Home / Artikel / Ketika Kota Santri di Ujung Tanduk

Ketika Kota Santri di Ujung Tanduk

 

Kota Tasikmalaya (Kabupaten maupun Kota) memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Lazimnya pertumbuhan suatu kota bergerak secara progresif. Pergerakan itu berkembang baik dalam konteks keruangan maupun waktu. Aspek spiritual menjadi daya tarik dalam perbincangan masyarakat tersebut.

Pada mulanya pusat spiritual Tasikmalaya berada di kaki gunung Galunggung. Namun, saat pengaruh Islam menguat, dan waliy allah Syekh Abd al-Muhyi tiba, pusat spiritual tersebut perlahan beralih ke Pamijahan (sekarang terletak di Kecamatan Bantarkalong Kab. Tasikmalaya Jawa Barat). Murid dari Abd Rauf Sinkel ini menjadi rujukan masyarakat sekitar tentang keislaman dan panutan dalam bermasyarakat.

Karena itu, hingga sekarang Syeikh Abdul Muhyi, seorang wali yang berkontribusi dalam penyebaran Islam di daerah priangan itu memiliki pesona magis karena sebuah keyakinan jika mengunjungi tempat sakral ini akan mendapat hikmah serta barakah dan hampir tiap hari banyak dikunjungi dari berbagai daerah di Indonesia. Di bulan Ramadhan nanti hilir-mudik bis pariwisata berhenti.

Tidak jauh berbeda dengan sumber daya alam Tasik, sumber daya manusianya pun memiliki potensi yang amat besar dalam partisipasi menjadikan Tasik daerah subur dan makmur. Sebenarnya, sejak masa kolonial, Tasik telah ikut andil dalam melawan penjajah. Uniknya lagi, perlawanan yang dihimpun semuanya berasal dari pendidikan non-formal saat itu, yaitu pondok pesantren. Pondok pesantren berperan aktif dalam mencetak kader bangsa yang loyal dan total dalam mengusir hegemoni penjajah dari tanah nusantara. Di berbagai penjuru Indonesia, warga pesantren menunjukan taringnya dengan melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan tetap konsisten menanamkan pesan dan nilai al-Qur’an dan sunnah agar senantiasa dilaksanakan dalam situasi apapun. Salah satu perlawanan melawan kedzaliman yang dilakukan di Tasikmalaya ialah perlawanan yang dipimpin oleh KH. Zainal Musthafa.

Tapi spirit perlawanan terhadap imperalisme yang telah dirintis para aktivis pesantren perlahan mulai sirna. Jargon klaim yang terkenal “Tasik kota santri” kini berada di ujung tanduk. Berikut indikasi-indikasinya: (1) Paradigma para orang tua yang menganggap alumni pesantren prospeknya suram dan system pendidikannya pun tidak jelas. Pesantren kerap diidentikan sebagai suatu system yang bersifat “isolasionis” terpisah dari aliran utama pendidikan nasional. Sistem pesantren kadang-kadang dianggap konservatif, dalam arti bahwa pesantren tidak peka terhadap perubahan tuntunan zaman dan masyarakat. Walhasil, Mereka memilih menyekolahkan buah hatinya ke sekolah-sekolah umum ketimbang ke pesantren. (2) Dikotomi pelajaran yang masih melekat di benak masyarakat umum sehingga menganggap pelajaran-pelajaran umum lebih profektus dari pada pelajaran-pelajaran agama. Sejalan dengan ini pesantren pula dianggap kurang produktif. (3) Banyak sudah pesantren yang memadukan antara bobot pelajaran umum dengan bobot pelajaran agama seimbang (baca: boarding school) dan mampu menarik perhatian para orang tua. Namun kebanyakan mereka sudah ‘mundur’ sebelum memasukan anak-anaknya ke pesantren karena biaya yang ditawarkan memang relatif tinggi. (4) Atau terakhir, keinginan dan animo si anak sangat kurang untuk mencari ilmu di pesantren mulai memprihatinkan. Hal ini bahkan sangat menonjol kelihatan di daerah yang dulu pernah bangga dengan mutu pengembangan ilmu keagamaan dari pesantren mereka. Apalagi dampak dari pesatnya arus informasi dan globalisasi sangat berpengaruh terhadap psikis anak. Mereka lebih memilih dan menghabiskan waktu dengan gadget di jejaring sosial (facebook, twitter, blackberry messenger, dsb) dari pada mengaji atau pergi ke madrasah sehabis pulang dari sekolah umum. Kiranya faktor-faktor inilah yang membuat pondok pesantren mulai sepi diminati oleh para orang tua dan anak-anak mereka.

Sementara itu dunia pesantren bukan saja lebih mengalami perubahan, baik akibat dari dinamika internal maupun sebagai penetrasi dari luar, tetapi juga melanjutkan peranan yang cukup besar dalam perkembangan masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan Islam – dimana guru dan murid menciptakan suasana kekeluargaan dalam usaha mencari, menggali, dan menyebarkan berbagai ilmu keagamaan – pesantren tidaklah bisa terlepas dari masyarakat yang mengitarinya. Peranan yang paling sederhana tentu saja ialah jasa “pelayan keagamaan” kepada masyarakat sekitar. Di samping menyediakan wadah bagi sosialisasi anak-anak, pesantren menjadi tempat bagi para remaja, yang berdatangan dari berbagai tempat yang jauh, untuk menjalani semacam peralihan—dari situasi remaja ke suasana dewasa.

Disinilah keunikan pondok pesantren. Meskipun pesantren mulai ditinggalkan peminatnya, ruh dan jasa pesantren akan tetap ada selama negeri ini tegak berdiri. Seharusnya pendidikan-pendikan formal lain ikut meniru sistem pesantren yang orientasi pendidikannya terletak pada keislaman, keindonesian dan kesederhanaan dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan beradab.

Lalu bagaimana solusi yang ditawarkan guna menyelamatkan spirit pesantren? Mengenal budaya dan tradisi leluhur kita merupakan upaya mengenali jati diri kita sesungguhnya dalam konteks kekinian yang penuh dengan hiruk-pikuk hedonisme dan konsumerisme serta karut-marut sistem yang ada, meliputi bidang ekonomi, politik, budaya, maupun pendidikan. Karena itu, Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (Himalaya) yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, maupun halayak umum yang interest dan merasa jenuh dengan kondisi saat ini, yuk sejenak berfikir, dan merenung apa yang telah diperjuangkan leluhur kita sebagai modal dasar dalam mengarungi bahtera kehidupan di era high technology seperti saat ini.

 

Dikutip dari : http://www.kompasiana.com/irfan_sanusi/ketika-kota-santri-di-ujung-tanduk_54f6f870a33311a10f8b4582


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment