Home / Artikel / Karyawan Yang Dipertahankan

Karyawan Yang Dipertahankan

 
Dalam kamus korporasi, ada istilah ‘Transformasi’ untuk menggambarkan perubahan signifikan di perusahaan. Kalau suatu saat nanti terjadi transformasi di perusahaan Anda; apa yang terjadi pada Anda?
Suka atau tidak, perusahaan tempat kita bekerja pasti dihadapkan pada keharusan untuk melakukan perubahan. Jika perubahan itu signifikan, hampir bisa dipastikan terjadi pergeseran fungsi dan peran karyawan. Kalau tuntutan perubahan itu sudah sangat mendesak, maka menejmen tidak harus menunggu karyawannya siap dulu untuk itu.
Demi nyawa perusahaan, mereka harus segera mengambil keputusan. Jika ingin dibawa dalam bahtera perubahan itu, maka karyawan mesti mempersiapkan dirinya sendiri. Jika tidak, maka perusahaan bisa dengan mudahnya mengutip lirik lagu Air Supply “… there’s nothing left but to say good bye…”
Anda boleh marah pada keputusan perusahaan. Tapi. Ketahuilah bahwa itu bukan salah perusahaan. They need to survive dalam dunia yang penuh disrupsi ini. Kita, harus se-agile mereka untuk mengimbangi gerakannya. Tidak mungkin bisa menari bersama mereka kalau kita rigid kan?
Yang sering tidak diketahui oleh karyawan adalah; nasib karyawan ‘selalu’ menjadi pertimbangan utama menejmen. Pertanyaan “Bagaimana dengan karyawan kita?” ‘pasti’ terlontar di rapat BOD. Selalu begitu.
Artinya, perusahaan sudah menunaikan porsinya. Sekarang porsi karyawan sendiri, sudah dijalankan oleh yang bersangkutan apa belum? Apa porsi karyawan? Sederhana, sebenarnya. Cukup menjawab pertanyaan ini saja;”Gue bisa apa yang bakal membuat transformasi perusahaan itu sukses besar?”
Secara fragmatisnya begini; menejmen sayang sama karyawan. Tapi nyawa perusahaan lebih penting daripada nasib karyawan. Maka kalau karyawan tidak kompatibel dengan ‘the new spirit of the company’, mereka bakal mencari karyawan lain untuk mengganti mereka yang tak cocok lagi.
Jadi jika karyawan pengen kerja terus di perusahaan, maka tidak ada pilihan lain selain to make sure that you are fit with their needs. Apa yang harus fit bin kompatible itu? Dua aspek utama ini: satu SIKAP. Dan dua, SKILL. Umur pengaruh jugakah? Kadang-kadang saja. Lagian, umur mah nggak bisa diapa-apain.
For your info, buat perusahaan juga lebih mudah dan lebih murah untuk terus mempekerjakan karyawan yang sudah ada dari pada mengganti dengan yang lain. Gak usah bayar pesangon. Gak merusak moral. Gak beli kucing dalam karung. Dan banyak lagi alasan lainnya.
Jadi perusahaan truly want to employ you terus. Sama seperti halnya karyawan yang pengen terus kerja disitu. Sudah nyambung sebenarnya. Yang tidak nyambung adalah kedua poin diatas. Ada gap antara kebutuhan perusahaan dalam spirit transformasinya dengan attitude and skill karyawannya.
Sekarang kita sudah tahu gap-nya. So, what are you going to do? Nunggu perusahaan melakukan transformasi. Wrong answer. Kita mesti menjadi bagian dari proses transformasi yang ‘bakal’ dilakukan perusahaan.
Carane piye? Sebelum perusahaan melakukan transformasi, kita mesti memperlihatkan sikap mental yang menyukai transformasi. Dan menunjukkan kemampuan baru diluar job description standard.
Perilaku yang mendukungnya antara lain; selalu mengikuti berita-berita yang terjadi di industri, membiasakan share ideas dengan atasan atau kolega, come up dengan gagasan-gagasan baru untuk mengembangkan peluang bisnis dan daya saing perusahaan.
Tahukah Anda bagaimana perusahaan memandang karyawan yang punya sikap dan perilaku seperti itu? Mereka melihatnya sebagai ‘pilar’ perubahan. Jadi. Bahkan sebelum melakukan perubahan pun perusahaan sudah tahu, siapa yang HARUS terus dipekerjakan. Sehingga ketika tiba saatnya melakukan perubahan. Anda. Bakal mati-matian dipertahankan. Oleh perusahaan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment