Home / Artikel / Kejatuhan Sebuah Perusahaan

Kejatuhan Sebuah Perusahaan

 
Reputasi perusahaan sama pentingnya dengan kualitas produk. Bahkan produk bagus sekalipun sangat sulit diterima pasar, jika dijual oleh perusahaan yang memiliki reputasi buruk. Maka CEO dan para pimpinan perusahaan berkewajiban untuk memastikan terjaganya reputasi itu.
 
Salah satu langkah penting dalam membangun reputasi perusahaan adalah dengan dipegang teguhnya business conduct atau etika bisnis. Dan ini, harus dilakukan oleh semua elemen perusahaan. Mulai dari CEO hingga office boy sekalipun. Tidak akan terjaga reputasi perusahaan kalau ada satu saja karyawan yang melanggar etika bisnis.
 
Tesco Homeplus. Adalah perusahan retailer modern yang berhasil melakukan disrupsi bisnis ritel melalui kombinasi selling, marketing, dan teknologi informasi. Pada tahun 2011 mereka memulainya di Korea.
 
Jika biasanya orang pergi ke super market, Tesco membuat pengalaman belanja itu benar-benar berubah total. Para perempuan pekerja yang sibuk tidak punya banyak waktu untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Waktu mereka, habis untuk urusan kantor, rumah dan stasiun kereta api.
 
Maka Tesco memasang display berisi gambar barang-barang kebutuhan harian. Pasta gigi. Sabun. Kecap. Daging. Sayuran. Tapi ini bukan sembarang display yang biasa digunakan para pengiklan. Ini adalah display dimana setiap foto produk dilengkapi dengan barcode.
 
Untuk berbelanja, orang hanya perlu scan barcode itu dengan gadget yang terhubung dengan aplikasi Tesco. Lalu pulang ke rumah. Setibanya di rumah, barang yang dipesan pun sudah sampai di depan pintu. Strategi ini berhasil membawa Tesco menduduki posisi tertinggi di bisnis ritel Korea.
 
Kemampuannya menghempaskan peritel konvensional seolah menegaskan bahwa Tesco hanya butuh beberapa langkah lagi saja untuk menguasai bisnis ritel dunia. Sukses besarnya di Korea dibawanya pula ke London. Tiba-tiba saja stasiun kereta api di London dihiasi display seperti di Korea. Kejayaan Tesco pun terpampang didepan mata.
 
Namun tahun 2014, tiba-tiba saja otoritas Korea melakukan investigasi terhadap Tesco. Dan tahun 2015, jawara ritel modern itu tutup. Toko-tokonya yang tersebar berubah menjadi gudang kosong terabaikan. Bisnisnya runtuh hanya dalam kejapan mata saja.
 
Apa yang terjadi dengan Tesco? Apakah penggunaan teknologi telah menyebabkan kejayaan sekaligus kejatuhannya? Kejayaannya iya. Kejatuhannya tidak. Tesco, jatuh bukan karena kecanggihan sistem aplikasi yang menunjang model bisnisnya. Tesco jatuh, karena adanya indikasi memperjual belikan data pelanggan kepada pihak lain. Sebuah pelanggaran etika bisnis yang sangat serius.
 
Kejadian ini merupakan sebuah contoh buruknya komitmen perusahaan kepada pelanggan. Dan kehancuran bisnisnya itu merupakan bukti nyata bahwa etika bisnis, berada diatas kecanggihan teknologi maupun nilai yamg tertera pada laporan keuangan.
 
Masih banyak contoh lain perusahaan kuat yang menjadi lemah karena tidak dipegang teguhnya etika bisnis. Keruntuhan karena kalah dalam persaingan misalnya, akan butuh waktu lama. Bahkan masih bisa terjadi rebound. Makanya, perusahaan yang oleng masih punya harapan buat bangkit lagi. Tapi kejatuhan perusahaan karena pelanggaran etika bisnis, bisa terjadi dalam sekejap saja. Gue, eloh; end!
 
Maka membangun komitmen seluruh komponen perusahaan merupakan tugas yang tidak bisa ditunda. Tanpa kompromi. Tidak pake toleransi. Dan tidak cukup dengan sekedar mencantumkan nilai luhur bernama ‘Integrity’. Dengannya, perusahaan bisa terhindar dari kejatuhan yang memalukan.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment