Home / Artikel / Kisah Penjual Sepatu

Kisah Penjual Sepatu

 
Kita semua, sering sekali menghadapi situasi yang sama dengan orang lain. Di kantor misalnya. Kita punya atasan yang sama. Tantangan yang sama. Target yang sama. Suasana dan lingkungan kerja yang sama. Tapi. Situasi yang sama itu, bisa menimbulkan akibat yang berbeda. Kok bisa? 
Tadi malam, yang mendapat giliran kultum di rumah kami adalah Aci. Anak perempuan kedua saya yang sekarang sudah kelas 3 SMP. Kali ini, dia memilih tema tentang ‘Kisah Penjual Sepatu’.
“Aku mau menceritakan kisah tentang 2 penjual sepatu ya,” demikian dimulainya kultum itu. “Sama bossnya, mereka ditugaskan untuk menjual sepatu ke sebuah daerah yang belum dikenal.” Lanjutnya. “Mereka diutus untuk mempelajari tentang sepatu jenis apa yang akan laris disana.”
Sesampainya di tempat tujuan, kedua penjual sepatu itu kaget. Ternyata; semua penduduk disana sudah terbiasa bepergian tanpa mengenakan alas kaki. Mereka dapat menjalani kehidupan ‘normal’ tanpa harus tergantung pada sepatu. Setelah mendapatkan semua data yang diperlukan, mereka pun kembali menemui bossnya.
Dalam rapat dengan pak Boss,  mereka mempresentasikan hasil temuannya. Tidak lupa memberikan kesimpulan dan saran untuk tindakan selanjutnya.
“Masyarakat disana tidak mengenal sepatu boss,” demikian penjual pertama memulai presentasinya. Lalu dia menjelaskan panjang lebar hasil temuannya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Tanya sang boss.
“Sebaiknya, kita tidak usah berjualan sepatu disana.” Jawab penjual itu. “Karena usaha kita bakal sia-sia saja.” Tambahnya.
Pak boss pun manggut-manggut. Lalu dipersilakannya penjual kedua untuk mempresentasikan hasil penyelidikannya.
“Masyarakat disana tidak mengenal sepatu boss,” demikian penjual kedua memulai presentasinya. Lalu dia pun menjelaskan panjang lebar hasil temuannya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Tanya sang boss kepada penjual kedua.
“Sebaiknya, kita membangun pabrik sepatu disana.” Jawab penjual itu. “Karena peluangnya sangat besar.” Lanjutnya. “Kita bisa menjadi penjual sepatu pertama. Dan kita bisa meraih sukses besar disana.” Tambahnya.
Boleh jadi, terhadap hal yang sama itu, cara pandang kita sungguh jauh berbeda. Dan tahukah Anda, bahwa cara pandang kita; menentukan dampak dan akibatnya?
Ya. Memang demikianlah adanya. Mengapa? Karena. Bukan situasi yang kita hadapi yang menentukan hidup kita. Melainkan cara kita menyikapi situasi itulah yang menentukan apa tindakan kita. Sedangkan tindakan, menentukan hasilnya.
Maka apapun situasi yang kita hadapi. Atasan yang jutek. Teman yang cuek. Gaji yang kecil banget kalau naek. Lingkungan kerja yang berasa sumpek. Keadaan yang bikin enek. Hey. Tidak akan berpengaruh buruk kepada kita. Jika kita menyikapinya dengan cara yang memungkinkan kita, memetik manfaat darinya. Kita praktekkan yuk.
N.B: Anda berhak mendapatkan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas Anda loh. Maka Anda boleh mengusulkan kepada atasan, agar mengadakan training untuk Anda dan teman-teman Anda. Pilih trainer yang cocok menurut Anda.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment