Home / Artikel / Generasi Millennial Di Kantor Anda

Generasi Millennial Di Kantor Anda

 

Besar kemungkinan, posisi-posisi penting di perusahaan Anda saat ini di pegang oleh Gen Xers. Yaitu mereka yang lahir antara tahun 1966 hingga menjelang 1980. Disisi lain, karyawan-karyawan baru Anda adalah kaum millennials. Apakah Anda melihat fenomena ini?

Belum lama ini saya mendapat undangan dari klien untuk membahas tentang pekerja generasi millenial. Seperti di kebanyakan perusahaan lainnya, ada kesenjangan sikap dan pola pikir millennials dengan para atasannya yang Gen Xers.

Kemudian kesenjangan itu menimbulkan ‘kegelisahan’ budaya dan lingkungan kerja. Seluruh telunjuk mengarah kepada kaum millennials sebagai penyebabnya. Kenapa? Karena sebelum mereka datang, segala sesuatunya tertata dengan tertib. Santun. Dan sesuai hirarki.

Begitu mereka datang, segalanya jadi kacau. Hal pertama yang menghilang adalah ‘tata krama,’ katanya. Orang yang sudah ‘mateng’ tercengang ketika melihat karyawan baru bertingkah dengan gaya dan cara yang berbeda. Kayak alien saja.

Berikutnya adalah ‘kedisiplinan’. Betapa sulitnya mengajari anak-anak muda itu untuk berdisplin, katanya. Kerja sambil dengar music pakai ear phone. Dikasih kerjaan nyantai saja. Dan ada berbagai ‘kekacauan’ lainnya yang terjadi karena mereka. What should we do?

Hal pertama yang mesti kita sadari tentu saja adalah fakta bahwa zaman memang SUDAH – bukan sedang – sudah berubah. Generasi telah berganti. Bulan ini, misalnya. Seorang pemuda berusia 29 tahun diangkat Kraft Heinz untuk menjadi CFO. Di usia segitu, jadi CFO perusahaan dengan kapitalisasi pasar 100 Milyar dollar? Wooo… never happened before.

Tapi. Sebetulnya tidak terlalu mengejutkan. Jika kita mengikuti sepak terjang kaum milenial selama ini. Majalah Forbes misalnya, punya daftar ’30 UNDER 30′. Yang berisikan 30 kaum muda yang karirnya mengagumkan. Sebelum diangkat menjadi CFO, David Knopf – yang 29 tahun itu – adalah salah satu yang tertera dalam list itu.

Di kategori keuangan, Knopf bukan orang paling muda dalam list itu lho. Ada Zach Hamed di Goldman Sachs, misalnya. Tahu berapa usianya? Baru 23 tahun!

Ini adalah fenomena. Yang tidak bisa dihadapi dengan mengumbar kekhawatiran, dominasi dan senioritas Gen Xers. Zaman ini memang sudah menjadi milik kaum millenial kok. Tugas kita, adalah memuluskan proses hand over-nya.

Apakah itu berarti bendera putih buat para ‘senior citizen’ seperti kita? Weits, bukan begitu. Kita justru beruntung, karena berada pada masa dimana proses alih generasi itu terjadi.

Kedua, sudah waktunya memberi peran lebih banyak pada kaum millenial. Kenapa? They will soon rule the world. Konon kan setiap pemenang dalam bisnis adalah those who work with the rulers.

Populasi market terbesar kita sekarang adalah kaum millenial. Dan masih akan terus bertambah. Karakter dan tuntutan mereka beda dengan customer konvensional yang jumlahnya pasti semakin ‘menyusut’.

Beri pekerja millenials itu ruang untuk mengeksplorasi kapasitas dirinya dalam menentukan arah pada masa depan perusahaan. Whats? Iya. Karena the future of the business ada ditangan mereka.

Memberi peran lebih banyak pada Millenials memungkinkan perusahaan untuk think & act like them. Sehingga produk, jasa dan strateginya akan lebih kompatible. Emangnya Gen Xers nggak bisa? Bisaaa. Tapi, yagidudeh…

Lalu apa peran para Gen Xers? Tidak usah khawatir. Masih banyak peran yang harus dimainkan. Walaupun Millenials mengambil alih banyak peran, namun fungsi-fungsi tertentu; masih menjadi domain Gen Xers.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment