Home / Artikel / Karyawan Kelas Kardus

Karyawan Kelas Kardus

 
Kalau Anda membeli barang yang dibungkus kardus. Terus, kardus bekasnya diapain? Biasanya, dicampakkan. Ada karyawan yang merasa dirinya dicampakkan oleh perusahaan. Di PHK sih tidak. Tapi, nggak dianggap. Dipake. Tapi sekedar menjadi alat produksi saja. Anda, tidak merasa demikian kan?
Setiap kali pulang dari luar kota, istri saya selalu mendapati banyak hal dirumah kami yang tidak pada tempatnya. Biasalah. Ulah anak-anak kami. Dan… ulah ayahnya juga…
Salah satunya adalah, sebuah kardus mungil bekas. Istri saya melihatnya sebagai sampah yang hanya menuh-menuhin rumah. Sehingga, posisi terbaiknya adalah di… bak sampah.
Dimata saya, kardus itu adalah celengan anak lelaki bungsu kami. Kotak itu berisi uang kertas 5 ribuan hasil menyisihkan jatah jajannya setiap hari.
Jika ibu membuangnya dan ayah menyimpannya; apakah itu menunjukkan bahwa ayahnya baik dan ibunya jutek? Tidak. Hal itu dilakukannya karena dia tidak tahu; apa sebenarnya kotak karton itu. Dan apa isinya. Sementara saya, tahu. Faktanya, setiap orang bertindak sesuai apa yang diketahuinya.
Jika perusahaan menyia-nyiakan karyawannya, maka tidak berarti mereka jahat. Melainkan karena tidak tahu siapa dia. Dan apa yang bisa dilakukannya untuk membuat perusahaan maju. Jika perusahaan tahu betapa besarnya peran yang mampu dijalankan oleh orang itu, maka dia pasti akan diperhatikan. Dipertahankan. Bahkan diistimewakan.
Karyawan seperti itu loh yang disebut aset berharga. Dan tidak satu perusahaan pun yang mau menyia-nyiakan aset pentingnya. Jadi kalau, ini kalau ya. Kalau Anda merasa diabaikan bahkan dicampakkan perusahaan. Jangan sakit hati. Tapi mawas diri.
Tanyakan kepada diri Anda sendiri; apa yang sudah Anda lakukan untuk membuat perusahaan paham kemampuan Anda yang sesungguhnya. Jika selama ini Anda hanya bersikap dan berbuat seperti kebanyakan ordinary worker lainnya, ya jangan salahkan perusahaan kalau memperlakukan Anda sebagaimana karyawan biasa pada umumnya.
Kebanyakan pegawai memang tidak otomatis kelihatan bagus. Bahkan karyawan paling bagus pun biasanya punya ‘kesing’ nggak bagus. Seperti kardus. Seperti celengan anak saya itu. Lihatlah orang sukses disekitar Anda. Rata-rata ‘nggak ada potongan’ kan? Bukan orang paling ganteng loh yang paling sukses itu. Seringnya sih kesingnya gak meyakinkan. Maaf ya. Tapi its true.
Siapa yang nyangka jika didalam kardus anak saya itu tersimpan uang? Siapa nyangka dibalik muka pas-pasan itu tersembunyi potensi dan kemampuan tinggi? Nggak bakal ada yang tahu. Sampai karyawan kelas kardus itu sendiri memberitahukannya.
Lalu bagaimana cara memberi tahu itu? Gampangin aja. Perlihatkan yang Anda bisa. Jika Anda salesman, misalnya. Faktor terpenting apa yang menjadikan seorang salesman bernilai tinggi? Jika Anda seorang tenaga admin, akunting, HR. Prinsipnya sama saja.
“Sudah Dang. Sudah pernah aku tunjukkan. Tapi mereka tetap tidak peduli!” Baiklah. Saya paham. Tetapi apakah Anda mengira anak saya tidak pernah memberitahu ibunya? Pernah. Namun cuman sekali. Perusahaan juga bakal segera lupa jika kita menunjukkan keunggulan hanya sesekali.
Anak lelaki saya itu lebih sering saya antar jemput ke sekolah. Dan hampir setiap hari kami membahas kardusnya. Maka mustahil saya tidak memahaminya. Be consistent with your high performance my friend. Maka mustahil kantor Anda tidak mengenali keunggulan pribadi Anda.
Jika saya tahu anak saya cuman nabung sekali-kali aja, maka saya tidak menganggap kardus itu penting. Dan jika perusahaan melihat Anda bagus sekali-kali saja; maka menejemen tidak menganggap Anda aset penting.
Catatan kaki:
Orang lain nggak  langsung bisa melihat kemampuan apa yang kita miliki dibalik jasad ini. Maka kita, mesti membantu mereka melalui karya nyata kita yang secara konsisten bisa mereka lihat dan rasakan setiap hari.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKADARUS – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment