Home / Artikel / Karirmu Dan Atasanmu

Karirmu Dan Atasanmu

 
Jika saya katakan bahwa penyebab utama kurang berkembangnya karir Anda adalah atasan Anda, setujukah Anda? Karir Anda; terhalang oleh atasan Anda, betul?
 
Anda, tidak sepenuhnya keliru jika berpikir demikian. Karena, ada cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa atasan sangat berperan dalam pertumbuhan karir seseorang.
 
Faktanya orang-orang yang dipimpin oleh atasan yang peduli dan berkomitmen biasanya karirnya lebih cepat berkembang. Dibanding mereka yang dipimpin oleh atasan yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
 
Tapi apakah penelitian itu valid? Saya rasa, kita tidak dalam posisi untuk menilai validitas penelitian orang lain. Akan lebih konstruktif kalau kita menyikapinya secara reflektif tentang bagaimana relevansinya dengan karir kita.
 
Dari sudut pandang itu, ada 2 konsekuensi yang bisa kita indahkan. Pertama, konsekuensinya kalau kita berada pada posisi sebagai sang atasan. Adalah benar, bahwa sebagai atasan kita sedikit banyaknya berperan penting terhadap karir orang-orang yang kita pimpin.
 
Contoh sederhana, kalau ada lowongan posisi penting di kantor Anda; apakah Anda mendorong anak buah Anda untuk mengambil peluang itu? Atau cuek bebek saja?
 
Kebanyakan atasan, ngekepin anak buahnya yang bagus supaya tidak kemana-mana. Padahal, di unit kerja yang dipimpinnya ketersediaan peluang sangat terbatas. Sehingga karir anak buahnya meranggas.
 
Atasan yang keren melatih dan menyiapkan anak buahnya untuk posisi-posisi penting sehingga mereka bisa menjadi pemimpin masa depan buat perusahaan.
 
Ini membuat pertumbuhan perusahaan sejalan dengan perkembangan karir talenta internalnya. Tak heran jika orang-orang potensial betah berkarir disana.
 
Konsekuensi kedua adalah, kalau Anda yang menjadi anak buahnya. Apakah Anda akan menggantungkan nasib masa depan karir Anda kepada atasan Anda? Iya kalau atasan Anda peduli. Kalau tidak? Merana karir Anda.
 
Contoh sederhana. Atasan yang ‘mengecewakan’, Anda respon dengan sikap dan perilaku kerja yang kurang profesional. Kebanyakan karyawan, kalau punya atasan yang nggak asyik; bereaksi secara negatif.
 
Misalnya, sering telat masuk kantor. Istirahat siang melewati batas waktu. Kerjaan ditunda-tunda. Tugas dijalankan secara asal-asalan. Daya dirinya, tidak dioptimalkan. Kalau ditanya ‘kenapa?’, jawabannya; ‘karena atasan gue nggak oke’.
 
Tidak disadarinya bahwa itu adalah cerminan dari sifat ‘blaming’ alias melempar tanggungjawab kepada orang lain. Karir itu karir elo, tapi semuanya digantungkan pada atasan elo. Elo, sehat? Ya nggak bisa begitu dong.
 
You are the only person yang berkepentingan dengan perkembangan karirmu. Maka pengambil tanggung jawab tertingginya ya Anda. Bukan atasan Anda.
 
Tapi kan ada orang yang ‘beruntung’ dapat atasan bagus? Itu bukan keberuntungan. Melainkan bonus. Bonus apaan? Bonus terhadap kegigihan dan tanggungjawabnya pada nasib karirnya sendiri. Buktinya, atasan bagus tidak bisa menolong pekerja yang memble.
 
Atasan bagus, ketemu dengan bawahan keren. Itu baru mantap. Dan memang mesti begitu. Walau atasannya bagus tapi anak buahnya jelek, ya percuma saja. Dibantu naik juga nggak ada gunanya.
 
Kalau atasannya jelek bawahannya yang bagus gimana? Ya kalau sebagai bawahan Anda merasa bagus, pertahankan kebagusan itu. Jangan mau dibuat redup hanya karena dapat atasan yang kurang bagus.
 
Lho kok gitu? Lha iya dong. Kan atasan bagus itu cuma bonus. Tanggungjawab karir kita tetap ada dipundak kita sendiri. Anak buah yang konsisten dengan kualitas pribadi yang bagus cepat atau lambat bakal dikenal. Karena atasan Anda, bisa diganti kapan saja kan?
 
Beda kalau yang bagus atasannya saja. Emangnya, mau dikasih peluang sebesar apa sih anak buah yang jelek? Nggak bisa.
 
Maka kunci keberhasilan karir Anda, ada ditangan Anda. Bukan atasan Anda. Jadi jelas ya, bahwa pernyataan saya pada alinea pertama tulisan ini tidak bisa dijadikan pegangan dalam membangun karir profesional kita. Ayo, terapkan sekarang.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment