingatkah Anda bahwa hukum ekonomi membahas juga tentang ‘sustainability’? Hubungan yang bukan cuman sekali transaksi. Melainkan berkesinambungan.

Perintah Tuhan untuk memenuhi komitmen itu adalah fondasi terciptanya reputasi kita. Membawa kita kepada trust dari pelanggan, sehingga mereka tidak ragu untuk terus menjalin hubungan jangka panjang.

Betapa banyak orang yang dijauhi, dihindari, bahkan di black list karena dikenal sebagai orang yang suka melanggar komitmen? Itu menunjukkan bahwa kita semua, suka banget pada orang-orang yang berpegang teguh pada komitmennya.

Pembeli suka pada pedagang yang berkomitmen. Atasan suka pada anak buah yang bekomitmen. Anak buah suka pada atasan yang berkomitmen. Istri suka pada suami yang berkomitmen. Suami. Suka banget pada istri yang berkomitmen.

Kenapa? Karena memegang komitmen merupakan salah satu ciri keilahian. Makanya, sehabis berdoa kita mengatakan “Innaka Laa Tukhliful Miii’aaad…” Allah tidak pernah melanggar komitmennya. Bagaimana dengan kita?

 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment