Home / Artikel / Keragaman Di Tempat Kerja

Keragaman Di Tempat Kerja

 
Perbedaan perlakuan, terjadi dimana-mana. Termasuk di tempat kerja. Soal SARA, bukan hanya persoalan negara. Di kantor-kantor juga. Dampaknya, kerugian miliaran dollar di Amerika saja. Makanya di banyak perusahaan bagus karyawan dididik untuk saling menerima keberagaman. Leveraging diversity namanya.
 
Dan. Itu merupakan salah satu sub tema training saya untuk sebuah perusahaan Multi Nasional pekan lalu. Insya Allah, pekan depan jalan dengan batch berikutnya.
 
Kenapa diversity itu penting untuk diapresiasi? Dari sudut pandang bisnis, keragaman merupakan salah satu penunjang utama daya saing. Di negara-negara maju sudah ada studynya.
 
Dari sudut pandang kemanusiaan, keragaman berkaitan dengan hak individu. Apa salah saya jika dilahirkan sebagai orang Sunda? Misalnya. Apa salah Anda jika lahir sebagaimana adanya Anda? Tidak ada yang salah. Jadi, mari saling menghargai saja. Dan bersinergi untuk kemajuan bersama.
 
Dari sudut pandang agama bagaimana? Dan dalam Islam, tidak ada perbedaan suku, kebangsaan, warna kulit, ukuran kelopak mata dan sebagainya. Indah agama mengaturnya. Kita, sama. Sekalipun harta dan jabatan beda. Kualitas kita saja yang menjadi pembedanya. Dan ketakwaan kita, adalah alat  ukurnya.
 
Ilmu menejemen SDM mengokohkan fakta bahwa untuk tangguh, perusahaan membutuhkan keberagaman karyawannya. Itu dibuktikan oleh perusahaan-perusahaan paling T-O-P dijagat raya. Sebut saja perusahaan yang bergelar “The Best Place To Work For”. Semuanya, memberi tempat pada keragaman SDMnya.
 
Di kantor Anda, apakah diversity sudah mendapatkan perhatian semestinya? Sudahkah perlakuan menejmen, sikap kolega, dan perilaku kerja setiap orang ditopang oleh penghargaan atas keragaman antar individu disana?
 
Anda pun bisa berkontribusi secara langsung untuk menyokong hal itu. Mulainya dari mana? Pertama, terimalah perbedaan apapun dengan kolega Anda. Apapun. Beda. Ya sudah. Terima saja.
 
Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan manusia berbangsa-bangsa. Untuk saling kenal dan bekerja sama. Bahkan menerima perbedaan itu saja sudah bernilai ibadah loh. Berpahala jika kita melakukannya.
 
Kedua, pisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Agama yang dianut adalah contoh dari urusan pribadi. Tidak ada hak kita mencampuri pilihan orang lain. Sama seperti orang lain yang juga tidak berhak mempermasalahkan; ‘kenapa elo menganut agama itu?’
 
Urusan pekerjaan, lakukan saja dengan siapapun tanpa perlu dihalangi oleh perbedaan keyakinan dalam soal agama. Dan tentu, tanpa menghalangi kebebasan orang untuk menjalankan keyakinannya. Perusahaan yang menghalangi keryawan memakai jilbab misalnya, sudah melanggar prinsip-prinsip diversity.
 
Ketiga, akui kelebihan orang lain dan asah keunggulan diri sendiri. Diversity itu, mencakup pula keragaman keterampilan kerja. Mengakui kelebihan orang berarti tidak iri hati, dan legowo menerima kenyataan jika orang lain lebih dipercaya menangani suatu penugasan atau jabatan tertentu.
 
Sedangkan membangun keunggulan pribadi berarti menjadikan diri sendiri berkualitas tinggi sehingga layak bersaing untuk meraih pencapaian terbaik dalam karir. Bakal percaya diri, sekaligus besar hati jadinya.
 
Keempat, berkolaborasi dengan orang lain melalui keunggulan masing-masing. Mana ada sih orang tanpa kekurangan? Gak ada. Jadi berhentilah mempermasalahkan kekurangan orang lain. Mari padukan saja kekuatan masing-masing untuk membangun perusahaan.
 
Perusahaan bakal untung atau rugi kalau begitu? Untung banget. Karena prinsip leveraging diversity, memungkinkan setiap orang dalam organisasi mengoptimalkan seluruh kapasitas diri yang dimilikinya. Dan bekerja dengan tenteram disana.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment