Home / Artikel / Kepo Urusan Rumah Tangga Orang Lain

Kepo Urusan Rumah Tangga Orang Lain

 
Pekan lalu saya menolak permintaan untuk bicara di sebuah forum. Tahu kenapa? Karena, topik yang diminta tidak sesuai dengan bidang keahlian saya. Tahukah Anda apa topiknya? “Membangun Rumah Tangga Bla Bla Bla…”.
 
Anda sudah berkeluarga? Kalau sudah, tentu tahu lika likunya kan? Dan tahukah Anda, akan jadi apa rumah tangga Anda kelak? Saya tidak tahu. Makanya, saya tidak mau bicara di forum soal itu. Meskipun saya dibayar untuk itu. Bahkan orang yang sekedar minta pendapat tentang persoalan rumah tangganya pun tidak saya layani.
 
Biarkan ahlinya saja yang bicara soal itu. Kita yang awam ini, tidak perlu ikut berkicau soal hal-hal yang kita sendiri aja belum tentu sudah bagus. Dalam konteks rumah tangga kita, sekarang mungkin baik-baik saja. Dimasa depan? Kite kagak tahu ape-ape. Wallaahu a’lam.
 
Ngetrend sekali memang kekepoan manusia terhadap urusan rumah tangga orang lain ini. Saya bahkan pernah mendengar seorang pesohor berceramah tentang urusan rumah tangga orang lain. Dibeberkannya kejelekan istri orang lain dihadapan para pendengarnya. Bahkan namanya pun disebutkannya secara gamblang. Tanpa tedeng aling-aling.
 
Mungkin dia menilai istrinya sendiri sudah sempurna. Sehingga menyebarkan aib istri orang lain menjadi kenikmatan tersendiri baginya. Seolah dia tahu persis kejadian yang sesungguhnya. Padahal, tahukah Anda; siapakah istri yang digibahkan pesohor itu? Masya Allah. Istri seorang Nabi. Perempuan yang tidak pernah dia temui.
 
Disela ceramahnya, kerap terdengar gelak tawa hadirin. Terlebih ketika ‘kelucuan’ aib orang lain diparodikan. Mungkin karena hadirinnya juga sama keponya. Atau memang gemar mendengar gossip tentang urusan rumah tangga orang lain. Atau, mungkin karena terbuai oleh retorika kepakaran komunikasinya.
 
Teman saya yang penggemar sang penceramah berpendapat;”Beliau sedang meluruskan sejarah, Dang!” Hebat. Seolah dia adalah saksi kehidupan perempuan yang sudah wafat sejak lebih dari seribu tahun lalu itu. Hingga paham sampai pada hal paling pribadi dalam kehidupan rumah tangganya.
 
Diluar negeri, ada kejadian mirip. Pesohor juga. Kepo banget dengan urusan rumah tangga orang lain. Bedanya, beliau masih terhormat. Karena hanya bicara soal bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis. Namun tidak membumbui pesona kepakaran komunikasinya dengan membeberkan kejelekan istri orang lain, seperti pesohor yang pertama tadi.
 
Ribuan orang mau datang untuk mendengar ceramahnya. Mereka mengidolakannya. Namun kemudian diberitakan bahwa perkawinannya sendiri kandas. Kepo masa lalunya jadi kosong melompong. Untungnya, beliau tidak menanggung beban dosa menggibah istri orang lain. Itu di luar negeri. Kalau disini? Saya tidak tahu pasti.
 
Kepada diri sendiri, saya menasihatkan. Untuk menyibukkan diri dengan urusan mambaguskan keluarga sendiri. Menyolehkan istri sendiri. Menjaga aib rumah tangga sendiri. Daripada kepo terhadap urusan rumah tangga orang lain.
 
Dan kepada istri, saya menasihatkan. Lebih baik memastikan diri untuk menjadi istri yang sholeh, daripada kepo dengan kesolehan istri orang lain. Dan kalau mendengar pesohor yang gemar kepo hingga menjelek-kelekkan istri orang lain; tinggalkan dia. Toh dia pun belum tentu bisa mendidik istrinya sendiri.
 
Apakah nasihat ini juga cocok buat Anda dan pasangan hidup Anda? Jika iya. Mari sama-sama kita “Kuuu anfusikum waahliikum naarooo…”. Demikian Allah memerintahkan kita ketika membuat prioritas dalam segala urusan akhlak.
 
Semoga Allah menjadikan kita orang yang sibuuuk memperbaiki diri dan keluarga sendiri. Dan semoga Allah menjagakan kebaikan rumah tangga kita. Sehingga kita menjadi pasangan yang bahagia. Didunia. Dan diakhirat kelak. Aamiin…
Catatan kaki:
Bukan tidak boleh untuk memikirkan orang lain. Namun, tidak ada artinya mengurusi perilaku orang lain; kalau urusan memperbaiki akhlak diri dan keluarga sendiri saja malah terabaikan.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment