Home / Artikel / Harapan Ada di Daerah

Harapan Ada di Daerah

 
Bagi orang yang pernah berkarir dibidang strategic planning seperti saya,tidak sulit memahami bahwa Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Study terbaru OECD dan PWC mengkonfirmasinya. Indonesia. Bakal menjadi 1 dari 4 kekuatan ekonomi terbesar didunia ditahun 2045!
Hal itu diungkapkan dalam forum ‘Economic Leader for Regional Government Leader’ yang digagas Bank Indonesia, Apkasi, dan Lemhanas tanggal 31 Agustus – 2 September lalu. Saya salah satu pembicaranya.
Ada 2 pertanyaan yang patut direnungkan. Pertama, apakah ekonomi Indonesia itu ditopang dominan oleh produksi, atau konsumsi? Dan, apakah pencapaian bidang ekonomi itu diimbangi dengan pemerataan?
Layak direnungkan, bukan hanya oleh para kepala daerah yang hadir dalam forum itu. Melainkan juga oleh para profesional dan intelektual seperti Anda.
Bukan jawaban verbal yang kita butuhkan. Namun tindakan konkrit berupa strategy pembangunan yang diterapkan di level daerah. Dan dukungan sumber daya manusia handal seperti Anda.
Dalam forum itu, paparan saya berfokus kepada peran leadership kepala daerah. Bagaimana kepala daerah bisa mendorong terciptanya iklim produksi melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan didaerahnya masing-masing.
Namun disini, saya mengajak Anda merenungkan; peran apa yang bisa Anda mainkan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi itu benar-benar menempatkan bangsa kita pada posisi sebagai pelaku ekonomi. Bukan sekedar pasar bagi produk dan jasa yang bukan kita pemiliknya.
Celaka bangsa Indonesia, jika kebiasaan kalangbkabutnya penyelenggara negara terus terjadi. Sebelum MEA diterapkan misalnya. Kita ingat bagaimana wacana pemberdayaan masyarakat di tingkat pusat.
Konkritnya? Tinggal dilihat berapa banyak produk luar yang masuk dan produk dalam negeri yang keluar. Tegasnya, lihat saja neraca perdagangannya.
Bagi awam seperti kita memang tak gampang melihat neraca perdagangan.  Tapi, dengarkan saja; apakah hutang negara kita bertambah atau berkurang?
Itu baru dari sisi produk. Dari sisi SDM bagaimana? Mudah juga menilainya. Jika para pekerja asing lebih banyak masuk ke Indonesia daripada pekerja kita yang pergi kesana, maka kita defisit.
Bagaimana kalau sampai pekerja kasarnya pun impor pula? Kiamat buat Indonesia. Indikasinya sudah kelihatan Dan itu. Menunjukkan betapa salah urusnya ini negara. Sehingga bangsa kita, terancam menjadi seperti ayam. Yang mati. Di lumbung padi.
Sekalipun begitu, saya melihat matahari penuh harapan lahir di daerah. Melalui kepemimpinan para kepala daerah yang mumpuni. Ada 416 kabupaten di negeri kita. Itu diluar pemerintahan kota. Dan dipundak mereka pengelolaan masa depan bangsa berada.
Kita melihat adanya harapan, karena:
Satu, banyak aspek yang bisa di benahi daerah. Bukan karena selama ini jelek. Tapi karena banyak potensi yang belum optimal dikelola. Sehingga daerah, bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi negara.
Dua. Daerah adalah sentra sumber daya alam yang luar biasa. Mesti kita jagaian dengan cara memampukan masyarakat sekitar dalam mengelolanya. Jadi, bukan orang asing yang mengeruknya. Kitalah yang memanfaatkannya.
Tiga. Ini fakta. Di daerah. Banyak pemimpin publik yang hebat. Yang terbukti mampu berkarya buat memajukan daerahnya. Dan mensejahterakan rakyatnya. Mulai dari tingkat bupati bahkan kepada desa.
Contoh. Di Bantaeng misalnya. Kesehatan masyrakat terjamin tanpa perlu bayar premi. Pertanian maju hingga bisa ekspor hasil bumi. Belum sempurna. Tapi, seperti itulah titik cerahnya.
Bupati lainnya ada nggak? Banyak. Cuman kitanya saja yang terlalu sibuk dengan berita sampah hiruk pikuk elit politik tingkat pusat. Di daerah, harapan itu menyemburat….

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment