Home / Artikel / Karyawan Tak Berkayu

Karyawan Tak Berkayu

 
Ada orang yang langsung kerja enak. Bagai pohon berkayu. Bisa tumbuh menjulang tinggi dengan sendirinya. Tapi kebanyakan orang, memulai karir dari bawah. Laksana tanaman tak berkayu yang tumbuh persis dipermukaan tanah. Diantara keduanya, karyawan mana yang bisa tumbuh paling tinggi?
Anda tahu pohon pare kan? Itu loh, sayuran yang berasa pahit. Dia tanaman tak berkayu. Batangnya, tidak bisa berdiri tegak. Hanya bisa merambat. Bukan tumbuh menjulang tinggi. Orang-orang didunia kerja, kebanyakan seperti itu juga. Mereka, bukan orang kuat. Sehingga tidak bisa berharap banyak.
Sebagian besarnya, malah ‘yang penting dapat kerjaan aja’. Maka wajar, jika karir mereka tidak beranjak naik. Karena para pekerja lemah, hanya akan bisa merayapi jenjang  paling rendah dalam karirnya. Wajar kan ya? Namanya juga orang lemah.
Keliru. Bukan begitu aturan mainnya. Tanaman merambat justru memiliki kemampuan untuk tumbuh hingga mencapai puncak tertinggi. Para pekerja lemah, justru punya kemampuan untuk mencapai posisi-posisi penting. Kenapa?
Karena dengan fitrahnya sebagai tanaman merambat, dia sadar akan kubutuhannya terhadap cahaya matahari. Sehingga ketika terhalangi oleh tanaman lain yang lebih tinggi, dia menggeliat. Mencari celah agar bisa menatap sang surya.
Para karyawan lemah yang gigih juga begitu. Dia sadar bahwa kalau merayap dibawah terus mah hidupnya bakal terancam. Sehingga ketika terhalangi karyawan lain yang lebih tinggi, mereka terus menggeliat mencari celah untuk merambat.
Pohon pare dihalaman rumah saya, seperti pare lainnya. Tapi dia bisa tumbuh lebih tinggi dari pohon-pohon lainnya. Saya, mengenal cukup banyak pegawai yang memulai karirnya benar-benar dari bawah. Tapi mereka bisa tumbuh lebih tinggi dari kebanyakan karyawan lainnya.
Kok bisa begitu? Saya memperhatikan, bahwa pohon pare itu memiliki sulur yang bisa melilit. Hal itu memungkinkan dirinya untuk terkoneksi dengan tanaman berkayu disekitarnya. Saya juga melihat, para karyawan sukses itu memiliki kemampuan untuk terkoneksi dengan karyawan lainnya.
Kalau mendengar kata koneksi, orang sering menganggapnya negatif. Tapi mari kita sadari bahwa koneksi, tak selalu bekonotasi jelek. Dalam konteks ini, koneksi bisa bermakna ‘mingle’ atau ‘interaksi’.
Saya melihat, pohon pare yang hanya berinteraksi dengan sesama pare lainnya; cuman bisa menggulung diatas tanah. Karyawan tak berkayu yang doyan buang waktu dengan karyawan tak berkayu lainnya, karirnya juga bergulung dibawah saja. Gak berkembang.
Kenapa? Karena kebanyakan karyawan tak berkayu disekitar kita nggak punya cukup tekad untuk menemui matahari.  Makanya, bergaul seperlunya saja. Tirulah pohon pare saya. Dia sedikit bersentuhan dengan sesama pare lainnya. Dan lebih banyak mingle dengan pohon berkayu yang kokoh.
Terkoneksi, bisa juga bermakna ‘engagement’ alias keterhubungan dalam komitmen. Gallup menemukan bahwa mayoritas karyawan tidak ‘engaged’ loh. Karyawan yang engaged, memiliki gairah yang tinggi untuk melakukan yang terbaik.
Engaged itu berarti terkoneksi dengan atasan, dengan team, dengan kolega, dengan perusahaan. Maknanya, bersedia mendedikasikan hal terbaik yang dimilikinya bagi orang lain. Sehingga atasannya, bossnya, orang-orang disekitarnya; senang dengan keberadaannya. Dengan begitu, maka koneksi itu dibangun dengan nilai-nilai profesional. Bukan dengan cara-cara lain yang membikin orang lain jadi merasa mual.
Lalu. Sudahkah Anda memperhatikan, dengan siapa Anda bergaul? Sudahkah Anda memiliki tingkat engagement yang tinggi?  Dan. Sudahkah pula, Anda terkoneksi dengan Dia; Dzat Yang Maha Tinggi? Mari kita renungkan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment