Home / Artikel / Jangan Tinggalkan Anak Buahmu

Jangan Tinggalkan Anak Buahmu

 
Salah satu priviledge para atasan adalah memiliki akses kepada posisi yang lebih tinggi. Bagaimana pun juga, staff Anda lebih kecil peluangnya untuk menghadap boss besar kan?
 
Namun. Banyak anak buah yang merasa ditinggalkan atasannya. Mereka merasa atasannya hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan, tentu Anda tidak asing dengan pernyataan ini; “Yang lelah anak buah, yang dapat pujian atasan…”
 
Salah satu referensi utama yang saya gunakan dalam mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan adalah Al-Qur’an. Misalnya kisah tentang Nabi Musa a.s. sebagaimana dipaparkan dalam surah Thoha. Setelah aman dari kejaran Fir’aun, Musa dan kaumnya diperintahkan untuk menuju ke sebuah bukit.
 
Musa pun bergegas memenuhi perintah Tuhannya. Ketika Musa datang seorang diri, Alloh pun bertanya; “Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu wahai Musa?”.
 
Membaca ayat ini, hati saya seperti disentil. Tepat di pusat kesadaran diri saya. “Mengapa kamu datang lebih cepat daripada anak buahmu wahai Dadang…?” Ayat ini rasanya berbunyi seperti itu.
 
“Itu mereka sedang menyusul ya Tuhanku,” demikian Musa katakan. Dan persis seperti itulah yang di zaman ini kita lakukan. Kita. Begitu yakin bahwa anak buah kita akan ‘baik-baik’ saja setelah kita tinggalkan.
 
Kita bersegera menghadap boss dengan harapan beliau suka pada antusiasme dan kecepatan respon kita. Sebagaimana Musa katakan; “Dan aku bersegera menghadap kepadamu agar Engkau ridho kepadaku…”  Lalu apa yang terjadi?
 
“Tahukah kamu wahai Musa,” demikian Alloh bertanya. “Bahwa kami telah menguji para pengikutmu sesudah kamu tinggalkan?” Ternyata, para pengikutnya telah mengabaikan perintahnya.
 
Kisah ini membuka kesadaran baru bahwa; sebagai seorang leader, kita tidak boleh meninggalkan orang-orang yang kita pimpin di belakang hanya karena ingin menunjukkan loyalitas kepada pimpinan.
 
“Jadi elo menyuruh gue membawa rombongan anak buah gue kalau menghadap Dirut, Dadang?!” Mungkin Anda bertanya demikian.
 
Begini. Meninggalkan anak buah itu bisa dipandang dari 2 aspek. Pertama, dalam pengertian fisik. Tidak berarti harus berbondong-bondong tentunya. Saya kasih Anda contoh aktualnya. Seseorang yang menjadi guru dan mentor sekaligus atasan saya dulu. Kalau beliau mau meeting dengan boss besar, sering membawa saya. Anak buahnya banyak. Tapi seringnya saya yang diajak.
 
Apa gunanya? Untuk memback-up beliau, tentu saja. Saya harus membawa data yang dibutuhkan walaupun kadang data itu tidak dipakai sama sekali. Saya selalu ikut bicara? Kadang-kadang. Itu pun cuma beberapa kalimat. Seringnya cuma diam saja.
 
“Kalau gitu kamu cuma dikerjain dong Dang. Kurang kerjaan kalee. Anak buah gue juga mana ada yang mau!”
 
Begini. Diamnya kita di ruang pertemuan dengan boss besar merupakan sebuah momen penting. Bukankah pembicaraan para boss punya kelas yang berbeda? Dimana lagi kita bisa belajar menyimak obrolan tingkat tinggi coba? Selain itu, sering ketemu boss besar merupakan sebuah keuntungan. Dia jadi kenal kita. Apa untungnya dikenal boss? Mikiiirrr….
 
Kedua, yang dibawa bukan orangnya. Tapi namanya. Seberapa sering Anda menyebut nama anak buah Anda dalam pertemuan dengan boss besar? Biasakan untuk menyebut kontribusi mereka. Anda tidak rugi apa-apa. Toh boss Anda juga tahu bahwa kinerja Anda adalah hasil akumulasi dari kinerja para anak buah.
 
Boss Anda pun untung karena dia jadi tahu bahwa dikantornya, proses suksesi berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu tugas terpenting seorang CEO kan memastikan proses pengembangan future leader berjalan secara berkelanjutan.
 
Anda sendiri? Untung dong. Ketahuilah my friend. Boss besar itu justru butuh leader yang mampu mengembangkan orang-orangnya. Karena kelak, dia diharapkan untuk mengambil tanggungjawab yang lebih besar. Pertanyaannya adalah; Andakah orang itu? Jika iya, maka jangan tinggalkan anak buah Anda di belakang. Bawa serta mereka kedalam gerbong perjalanan karir Anda.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment