Home / Artikel / Harassment Spele

Harassment Spele

 
Kelihatannya sepele. Tapi, hidup seseorang bisa berantakan hanya karena melakukan kesalahan sepele itu. Jangan sampai kita menyesal karena melakukan harassment.
Contohnya, kemarin diberitakan 2 penumpang Garuda yang harus berurusan dengan penegak hukum karena melakukan harassment kepada pramugari yang bertugas.
Jadi harassment itu apa? Intinya, semua tindakan yang tidak menyenangkan orang lain. Di negara maju, Anda ‘menatap’ orang lain saja bisa diadukan ke polisi loh. Di negara tetangga dekat kita, turis yang ‘sok akrab’ dengan orang sana didatangi interpol.
Dalam konteks pekerjaan, harassment sering dikaitkan dengan ketidaksenonohan. Makanya disebut sexual harassment. Banyak saya melihat kaum profesional kita tidak mengindahkan hal ini. Ada yang karena nggak paham. Ada juga yang memang nakal.
Dalam salah satu event training saya pekan lalu juga dibahas tentang kejadian dikantor klien itu. Seorang karyawan yang punya jabatan dipecat. Penyebabnya? Seorang mahasiswi yang sedang PKL disana tidak senang ketika karyawan itu ‘memegang’ pundaknya. Sepele? Tidak.
Karyawan yang tidak mengindahkan kesantunan dalam interaksinya dengan karyawan lain, sebaiknya segera menata kembali pola perilakunya. Jika tidak, bisa rugi sendiri nanti. Karir yang sudah dibangunnya bertahun-tahun bisa hancur lebur dalam sekejap. Minimal, nama baiknya bakal tercoreng.
Di perusahaan lain yang saya kenal. Sejumlah karyawan dapat bonus incentive trip. Pulang dari pelesir, karyawannya berkurang satu. Kenapa? Dia diadukan oleh seseorang karena tindakan tak senonohnya. Again, dia merasa ‘cuma gitu aja kok’. Out!
Di negara yang penegakan hukumnya lemah seperti Indonesia,  hukuman dari perusahaan, bisa lebih keras daripada hukuman oleh polisi. Laporan ke polisi, kadang cuman diselesaikan dengan ‘damai’. Capek juga ngurusinnya. Malah dipertanyakan pula;”masak gitu aja kok lapor polisi.” Hukuman dari perusahaan, bisa sampai pemecatan.
Sebenarnya, agama sudah memberi pagar yang jelas. Dalam Islam misalnya, memandang lawan jenis lama-lama saja sudah tidak boleh. Apalagi pake pegang-pegang segala. Coba perhatikan dikantor Anda. Karyawan laki-laki kadang dengan santainya memijit-mijit pundak anak buahnya yang perempuan. Be careful loh. Bisa jadi modus hukum itu.
Salah seorang peserta pelatihan saya bertanya;”Kalau suka sama suka bagaimana Kang Dadang?”
Pertanyaan yang bagus kan. Pertama, bahkan suka sama suka pun ada tempatnya. Tidak patut orang melakukan hal itu kantor. Lagi pula, Anda harus tahu; apakah anak buah Anda itu suka, ataukah  sungkan menolak perlakuan Anda.
Kedua. Kalau istri Anda bekerja. Terus dipijitin pundaknya oleh teman sekantornya, Anda terima dengan sukarela? Maaf, B360 saja kalau Anda mengikhlaskannya. Dalam tuntunan agama, itu dayus namanya. Membiarkan pasangan disentuh oleh orang lain.
Kasus pramugari Garuda itu merupakan contoh betapa pentingnya mendidik karyawan untuk melindungi dirinya sendiri dari perilaku tidak senonoh orang lain. Sehingga, mereka memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyikapi setiap tindakan tidak patut. Baik yang dilakukan oleh orang luar. Maupun oleh sesama karyawan.
Kasus harassment justru lebih sering dilakukan oleh sesama karyawan. Dengan dalih akrab atau kekeluargaan. Terutama oleh karyawan senior kepada juniornya. Atau atasan kepada bawahannya.
Hubungan yang erat antara anak buah dan atasan memang berdampak besar pada kinerja team. Tapi hubungan seperti itu bisa dibangun secara sehat. Yaitu dengan sikap dan perilaku profesional. Sehingga cocok dengan norma umum. Lebih bagus lagi kalau dasarnya menjalankan tuntunan agama. Dapat pahala.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment