Home / Artikel / Era Perang Hoax

Era Perang Hoax

 
Dalam sejarah manusia, pernah ada perang besar tanpa senjata. Namanya perang dingin. Itu dulu. Sekarang, ada jenis perang lain. Perang hoax namanya. Nggak berdarah-darah. Tapi kerusakkan yang ditimbulkannya lebih parah. Akibat bertebarannya dusta dan fitnah.
Sebagian orang memvonis korban hoax itu sebagai manusia tidak cerdas. Bahkan ada pula yang memberi label ‘tidak punya otak’. Dari hoax, orang saling merendahkan. Dan boleh jadi, mengarah kepada keributan.
Saya sendiri tidak tahu, sejak kapan hoax menjadi alat ukur kecerdasan seseorang. Dengan alat ukur ‘terbaru’ itu, saya pun mungkin masuk kategori tidak cerdas.  Yang jelas, fenomena yang kita lihat menunjukkan masifnya kerusakan yang ditimbulkan perang hoax.
Di panggung politik, hoax menjadi metode favorit untuk menaikan rating jagoan lewat berbagai klaim kosong dan pencitraan, sekaligus cara efektif mendiskreditkan lawan. Well, hoax mewarnai hampir semua aspek kehidupan. Nyaris nggak ada wilayah tanpa hoax.
Kalau menelaah kitab-kitab berisi nasihat Rasulullah, ternyata memang ada isyarat zaman yang sudah beliau wanti-wantikan. Banyak tanda zaman yang beliau peringatkan, kini menjadi kenyataan. Salah satunya ya perang hoax ini, walau tidak secara eksplisit disebut demikian.
Misalnya, sabda Nabi SAW ini: “Segeralah kalian melakukan amal saleh, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita….”
Saya, tidak mengidentikkan hoax dengan fitnah. Tapi bahwa hoax merupakan bagian dari fitnah, tidak bisa dibantah. Misalnya, seseorang membuat hoax tentang perbuatan tercela Anda. Karena merasa tidak seperti itu, maka Anda akan  bilang; “Itu fitnah!”
Sekarang, fitnah sudah bertebaran dimana-mana. Tapi fitnah hoax, agak beda dari jenis fitnah lainnya. Yang satu ini, efeknya ‘samar’. Nyaris tak terasa. Tapi justru karena tak terasa itulah efek merusaknya bisa lebih parah.
Seperti kodok yang akan segera melompat kabur ketika dicelupkan ke air panas. Tapi kalau direbus dalam air dingin yang dipanaskan perlahan-lahan, dia akan terlena. Hingga berakhir menjadi soup swike.
Sekalipun demikian, hoax hanyalah mata rantai dari serangkaian fitnah akhir zaman. Dengan kata lain, fitnah lain akan terus berdatangan. Dan boleh jadi, yang datang dikemudian hari bobotnya lebih dahsyat lagi.
Soal ini, tidak asing bagi kaum muslimin. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang berbagai fitnah yang sebagiannya lebih ringan dari yang lain (maksudnya fitnah itu ada tingkatannya)…
… Setelah itu datang fitnah lain. Orang-orang mukmin berkata, ‘barangkali fitnah inilah yang akan membinasakan aku’…
… Setelah hilang fitnah tersebut, timbul pula fitnah yang lain. Dan orang mukmin berkata, ‘barangkali fitnah inilah yang akan membinasakan aku’…” demikian sabda Nabi.
Rasulullah menasihati kita agar selalu bersiap menghadapi fitnah demi fitnah yang datang silih berganti. Mengepung kita dari berbagai arah. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?
Pertama, sesuai nasihat Nabi: Bersegeralah kalian melakukan amal soleh. Ini yang paling utama dan paling pertama. Maknanya, semakin mendekatkan diri kepada Alloh. Patuhi perintahnya. Jauhi larangannya. Insya Alloh, kita bakal selamat dari fitnah.
Kedua, menjaga diri dan keluarga terdekat kita. Ini bukan egois. Tapi, memang kewajiban kita. Dan sungguh, ini tidaklah mudah. Kisah Nabi Luth dan Nuh menjadi ibroh bagi kita bahwa membawa istri dan anak menuju kepada kebaikan itu sangat berat.
Ketiga, teruslah beramar ma’ruf nahi mungkar. Maknanya, mengajak orang lain untuk sama-sama melakukan kebaikan. Dan mencegah perbuatan buruk. Belum tentu berhasil memang. Tapi, begitulah peran kita sebagai khalifatullah.
Tentunya kita ingin hidup tenteram dan damai. Tetapi, semakin marak dan merajalelanya fitnah hoax ini menunjukkan bahwa isyarat Nabi tentang semakin dekatnya akhir zaman itu benar. Dan boleh jadi, saatnya sudah sangat dekat. Wallohu a’lam….

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment