Home / Artikel / I Wish I…

I Wish I…

 
Melihat orang lain merupakan hal yang tidak bisa kita hindari. Walau berusaha sekuat tenaga, selalu saja sosok orang lain membayangi imajinasi kita. Dan dalam hati, kita berkata; “Seandainya saya seberuntung dia. Maka…”
 
Berusahalah sekuat tenaga untuk tidak memiliki pikiran seperti itu. Anda akan berhasil…untuk sementara waktu. Disaat-saat tertentu. Ketika roda kehidupan sedang berada di bawah, khususnya. Pikiran itu bakal kembali menghampiri. Lalu kita bilang lagi; “Seandainya saya seberuntung dia…”
 
Dalam sebuah eksperimen, ditemukan bahwa; orang yang berkulit putih, ingin kulitnya kecokelatan. Orang yang berkulit gelap pengen putih. Pemilik rambut ikal pengen rambut lurus. Sedangkan orang yang rambutnya sudah lurus, merasa bahwa penampilannya bakal lebih menarik andai saja dia punya rambut ikal. I wish I…
 
Dalam bertetangga. Tuan A membayangkan andai saja rumahtangganya seperti tuan B. Dan tuan B, merasa tidak seharmonis tuan A. Nyonya A dan nyonya B juga terkena sindrom yang sama. Putra putri A dan B, kepengen saling bertukar ‘keberuntungan’. I wish I…
 
Di dalam kehidupan profesional kita. Banyak fakta. Bahwa kita mengira pekerjaan orang lain lebih menarik daripada pekerjaan kita. Kerja disana, lebih asik dari pada disini. Boss mereka lebih enak diajak bicara dari pada atasan kita. Anak buah mereka, lebih mendengar kata-kata kita daripada para bawahan kita. I wish I….
 
Para peserta training saya tak sedikit yang bilang;”enak ya kerja seperti pak Dadang….” Mereka tidak tahu jika didalam hatinya, pak Dadang mengatakan “Enaknyaaaa kerja seperti mereka….”. I wish I….
 
Maka kemudian pak Dadang, Tuan dan nyonya A. Nyonya dan tuan B. Karyawan yang ini dan yang itu, sibuuuuk saling mengintip sosok diseberang jalan. Sampai lupa bahwa; apa yang ada pada dirinya, itulah anugerah terindah baginya. Modal yang memadai, untuk membekali dan mencukupi hidupnya.
 
“Sesungguhnya, kami telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sesempurna-sempurnanya.” Demikian Alloh berfirman dalam Al-Qur’an. Kitab yang menjadi rujukan utama orang-orang yang beriman.
 
Maka sesungguhnya apa yang dibutuhkannya untuk hidup layak. Berdaya. Berkarya. Mulia. Modalnya sudah ada. Didalam. Dirinya. Tak kurang. Bahkan mungkin berlebih. Karena faktanya, tak ada manusia yang bisa mendayagunakan segenap kapasitas otaknya. Tak seorang pun mampu memanfaatkan seluruh kekuatan tubuhnya. Tak pernah ada orang yang berhasil mengerahkan semua daya dirinya.
 
Semua bahan baku, mesin, tenaga, sistem, proses. Sudah ada dalam tubuh kita. Tinggal ‘dihidupkan’ saja mesin tubuhnya. Tanpa perlu iri pada apa yang Alloh berikan kepada orang lain. Karena semua yang dibutuhkan sudah komplit ada dalam diri kita. Lalu kenapa kita tidak kunjung memulai ‘proses produksi’ dalam diri kita? Utamanya, karena kita masih berpijak di ranah I wish I…
 
Nggak ada yang kurang sebenarnya kan? Bahkan kaum difable saja bisa meraih prestasi yang lebih tinggi dari pada kebanyakan orang lainnya kan? Lulusan SMP bisa melampaui karir para doktor. Orang kampung bisa lebih berhasil daripada orang-orang yang akte kelahirannya mengkonfirmasikan bahwa mereka lahir di Jakarta. Walau ijasahnya semua bertuliskan kota-kota ternama.
 
Nggak ada yang kurang. Kalau pun memang ada kekurangan dalam diri kita itu. Maka mungkin kekurangannya lebih berupa kurang bersyukur. Kurang sabar. Kurang mawas diri. Kurang gigih. Kurang giat. Aih. Banyak kurangnya geuning yach? Tapi. Semua bisa diatasi. Dengan menghilangkan kebiasan mengatakan ‘I wish I…’
 
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, And Public Speaker

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment