Home / Artikel / Halba Ruku Halba Rumu

Halba Ruku Halba Rumu

 
Di setiap momen pergantian tahun saya mempunyai pertanyaan ini;”Apa sih hal baru pada dirimu ditahun baru?”. Pertanyaan itu tidak saya ajukan kepada Anda. Melainkan kepada diri saya sendiri. Tapi boleh jadi, itu juga cocok bagi Anda kan?
Kita ini heboooh dengan perayaan tahun baru. Tapi, nggak terlalu peduli pada ada atau tidaknya hal baru dalam hidup kita; yang layak untuk dirayakan. Makanya, pesta kembang api kita itu sebenarnya buat merayakan apa ya?  Kalau cuman ganti kalender tanggalan doang mah buat apa pake perayaan segala. Gak sepadan.
Saya senang, setìap kali menerima ucapan ‘selamat tahun baru’. Serasa punya banyak teman. Tapi juga sedih. Khususnya ketika ucapan selamat tahun baru dari teman itu tidak diimbangi dengan hal baru dalam diri saya. Pekerjaan saya. Atau kehidupan saya lainnya.
Teman-teman mengira saya punya hal baru bersamaan dengan datangnya tahun baru itu. Mereka kira, saya punya hal baru yang bakal menciptakan perbedaan bermakna dalam hidup saya ditahun baru ini. Sehingga hidup saya, lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Makanya, mereka mengira saya layak merayakannya.
Sebenarnya, ada nggak sih hal baru itu? Susah menjawabnya. Karena ternyata, kita lebih mudah terhanyut dalam hiruk pikuknya. Terlena dalam all night long party-nya. Daripada merenungkan makna hidupnya. Makanya, ketika bangun dikeesokan harinya, kepala puyeng. Sekujur tubuh terasa penat. Dan hati, serasa hampa.
Semakin hampa lagi ketika mulut berkata ‘Hore, Tahun Baru!’. Lalu hati nurani bertanya ‘apa sih hal barumu?’. Sementara otak ini sama sekali tidak mempunyai jawabannya.
“Bodo ah, Dang. Yang penting hepi!”. Mungkin ada yang berpendapat begitu. Boleh juga. Jika memang hidup itu sekedar soal hepi-hepi. Nyatanya kan tidak demikian. Hidup kita, memiliki warna dan warni yang melebihi sesi hepi-hepi.
“Anggap saja kamu benar, Dang. Tapi ada 2 fakta ketidakvalidannya. Pertama, pesta itu sudah terlanjur terjadi. Kedua, tidak semua orang berpesta. Jadi omong kosongmu itu gak bermakna apa-apa!”
Ehm. Berpesta atau tidak itu hak individu yang tidak perlu dipermasalahkan. Bagi mereka yang kemarin berpesta, gak jadi soal. Asal, punya hal prinsipil yang baru dalam dirinya; sejalan dengan kebaruan tahun baru yang dipestakannya.
Sudah  punya hal baru? Bagus, kalau sudah. Kalau belum, masih ada waktu untuk merumuskannya. Sekarang. Ayolah. Jangan cuman tahun barunya doang yang digadang-gadangkan. Hal fundamental dalam hidup kita, mestinya ada yang baru juga. Dan itu, tidak kalah pentingnya dibandingkan pesta dan euforia Anda.
Bagi yang tidak berpesta dimalam tahun baru? Sah juga. Namun bagaimana pun juga, toh Anda pun harus mengganti kalender yang tergantung didinding rumah Anda kan? Suka atau tidak, Anda terikat pada tanggalan tahun baru. Tidak bisa tidak. So, soal hal baru itu berlaku juga bagi yang tidak berpesta pora kan?
Intinya sih begini; saya, Anda, kita semua. Mempunyai kesempatan bukan hanya untuk memasuki tahun baru. Tapi juga untuk menjadi manusia yang baru. Sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Meski dalam lingkup kecil sekalipun. Sehingga, bukan hanya tahunnya yang baru. Dalam diri kita pun, harus ada hal baru. Insya Allah, ada halba ruku. Ada juga kan halba rumu?
Catatan kaki:
Ada tidaknya hal baru, tahun mah tetap saja bakal berganti baru. Iya. Tapi masak sih kita kok lebih peduli pada perayaan tahun baru daripada membangun hal-hal baru dalam diri kita?  
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Penulis, Trainer, Pembicara Publik.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment