Home / Artikel / Hak Berdisiplin

Hak Berdisiplin

 

Benarkah orang Indonesia itu kurang disiplin? Dalam hal-hal tertentu, iya. Bukan hendak mempermalukan bangsa sendiri. Tetapi, kita tidak bisa menutupi hal-hal kasat mata dan sudah menjadi budaya. Disiplin waktu. Disiplin antri. Disiplin buang sampah. Disiplin pada aturan. Kita, memang masih kedodoran.

Apakah kita tidak pernah diajari disiplin? Woooh, sudah. Dirumah, biasanya Ayah merupakan sosok pelatih disiplin tangguh. Sekalipun Ibu, suka menjelma menjadi malaikat yang sangat toleran. Akar kedisiplinan sudah ada dalam diri kita. Dibawa dari rumah tentunya.

Disekolah juga. Masih ingatkah Anda bahwa pintu gerbang SMA kita ditutup tepat jam 7 pagi? Anak SMA di Jakarta malah tidak bisa lewat gerbang lebih dari 6.30. Kita, sebel banget sama satpam. Terlebih lagi pada guru BK. Padahal, ternyata itu adalah bekal hidup berharga kelak jika sudah dewasa.

Saya pernah bekerja bersama orang dari beberapa negara. Orang kita, agaknya masih di ranking bawah kalau soal kedisiplinan. Padahal, soal skill sering lebih handal dari orang lain. Maaf ya, orang Indonesia itu kreatif. Dan sanggup bekerja dalam berbagai keterbatasan. Sayangnya, buruk dalam soal sisiplin.

Lantas, kenapa kita sampai babak belur begitu? Ini soal perilaku kolektif. Di tempat kita, sudah jamak jika telat. Aneh kalau ada orang yang waktunya tepat. Di lingkungan kita, lumrah merokok dimana saja. Aneh jika ada yang menegur ‘jangan merokok disini’. Disekitar kita biasa orang melempar sampah seenaknya. Kalau ada yang komentar, dibilang bawel.

Dikantor kita? Orang kalau diajak disiplin malah nyolot. Minimal ndablek. Dia bilang, atasan gue juga begitu. Lucunya, kebanyakan orang sikapnya begitu. Walau tidak selalu keluar berupa ucapan. Karena atasannya berlaku begitu, merasa berhak untuk ikut begitu.

Masalah kita adalah, merasa berhak melakukan apa yang orang lain lakukan. Walau itu buruk. Kalau orang lain boleh, kenapa gue tidak? Kalau boss boleh, nape gue kagak?! Kalau teman-teman boleh, kenapa gue nggak!?

Ya memang berhak begitu. Tapi apakah semua hal yang kita berhak harus kita ambil? Lha kalau urusan yang bikin mudharat masa mesti dilakukan juga?

Atas nama persamaan hak itu, kita mengukur kualitas pribadi kita dengan kelemahan orang lain. Padahal, kelebihan orang itu tidak kita tiru sepenuhnya apa belum? Yang buruk ditiru. Yang baik ditampik.

Coba deh dibalik mikirnya. Orang lain punya kelemahan apa? Nah kelemahannya itu, kita pastikan tidak kita miliki. Lantas, keunggulannya apa? Nah. Keunggulan itu kita adopsi. Maka dengan begitu, Anda bisa menjadi pribadi yang memiliki banyak keunggulan. Sekaligus minim kelemahan.

Coba lihat sekali lagi persoalan kedisiplinan kita. Bukan kita nggak pernah diajari. Bukan kita nggak ngerti. Bukan karena kita blo’on. Tapi karena orang lain disekitar kita melanggarnya. Lalu asas persamaan hak mendorong kita untuk melakukan hal yang sama.

Padahal soal ini, Allah sudah berfirman; “Fastabiqul khairoot…” Berlomba-lombalah kalian dalam melakukan kebaikan. Tuch. Jelas kan. Dalam kebaikan hendaknya kita berlomba. Jika orang lain sebaik itu, kenapa kita nggak? Jika orang lain disiplin. Kenapa. Kita. Tidak.

Sesungguhnya. Kita berhak melakukan apa yang orang lain boleh lakukan. Namun kita. Lebih berhak lagi untuk melakukan hal-hal baik yang orang lain lakukan. Soal hal buruknya, kita tidak berhak. Karena, kita lebih baik dari orang-orang yang membiasakan diri melakukan hal-hal yang buruk.

Catatan kaki:

Mengikuti orang lain itu ada bagusnya juga. Tapi, tidak dalam setiap tindakan. Untuk hal-hal tertentu, malah lebih baik tidak mengikuti apa yang kebanyakan orang lakukan.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment