Home / Artikel / Karyawan Bagus Itu Seperti Oasis

Karyawan Bagus Itu Seperti Oasis

 
Bayangkan Anda sedang berada di daerah yang tandus. Dalam keadaan lelah dan sangat haus. Lalu menemukan oasis. Sehingga Anda bisa minum sampai tak ada lagi rasa haus. Seperti itulah kenikmatan yang dirasakan oleh pelanggan. Ketika mendapatkan pelayanan dari karyawan bagus.
Setiap akhir bulan Maret, kantor pajak selalu dipadati orang. Maklum, kita wajib menyerahkan laporan pajak. Biar nggak terlalu ribet, saya sengaja datang lebih awal. Dan benar. Hari itu, kantor pajak belum seramai akhir bulan.
Selain tidak terlalu riweuh dengan ribuan pelapor lainnya, datang lebih awal juga memungkinkan kita mendapatkan pelayanan yang lebih baik.
Kenapa? Karena orang lelah, cenderung jutek dan tidak sabaran. Sedangkan orang yang masih rilex, bisa lebih baik raut wajahnya, air mukanya, tutur katanya, sikapnya. Semuanya. Itulah harapan saya.
Masuk ke kantor pajak. Ada mesin pengambil nomor antrian disana. Namun, tamu tidak boleh mengambilnya sendiri. Ada 1 petugas yang berjaga. Dia tanya mau kemana? Lalu dipencetin tombolnya dan diserahin kertas antriannya. Dalam kondisi normal, memang begitu cara melayani yang baik. Tamu dilayani. Nggak usah susah sendiri.
Tapi. Ketika ada ratusan bahkan ribuan orang datang dalam satu waktu? Cara itu menjadi bottle neck yang sangat menyusahkan. Satpamnya susah. Pelanggan juga susah. Makanya, dia nggak sempat lagi nanya mau kemana. Karena pelanggan yang antri dengan pola gerombol itu tidak lagi bisa mentolelir keribetannya. ‘Pak minta nomor ke blablabla dong…’. Orang itu pun keteteran.
Saya akhirnya dapat nomor antrian setelah ‘bertarung’ dengan para penyerobot lainnya. Lalu naik ke lantai 2 untuk konsultasi. Kondisinya sudah serba komputer. Beda dengan tahun lalu yang serba kertas. Dalam hati saya senang karena bisa sekalian belajar gimana caranya online reporting.
Setelah mengambil form registrasi EFIN, masuk ke aula. Antrian panjang. Sambil ngantri bertanya pada salah seorang petugas dan mendapatkan penjelasan bahwa EFIN hanya untuk karyawan. Hadeuh.
Terus? Saya diarahkan menuju ke ‘ruang kaca’. Dan seperti kerbau dicocok hidung,  saya masuk ke ruang kaca. Baru masuk, saya dikejar seseorang. “Bapak harus daftar dulu. Yang lain juga pada antri nih pak…” Glek.
“Baik. Saya daftar,” saya bilang. Mulai kesal. Tapi masih sabar.
“Keperluan Bapak apa?” Tanya petugas. Saya jelaskan. Lagi pula setiap tahun saya datang ke kantor itu untuk menyerahkan SPT. Hanya itu saja.
“Ooo, kalau itu bukan disini Pak,” bapak turun ke lantai satu. Disana ada meja blablabla.
“Lah. Tadi saya dari lantai satu blablabla…” Tapi. Berdebat tidak menyelesaikan masalah. Saya menurutinya turun ke langai satu menuju ‘meja’ yang ditunjuknya.
Di lantai 1, ada beberapa meja. Masing-masing petugas di setiap meja dikerubungi pembayar pajak. Saya pun duduk di meja yang masih ada kursinya. Belum ngomong apa-apa nih. Petugas itu bilang, “Bapak maaf ya antri. Ini masih banyak yang harus saya layani. Bapak sudah dapat nomor antri?” Jlung.
Saya pun mengambil nomor antrian lagi. Dapat. Namun sudah terlalu banyak hal yang salah dikantor itu. Sudah dengan 6 petugas saya berurusan. There must be something wrong. Maka saya pun mendatangi petugas yang ke-7. “Maaf memotong,” saya bilang. “Saya hanya ingin bertanya supaya nggak salah antri dan sia-sia.”
Lalu saya pun menjelaskan keperluan saya datang ke kantor itu. Menyerahkan SPT doang. Serumit itukah?
“Oooo kalau itu….” jawabnya. “Bukan kesini Pak. Ke tenda. Bapak keluar gedung ini. Belok kanan. Disana ada tenda. Bapak ketemu petugas disana….” Jleng.
Saya. Me-nu-rut. Pergi ke luar menuju tenda yang dikatakannya. “Jangan sampai KAU salah lagi,” bisik hati.
Di tenda. Dapat nomor antri 178. Saya langsung tanya petugas disana. “Tunggu nomornya dipanggil ya pak.”
“Iya. Saya sedang menunggu. Saya cuma pengen tahu, apakah saya mengantri ditempat yang benar.” Lalu saya jelaskan penjelajahan yang sudah saya alami di kantor itu.
“Bapak sudah ke….” katanya.
“Jangan tanya saya sudah kemana!” Telunjuk saya mulai mengarah ke langit.
“Saya sudah bolak balik kesana kemari. Dan saya sudah mulai kesal ini.”
Petugas muda itu panik. Lalu dipanggilanya seniornya. “Ibu kalau seperti ini bagaimana?” Nah. Ibu ini nampaknya bagus. Saya diajaknya untuk pindah ke mejanya. Setelah diminta menunggu sebentar, saya pun dilayaninya. Saya ulang lagi maksud dan tujuan saya.
“Kalau begini sebaiknya Bapak gunakan fasilis e-filing saja pak…” katanya.
“Harus regustrasi EFIN dulu atau gimana?” Tanya saya.
“Betul Bapak,” jawabnya.
“Lah. Tadi di lantai 2 saya mau registrasi EFIN dibilang petugas kalau EFIN hanya untuk karyawan. Gimana sih?” Sambil saya tunjukkan formulir reg EFINnya. Ibu ini mulai agak panik juga. Mungkin karena faktor muka saya.
Saya paham. Itu bukan tugasnya. Tapi kesediaannya untuk membantu sangat saya hargai. Dicobanya. Tapi komputernya tidak terhubung dengan sistem registrasi. Akhirnya beliau memanggil seseorang. Mereka berdua bicara. Saya menyimak saja.
Di lempar lagi ke lantai 2 kah saya? Tidak. Dari mereka berdua, datang solusi. Laporan tahun ini tetap manual. Tapi. Saya dibantu mendapatkan noreg EFIN tanpa harus naik ke lantai 2 lagi. “Bapak tunggu disini saja. Biar saya yang ke lantai 2,” katanya. Sungguh menetramkan.
Benar. Karyawan bagus itu seperti oasis. Lega rasanya. Setelah sekian lama tersesat kesana kemari. Dan terdampar disana sini. Akhirnya ketemu karyawan bagus. Bagaimana pun juga, mereka bisa mengkompensasi buruknya pelayanan karyawan yang jutek. Pegawai bete. Petugas yang tak kompeten. Dan kekacauan sistem antrian yang saya alami sebelumnya.
Sungguh. Kalau  di kantor Anda bisa menjadi karyawan bagus. Anda bagaikan oasis bagi para pelanggan yang datang kesana. Baik pelanggan internal maupun eksternal. Bagaimana kalau semua orang lain dikantor itu tidak bagus?
Justru, bagusnya seseorang akan makin terasa ketika berada ditengah orang-orang tak bagus. Maka jadilah oasis dikantor Anda sahabat. Sekalipun hanya Anda sendirian yang melakukannya. Insya Alloh, kehadiran Anda ditempat kerja, akan memberikan banyak makna.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment