Home / Artikel / Kiat Jitu Mengatasi Karir yang Terhalang Orang Lain

Kiat Jitu Mengatasi Karir yang Terhalang Orang Lain

 

Dikantor, kadang ada orang yang karirnya terhambat oleh orang lain. Sang penghambat itu bisa atasan. Bisa birokrasi. Bisa juga karena ‘gerbong’ organisasi tidak bergerak. Jika karir Anda terjebak dalam situasi seperti itu, apa yang harus Anda lakukan?

 

Salah satu cara yang ampuh adalah; mengecilkan ego kita. Lho, kok mengecilkan ego kita?! Bukankah pihak lain yang menghalangi kita? Kenapa malah kita yang harus mengecilkan ego?!

 

Hari ini, terjadi kemacetan yang luar biasa di Cibubur. Penyebabnya adalah sebuah truk super besar yang mengangkut tiang beton ‘nyangkut’ dipertigaan jalan kecil. Akibatnya arus lalu lintas tersumbat. Bahkan salah satu arah dari pertigaan itu sama sekali tidak bisa dilalui. Efeknya terhadap kekacauan jalan, bisa Anda bayangkan. Parrah tenan.

 

Ratusan. Mungkin ribuan mobil yang terhambat oleh truk itu. Tapi, sekalipun kebanyakan pengendara lainnya terjebak macet; ada beberapa orang yang bisa menerobos jalur padat itu hingga tiba ditempat tujuan sesuai harapan.  Bagaimana bisa begitu?

 

Ribuan. Bahkan jutaan orang terhambat karirnya oleh berbagai macam manifestasi ‘truk’ yang mogok dikantor. Tapi, walaupun kebanyakam orang lainnya mandek; ada beberapa orang yang karirnya bisa terus melaju. Bagaimana bisa begitu?

 

Tetangga saya. Punya mobil bagus. Tapi saya saksikan sendiri bahwa pagi ini, beliau meninggalkan mobilnya di rumah. Lalu berangkat ke kantor dengan motor. Dan saya, menyaksikan orang-orang sukses pada umumnya meninggalkan egonya di rumah. Lalu berangkat ke kantor dengan sikap mental yang luar biasa gesitnya.

 

Ego itu seperti mobil. Yang membutuhkan ruang besar. Banyak bahan bakar. Dan dahaga pujian penyebab hidung membesar. Bagus pada saat jalanan lancar. Namun terhambat, ketika lajur yang bisa dilaluinya tersumbat.

 

Mungkin memang orang lain yang menyebabkan kemacetan dalam karir itu. Tapi ego kitalah yang memperparah efeknya. Contoh. Ego almamater. Ego senioritas. Ego ‘gue kagak takut!’. Ego merasa diri paling hebat. Paling pengalaman. Paling serba tahu. Dan semua jenis ego itu, menghambat karir dikantor.

 

Ingatlah. Sang ‘truk’ penghalang itu juga punya ego besar. Jika Anda lawan dia dengan ego besar Anda, maka Andalah yang akan babak belur. Dan Anda pun tidak bisa melewatinya. Sama seperti mobil-mobil yang memaksa menerobos jalur tersumbat itu. Nggak bisa. Karena kalah kuat dengan truk itu.

 

Ingatlah bahwa dikantor Anda, mungkin ada truk besar yang menghalangi lajunya perkembangan karir kita. Dan ego kita, mungkin tidak cukup gesit untuk menelusup melalui celah-celah sempit yang masih tersedia. Sehingga meski celah peluang itu ada, kita tidak bisa menerobosnya.

 

“Tapi bukankah lebih baik kalau truk penghalang itu yang disingkirkan?” Betul. Sayangnya, kita tidak selalu punya kemampuan untuk itu. Truk itu terlalu besar untuk disingkirkan. Jadi, pinter-pinternya kita saja menyesuaikan diri dengan situasi. Itu yang disebut sebagai agility.

 

“Tapi. Ini kan hari hujan. Punya mobil. Kenapa pakai motor?” Nah, pernyataan ini memperlihatkan ego yang masih tinggi. Sekaligus keengganan untuk menyesuaikan diri dengan situasi. Pertanda bahwa kita masih rigid. Belum punya agility.

 

Hujan itu adalah tantangan. Namun bisa diatasi dengan berbagai cara. Jangan harap kehidupan kerja kita bakal lempeng-lempeng saja. Adem ayem tanpa kesulitan. Gak bakal. Namun ketahuilah bahwa; semua kesulitan itu pasti ada jalan keluarnya. Hanya saja, jalan keluar itu mungkin tidak cukup lebar untuk menampung ego besar kita.

 

Jika dikantor Anda, ada truk besar yang ‘nyangkut’ hingga menghalangi perjalanan karir Anda. Dan hanya ada jalur lewat yang cuma bisa dilintasi jika dan hanya jika Anda bersedia meninggalkan ego besar Anda dirumah. Bersediakah Anda melakukannya?


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment