Home / Artikel / Hilangnya Kemampuan Kita

Hilangnya Kemampuan Kita

 
Harus diakui bahwa seiring dengan bertambahnya usia, ada hal-hal yang tidak bisa lagi kita lakukan. Wajar? Hanya untuk pekerjaan yang memerlukan tenaga fisik besar saja yang wajar. Sedangkan untuk aktivitas yang tidak menuntut kekuatan otot, tidak bisa dianggap wajar.
 
Terlebih lagi kalau yang hilang itu kemampuan yang tidak berhubungan dengan umur. Boleh jadi, banyak hal yang dulu bisa kita lakukan tapi sekarang tidak lagi. Contoh sepele, bagaimana kemampuan Anda dalam mengingat nomor telepon sejak adanya hand phone?
 
Contoh yang tidak sepele? Berapa cepat Anda bisa menghitung penjumlahan, pembagian dan perkalian sejak ada kalkulator? Jeblok. Apakah karena kita bodoh? Bukan. Itu karena otak kita jarang digunakan akibat adanya sarana yang memanjakan.
 
Contoh yang lebih serius? Berapa banyak keterampilan penting Anda yang hilang akibat tidak lagi digunakan. Padahal dalam urusan pekerjaan, keterampilan itu merupakan faktor yang sangat menentukan. Dan boleh jadi, setelah pensiun; keterampilan itu menjadi ladang nafkah pengganti gaji yang tidak kita terima lagi.
 
Saya kembali disadarkan soal ini hari rabu lalu. Dalam perjalanan ke Surabaya untuk training PROBLEM SOLVING & DECISION MAKING bagi klien saya. Di ruang tunggu bandara ultimate, saya baru menyadari bahwa mouse saya ketinggalan.
 
Lagi? Iya. Sudah berulang kali saya ketinggalan mouse. Padahal, perasaan semua perlengkapan sudah dimasukkan kedalam tas.
 
Dulu sekali. Sebelum terbiasa menggunakan mouse, tangan saya terampil mengatur kursor. Tapi sekarang, saya tidak lagi bisa mengoperasikan laptop secara efektif tanpa alat bantu mungil itu. Khususnya ketika sedang menyiapkan sarana training atau materi presentasi yang butuh sentuhan dan cita rasa tersendiri.
 
Nyata sekali bahwa baik otak maupun fisik kita, bakal tumpul jika tidak terus berlatih. Pisau tajam, kalau disimpan akan tetap tajam. Tapi otak kita, kalau jarang dipakai; bakal tumpul. Makanya kita harus terus ‘pake otak!’, betul?
 
Feeling kita juga sama loh. Apalagi otot dan motorik kita. Kalau jarang dilatih, bakal kaku dan cepat letih. Bahkan kalau terlalu lama tidak ‘praktek’, bakal kehilangan kegesitan dan keluwesannya.
 
Apakah orang yang jabatannya tinggi juga harus merawat kemampuan teknisnya? Begini faktanya: tidak sedikit petinggi perusahaan yang babak belur ketika mereka menjalankan bisnisnya sendiri pasca pensiunnya. Padahal waktu kerja dulu, wooo jagonya.
 
Mereka yang karirnya belum tinggi, gimana? Podo wae. Lihat bagaimana orang yang tekun ‘doing things’ lama kelamaan menjadi pribadi mumpuni.
 
Beda dengan pekerja yang cuma ‘mau’ mengerjakan sebatas job desc-nya saja. Keterampilannya terbatas. Karirnya susah naik ke atas. Apa yang hendak dilakukannya pasca pensiun pun enggak jelas.
 
Jadi pointnya apa? Pertama. Mereka yang sudah menguasai keterampilan penting, mesti terus diasah. Jangan sampai hilang. Walau tidak lagi mengurusi bidang itu. Karena boleh jadi, keterampilan itulah yang akan menjadi jalan ‘penyelamatan’ ketika kita butuhkan.
 
Kedua. Mereka yang masih ‘hijau’, jangan mau terkungkung oleh job description. Karena boleh jadi job desc-mu tidak sesuai dengan kapasitas dirimu.
 
Challenge yourself to learn and acquire important skills. Supaya nilaimu melampaui posisimu. Dan kualifikasimu memungkinkan dirimu meraih peluang bagus yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang maknyus.
 
Begitu pesawat mendarat di Bandara Juanda Surabaya, eh Sidoarjo; saya langsung menuju ke toko yang menjual asesoris gadget. “Mbak jual mouse?” Tanya saja.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment