Home / Artikel / Jadi Maunya Apa Sih Anak Buahmu Itu?

Jadi Maunya Apa Sih Anak Buahmu Itu?

 
Kemarin saya menulis tentang bagaimana nilai seorang atasan dimata anak buahnya. Sekarang, kita bahas; apa sebenarnya yang diharapkan oleh anak buah dari atasannya?
 
Melalui beberapa riset, saya menemukan aspek-aspek kualitatif mengenai apa sebenarnya yang diharapakan oleh anak buah dari pimpinannya. Saya akan uraikan hanya 3 aspek saja disini. Supaya menjadi referensi dalam pola kepemimpinan kita.
 
Pertama, anak buah mengharapkan atasannya menjadi motivator. Saya bertanya; “motivator bagimana maksudnya?” Apakah seperti para motivator yang suka dipanggil dari luar itu? Bukan begitu rupanya. Baik saja jika memanggil motivator dari luar untuk acara khusus seperti meeting atau acara lainnya. Tapi anak buah Anda, lebih mengharapkan Anda mampu memberi motivasi kepada mereka, dalam keseharan interaksi Anda.
 
Sayangnya, alih-alih menjadikan mereka semakin bergairah dalam bekerja. Ternyata, banyak anak buah yang menilai atasannya justru sering menyebabkan mereka terdemotivasi. Melalui kata-katanya. Lewat perlakuannya kepada bawahan. Maupun aspek leader behavior lainnya.
 
Ini valid. Seorang leader meraih prestasi melalui orang lain. Maka sudah sepantasnya dia menata kata-kata, perilaku dan cara memperlakukan anak buahnya. Supaya mereka senang bekerja dengannya. Dan dengan sukarela berjuang bersamanya.
 
Kedua. Anak buah menginginkan atasan yang kompeten. Agak mengejutkan memang ketika menemukan fakta bahwa anak buah sering menilai atasannya hanya pandai memerintah saja. Mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk menyelesaikan apa yang diperintahkannya.
 
Apakah itu berarti mereka mengharapkan atasannya terampil melakukan pekerjaan teknis? Ternyata bukan itu maksudnya, walau pun mereka seneng punya atasan yang bisa begitu. Tapi harapan mereka lebih kepada bagaimana atasannya memahami situasi bisnisnya sehingga bisa menjadi problem solver handal ketika muncul suatu persoalan.
 
Ini juga relevan. Sangat sulit memimpin sekelompok orang untuk menyelesaikan suatu penugasan yang kita sendiri tidak memahaminya. Maka menguasai business process adalah hal yang tidak bisa dikompromikan. Please check again; as a leader, do you comprehend the A to Z of this business?
 
Ketiga. Anak buah mengharapkan atasannya untuk Walk The Talk. Maksudnya, mesti sejalan antara perkataan dengan perbuatan. Janji dipenuhi. Komitmen diwujudkan. Agak memprihatinkan memang ketika seorang pemimpin hanya bisa mengumbar janji tapi tidak dia tepati. Sudah begitu, diulangi lagi. Dengan janji-janji bodong lagi, dan lagi.
 
Apa sih yang bisa dipegang dari seorang manusia selain kata-katanya?  Khususnya dalam kepemimpinan bisnis. Karena pemimpin bisnis tidak sama dengan kepemimpinan politik. Pemimpin politik mah, mengingkari janji berkali-kali juga tidak berpengaruh. Kita punya banyak bukti soal itu. Hampir di semua tingkat kepemimpinan politik di negeri kita, ingkar janji sudah dianggap biasa. Tapi, selama punya ‘modalnya’, masih bisa dipilih lagi.
 
Baguskah itu? Tidak dong. Khususnya mereka yang percaya kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, paham bahwa kelak; bakal dimintai pertanggunjawaban yang berat atas semua kelakuannya selama memimpin itu. Yang tidak percaya akhirat, ya suka-sukanya saja.
 
Kepemimpinan bisnis, tidak bisa begitu. Di kancah kepemimpinan bisnis, loyalitas anak buah; sangat ditentukan oleh kredibilitas kita. Dalam kepemimpinan profesional, respek yang dapatkan dari anak buah; diperoleh melalui reputasi kita. Sedangkan kredibilitas dan reputasi itu, dibangun melalui kualitas pribadi kita.
 
Tapi, rasanya sebagai pemimpin gue sudah berbuat yang terbaik Dang. Kurang apa lagi coba?! Kurrrrang apppa lageeee?!
 
Mungkin memang begitu. Tetapi, penting bagi kita untuk memahami sudut pandang anak buah. Supaya upaya terbaik itu sejalan dengan situasi dan kebutuhan aktual di unit kerja Anda. Bukankah anak buah Anda itu adalah ‘Internal Customer’ Anda? Maka, mendengar aspirasi mereka; menjadi kewajiban kepemimpinan Anda.
 
Walau pun tidak saya beberkan semua hasil risetnya, namun ke-3 aspek diatas bisa menjadi titik awal yang baik untuk membenahi kualitas kepemimpinan kita. All the best to you, leader!

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment