Home / Artikel / Karyawan Yang Disia-siakan

Karyawan Yang Disia-siakan

 
Apakah Anda pernah mendengar ada karyawan yang disia-siakan oleh perusahaan? Maraknya demo, merupakan salah satu indikasinya. Kalau Anda sendiri, merasa disia-siakan oleh perusahaan nggak? Bagus jika tidak. Tapi, hendaknya paham bahwa menyia-nyiakan karyawan itu biasanya dilakukan dengan dua cara.
Pertama, dengan cara kasar. Contohnya perlakuan majikan atau atasan yang tidak patut kepada karyawan atau anak buahnya. Dihina. Diinjak harga dirinya. Dikucilkan. Disingkirkan. Dilucuti kewenangannya. Dibuat tidak nyaman. Biar gak harus ngeluarin pesangon kalau dia keluar. Itu cara kasar.
Memang agak sulit dimengerti nurani jika dijaman modern seperti saat ini masih ada majikan yang memperlakukan karyawan seperti budak atau cara kasar diatas. Beda dengan jaman dulu ketika perbudakan menjadi pola umum mempekerjakan orang. Tapi memang ada sih.
Al-Qur’an telah dengan tegas memerintahkan pembebasan manusia dari perbudakan. Saya tidak tahu jika kitab suci lain mengaturnya juga. Namun sejak saat itu, penghapusan perbudakan menjadi tindakan resmi. Dan, ada begitu banyak kisah pembebasan manusia dari perbudakan dijaman Rasulullah SAW. Masak sih dijaman ini kita malah kembali menghidupkan perbudakan.
Yang kedua, dengan cara halus. Secara fisik, memang mendapatkan perlakuan baik. Dibayar wajar. Dikasih tunjangan. Dan dibuat betah bekerja disana. Tapi tidak didorong untuk bertumbuh kembang. Sehingga potensi dirinya tidak memberi makna apa-apa bagi hidup dan karirnya. Maka sia-sialah kapasitas diri yang sudah Tuhan berikan. Ini adalah bentuk penyia-nyiaan juga kan? Namun dilakukan dengan cara halus.
Menurut pendapat Anda, cara mana yang banyak digunakan perusahaan dalam menyia-nyiakan karyawan? Benar sekali. Cara kedua. Betapa banyak karyawan potensial yang akhirnya menjadi pegawai kerdil. Dan ironisnya, sang karyawan juga merasa segalanya baik-baik saja. Perusahaan hanya peduli pada profit. Dan karyawan hanya focus pada bonus. Ketika profit selangit, bonus pun maknyus; maka perusahaan merasa baik-baik saja. Dan karyawan merasa hepi-hepi aja.
Loh, bukankah kalau perusahaan sudah profit dan karyawan sudah senang maka semua memang aik-baik aja Dang? Memang sih. Tapi andai perusahaan itu peduli pada pengembangan SDMnya. Dan karyawan juga peduli pada proses pemberdayaan dirinya; maka boleh jadi manfaat yang didapat kedua belak pihak akan jadi berlipat-lipat. Buktinya? Kalau perusahaan Anda lagi ‘Bagus’, belum tentu sudah menjadi industry leader kan? Mungkin cuman bisa melampaui target dari menejmen doang. Bukan menjadi pemain terbaik di industrinya.  
Intinya sih, menyia-nyiakan karyawan itu tidak selalu dalam makna harfiah dimana karyawan diperlakukan dengan cara yang buruk. Tetapi juga dalam makna yang lebih mendalam. Yaitu, ketika perusahaan mengabaikan kapasitas diri para karyawannya. Padahal mereka memiliki kemampuan finansial dan sumber daya lainnya untuk mendidik dan mengembangkan karyawannya.
Lalu apa tindakan yang bisa Anda lakukan?  Jika cara kasar yang Anda alami di kantor, maka sabar; adalah langkah pertama yang perlu dilakukan. Tidak usah dilawan dengan cara kasar juga. Karena karyawan, biasanya berada pada posisi paling lemah. Selanjutnya, membuka jaringan dan mempertajam kemampuan. Jika sudah tepat saatnya; tinggalkan. Jangan mengeluh memlulu tapi tetap nongkrong disitu. Harap dicatat, bahwa ini hanya berlaku pada situasi dimana secara factual perusahaan memperlakukan karyawan tidak sepantasnya. Bukan sekedar ‘perasaan’ karyawan belaka.
Jika Anda mengalami penyia-nyiakan cara kedua, maka langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah; mengambil inisiatif sendiri untuk mengembangkan diri Anda. Menabung untuk investasi mencari ilmu, boleh juga Anda coba. Selain itu, Anda juga mesti membantu menejmen untuk menyadari bahwa yang karyawan butuhkan bukan hanya gaji dan bonus saja. Mereka juga membutuhkan pendidikan dan pelatihan yang bisa meningkatkan profesionalitasnya. Sehingga diri dan karir mereka berkembang. Dan perusahaan pun mendapatkan manfaat dari perkembangan profesionalitas Anda. Dan jika Anda, sudah menjadi pengambil keputusan; maka sudah saatnya kini Anda putuskan.
Catatan kaki:
Kalau disia-siakan secara fisik, kita langsung nyadar dan mengajukan keberatan. Tapi kalau tidak dikembangkan, kita diam saja. Itu menunjukkan bahwa kita sendiri rela potensi dirinya disia-siakan.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKADARUS – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment