Home / Artikel / Jabatan Dan Rasa Hormat

Jabatan Dan Rasa Hormat

 
Diantara sekian banyak orang yang memiliki jabatan, ada orang-orang yang dihormati oleh anak buahnya. Tapi. Ada juga yang nggak. Mana yang paling banyak?
 
Tidak pentinglah soal banyak apa tidaknya. Karena yang benar-benar penting untuk kita upayakan adalah kita, bisa menjadi atasan yang layak dihormati oleh anak buah. Bukan karena kita menginginkan itu. Tapi, karena mereka menilai pantas untuk begitu.
 
Mestinya, kalau orang punya jabatan otomatis pantas dihormati kan. Tapi kenapa kenyataannya tidak begitu? Karena, jabatan itu pada umumnya diberikan.
 
Contoh. Mr A dipromosikan menjadi menejer. Dia dikasih jabatan itu kan. Mr B diangkat menjadi direktur. Dia dikasih jabatan itu. Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden. Jabatannya merupakan sebuah pemberian. Asal cocok dengan pengambil keputusan a.k.a pemberi mandat, maka otomatis. Dapat jabatan. Dikasih.
 
Beda dengan rasa hormat alias respek. Tidak diperoleh melalui pemberian. Melainkan hasil dari perjuangan. Kalau mau naik jabatan, tinggal nungu dikasih aja. Maka kita pun akan punya jabatan.
 
Tapi kalau ingin mendapatkan rasa hormat. Mesti diberesin itu sikap dan perilaku sehingga orang-orang disekitar kita menilai kita sebagai pribadi yang memang layak mendapat rasa hormat.
 
Orang yang kelakuannya jelek pun, bisa jadi atasan. Asal dekat dengan pengambil keputusan. Tapi jangan harap dapat respek dari para bawahan. Respek yang sesungguhnya loh. Bukan yang abal-abal.
 
Emang ada respek abal-abal? Ada. Banyak malah. Sebenarnya, mereka tidak memikiki respek kepada orang itu. Tapi karena ‘butuh sesuatu’, ya udah. Pura-pura respek saja. Nggak genuin.
 
Lantas, bagaimana memastikan bahwa respek dari anak buah itu aseli atau KW 1000? Gampang sebenarnya. Banyak indikasinya kok. Tiga diantaranya adalah:
 
Satu. Anda harus mengeluarkan uang untuk anak buah agar mereka menaruh rasa hormat. Rasa hormatnya, bukan pada Anda. Tapi pada uang, yang selalu Anda berikan.
 
Sering-sering saja traktir mereka. Kasih duit ini dan itu. Maka anak buah Anda bakal suka sama Anda. Suka loh. Tapi respek? A-a…. Lagian. Istri dan anak-anak Anda lebih berhak menikmatinya kan. Ngapain disebut ‘take home pay’ kalau berceceran dijalan kan?
 
Sekali-sekali saja kalau mau traktir anak buah mah. Sehingga sehat buat membangun hubungan dengan mereka. Dan sehat juga pada Anda punya dompet.
 
Dua. Anak buah membicarakan hal-hal buruk tentang Anda dibelakang Anda.
 
Didepan Anda, anak buah bisa saja bicara yang bagus-bagus. Banyak kok orang yang berprinsip asal bapak senang.  Tapi penilaian baik anak buah terhadap kinerja kepemimpinan tidak terwakili oleh baiknya sikap mereka saat berhadap-hadapan.
 
Tiga. Pekerjaan anak buah Anda nggak beres. Kecuali ketika Anda tongkrongin dan pelototin mereka.
 
Ini ciri yang paling mendasar. Inti dari amanah kepemimpinan yang kita emban adalah berjalannya proses bisnis perusahaan. Melalui kerja bersama orang-orang yang kita pimpin.
 
Maka anak buah yang bekerja dengan sungguh-sungguh hanya ketika ditongkrongin oleh atasannya menunjukkan tidak adanya respek pada sang atasan.
 
Bawahan yang punya respek, tidak akan mempermalukan atasannya. Dia akan menjaga nama baiknya. Karena. Dengan begitu dia menjaga nama baik team kerjanya. Dan menjaga nama baik dirinya sendiri juga.
 
Tapi ya itulah. Rasa hormat dari anak buah bukanlah barang yang bisa didapatkan secara cuma-cuma. Orang bisa dipaksa untuk menjadi bawahan kita. Tapi tak satu pun bisa dipaksa untuk menghomati kita.
 
Why? Because. Unlike the title that you can get it as a grant. Respect, is the thing we must earn. Through the way we behave as a leader. And the way we treat people we lead.
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, And Public Speaker

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment