Home / Artikel / Ketidakbijaksanaan Manusia Biasa

Ketidakbijaksanaan Manusia Biasa

 

Saya Ini Benar-Benar Manusia Biasa

Rasanya sudah berulang kali saya menyatakan bahwa saya – X– adalah manusia biasa seperti kebanyakan orang lainnya. Namun, kadang orang tidak percaya. Misalnya, ada yang mengira saya orang kaya. Padahal, uang saya pas-pasan saja. Malah, kadang ada juga saat dimana saya harus putar sana putar sini untuk memenuhi nafkah keluarga. Orang yang mengenal saya, tahu persis bahwa saya bukan orang kaya.
Hanya karena saya sering menulis, juga tidak menjadikan saya lebih baik dari orang lain. Saya sama seperti teman-teman lainnya.
 Di facebook saya memposting sebuah gambar dengan teguran keras terhadap seseorang yang suka menggoda istri orang lain. Kenapa di facebook? Karena orang itu kabur dengan sifat pengecutnya. Coba kalau dia berani berhadapan dengan saya, mungkin urusannya selesai hanya diantara kami berdua.
Lalu, seorang sahabat baik saya mengirim pesan inbox. Begini tulisnya:Saya melihat Pak X sebagai orang arif dan bijaksana dengan berbagai macam motivasi yang diunggah di media. tetapi hari ini saya melihat ada yang lain dalam update Pak X tentang foto dan kata kata tentang sesorang yang menganggu istri orang. terlepas apapun masalah itu, terlalu private senernya untuk diketahui publik secara umum begini.”
Sekarang, sahabat saya itu percaya bahwa saya; tidak sebijaksana seperti yang selama ini dikiranya. Bagi saya pribadi; pantang membiarkan seseorang merendahkan kehormatan istri, anak-anak, dan keluarga saya. Itu adalah kewajiban seorang suami. Dan Ayah. Dan kewajiban saya sebagai seorang muslim. Dan ketika orang itu lari dengan jiwa pengecutnya, maka saya akan kejar dia sampai ke liang kubur sekali pun. Kalimat yang saya gunakan ini; tidak bijaksana kan?
Teman saya yang lainnya bilang bahwa dengan tindakan saya itu, saya mempermalukan diri saya sendiri. Saya, lebih sanggup menanggung malu karena memperjuangkan harga diri keluarga. Daripada dianggap bijaksana, tapi membiarkan kaum amoral semena-mena memamerkan ketidaksenonohannya kepada keluarga saya.
Saya bahkan mengajak Anda. Jangan karena bersembunyi dibalik titel kebijaksanaan, Anda membiarkan kemaksiatan mengincar keluarga Anda. Jika Anda menemukan orang yang berbuat tidak patut pada keluarga Anda. Berjuanglah untuk mengenyahkannya. Sekalipun Anda harus berkalang tanah. Karena begitulah perintah agama kita. Justru karena sikap toleran yang tidak pada tempatnyalah kemungkaran bertebaran disekitar kita. Kalau dengan sikap seperti itu kita dianggap tidak bijaksana? So be it. Memerangi para lelaki cabul yang mengganggu istri atau anak perempuan kita, jauh lebih penting dari sekedar disebut bijaksana.
Kecanggihan system komunikasi dan gadget modern telah menjadi alat pemikat bagi para predator dizaman sekarang. Anda, tidak harus memerangi mereka. Cukuplah kalau Anda menjaga istri dan anak perempuan Anda dari incaran mereka. Lawan. Walau Apa. Dan berapapun harganya. Dan itulah yang saya lakukan. Saya pun berharap, jika itu terjadi kepada Anda; lakukanlah hal yang sama. Jangan takut kalau Anda disebut tidak bijaksana. Karena memang, tidak ada manusia yang sempurna. Kita ini, manusia biasa. Namun dengan kesediaan kita untuk bertindak ‘tidak bijaksana’ itu, Insya Allah; akan berkurang kemaksiatan disekitar kita.
Catatan kaki:
Para lelaki hidung belang itu datang dari berbagai kalangan. Trainer, Motivator, Dosen, Pengusaha, Mahasiswa, Pengangguran, Karyawan, Pejabat, bahkan Figur yang sering tampil menawan di media. Lawan! Jika mereka menggoda keluarga kita.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment