Home / Artikel / EMPATI ITU SEPERTI….ASAP

EMPATI ITU SEPERTI….ASAP

 

Empati. Sebuah kata sederhana. Namun, dalam sekali maknanya. Orang empati, bisa merasakan perasaan orang lain meski dia sendiri tidak mengalaminya. Kepada penduduk daerah yang sekarang sedang diselimuti asap, misalnya. Adakah sedikit empati dihati Anda?

Saya membaca seseorang menulis dalam statusnya. “Baru kena kabut asap saja sudah ribut.” Demikian tulisnya. “Apalagi kalau kena tsunami.” Itu contoh pribadi yang tidak punya empati. Mungkin bukan karena buruk hati. Tapi karena dia tidak tahu, bagaimana rasanya hidung dicocok oleh asap.

Bagaimana dengan orang yang tahu rasanya, tapi cuek bebek saja? Mungkin dongeng dibawah ini bisa menjadi salah satu referensi. Begini ceritanya.

Terik matahari jam 12 bukanlah kabar menyenang ditengah kemacetan lalu lintas Jakarta. Seperti yang terjadi hari itu. Kendaraan dari berbagai jenis mengantri sambil mengebut dalam diam. Mesin berbunyi, tapi bodi mematung.

Semua orang merasakan gerahnya tanpa kecuali. Semua orang sabar mengantri tanpa kecuali. Kecuali… seseorang yang berkendara mobil pribadi. Dibunyikannya klakson mobil mahalnya berkali-kali. Tidak peduli dia dengan para pejalan kaki. Yang telinganya terasa pekak karena klakson yang dibunyikannya berulang kali. “Trintin Tiiiiin Tiiiiin Triiiiiiin…..” bunyinya.

Seorang penyeberang jalan yang pas melintas didepan mobilnya terkejut. Lalu secara spontan dia berteriak “Wooooi…. berisik”. Semua mata memandang kearahnya. Demikian pula sang pengendara perlente itu.

Bedanya, kalau yang lain hanya melihat. Kalau pengendara itu? Menurunkan kaca jendela mobil kerennya. Lalu; “APA LU?!” hardiknya. Layaknya penguasa dzalim saja lagaknya.

Semua orang pada gemas kepada pengendara itu. Tidak ada orang yang simpati kepada manusia arogan seperti itu. Meskipun dia kayak orang kaya. Atau kayaknya punya kedududukan, mungkin. Warga yang kesal pada berdiri lalu mengelilingi mobilnya yang nggak bisa lari.

Ketika masa hendak main hakim sendiri, seorang lelaki menyeruak ke tengah kerumunan. Lalu dia meminta masa untuk tenang. Pengemudi arogan yang sudah dikepung masa itu tidak bisa menolak ketika dimintanya untuk berdiri didepan mobilnya. Lalu seseorang lainnya disuruh membunyikan klaksonnya.

Semua orang, boleh tutup telinga. Kecuali yang empunya kendaraan bawel itu. “Trintin Tiiiiin Tiiiiin Triiiiiiin…..” begitu bunyinya. Dan bunyi itu, tidak berhenti sampai orang itu minta ampun.

Sekarang dia tahu bahwa bunyi klakson mobilnya terdengar sedemikian nyaring bagi orang disekitarnya. Dia tidak tahu itu, karena mobil kerennya kedap suara. Sekarang, dia merasakan sakit dan pekaknya telinga orang lain setiap kali dia  memencet-mencet klakson sombongnya. Sambil menumpahkan kekesalan pada kemacetan jalan.

Kesadaran seperti itukah empati? Bukan. Itu adalah keterpaksaan. Sedangkan empati, datang dari kesadaran bahwa penderitaan, kesulitan, dan kesusahan orang lain itu menjadi perhatian baginya. Dari situ, timbul kepedulian. Lalu pada tahap selanjutnya, mungkin ada tindakan.

Jadi, apakah pemerintah dan DPR harus berempati kepada penduduk yang sedang terkurung kabut asap itu? Iya. Supaya meski tinggal di Jakarta yang adem ayem, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Tidak usah dipaksa paham seperti sopir arogan itu. Karena melayani rakyat adalah bagian dari sumpah jabatan. Yang akan Allah tanyakan; “Apakah sudah ditunaikan?”

 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment