Home / Artikel / Ekonomi Orang-Orang Pintar

Ekonomi Orang-Orang Pintar

 

Kalau soal perekonomian negara, masyarakat itu sebaiknya diajak berpikir sederhana saja. Tapi akurat. Jangan dicekoki dengan pikiran rumit. Apa lagi jika yang rumit itu tidak sejalan dengan nalar. Pada akhirnya, masyarakat akan lebih berpihak kepada nalar itu daripada ‘kata-kata’ para ekonom.

Bikin sederhana. Dan sejalan dengan nalar, maka mudah diterima. Dan berpeluang juga untuk diikuti dan dijalankan. Soal daya beli masyarakat misalnya. Sekarang sudah lebih kerasa unsur ‘mencari pembenaran’-nya dari pada kajian ilmiahnya.

“Bukan daya beli yang turun,” demikian kata orang-orang pintar yang diwakili oleh akademisi, ahli ekonomi, politisi dan birokrasi. “Melainkan terjadi shifting”. Katanya.

Well. Tidak perlu gelar akademik tinggi untuk sadar adanya shifting. Orang awam juga paham kalau terjadi shifting. Bagaimana bisa tahu? Gampang. Jumlah uang kan tidak berkurang. Jadi, duitnya ada. Tapi, duit itu sekarang tidak berada ditangan mereka. Artinya, duit itu berpindah tangan. Itu shifting.

Pengusaha juga tahu ada shifting. Dari mana? Dari fakta bahwa transaksi jalan terus. Tapi transaksinya bukan dengan mereka seperti terjadi dimasa lalu. Itu juga shifting. Kita paham. Barangkali, yang tidak dipahami oleh orang-orang pintar itu adalah; Gimana solusinya? Padahal, itu yang dibutuhkan masyarakat.

Masyarakat itu siapa? Ada 2 komponen utama. Pertama, rakyat kebanyakan yang mencakup sekitar 66-80 % populasi. Kedua, pengusaha kecil dan menengah yang menggenapkan jumlahnya hingga sekitar 90% an rakyat Indonesia. Sisanya siapa? Mereka adalah orang-orang yang kondisi ekonominya tidak akan bermasalah walau tidak ditopang oleh kinerja pemerintah.

Orang-orang pintar itu juga sebaiknya berhenti mangatakan “tidak ada anomali mikro dan makro ekonomi”. Sambil mengakui bahwa tengah terjadi perubahan radikal dalam pola belanja dan bisnis model. Nanti mereka jadi kelihatan kurang pintar. Karena kalau nalar dipakai, maka kita akan paham bahwa perubahan tak lazim itu; ya anomali namanya.

Bakal jadi lebih konstruktif kalau kemampaun orang pintar itu dikerahkan untuk menggali dan mengeksplorasi solusi yang aplikatif bagi kedua komponen masyarakat diatas. Misalnya:

(1) Mendidik masyarakat agar bisa lebih mandiri secara ekonomi. Supaya mereka bisa bertahan dalam terpaan ‘shifting’ itu. Bukan fokus pada shiftingnya. Tapi pada solusinya. Pada daya tahan ekonominya. Pada sikap mentalnya. Pada perilaku produktifnya. Ajari masyarakat: gimana caranya?

(2) Bantulah para pengusaha untuk meningkatkan daya saing mereka. Supaya tetap bisa kompetitif, walaupun persaingan di era disruptif ini makin sengit. Bukan fokus pada disrupsinya. Tapi pada inovasinya. Pada strateginya. Pada tata kelola usahanya. Bantu mereka: bagaimana jalan keluarnya?

Akademisi dan ahli ekonomi itu memang mitra bagi politisi dan birokrasi. Tapi bentuk kolaborasinya harus berorientasi kepada kepentingan masyarakat negeri sendiri. Sehingga apapun yang mereka bicarakan dan kerjakan ya untuk sebesar-besarnya manfaat buat masyarakat.

Maka ekonom dan akademisi bisa berbeda pendapat dengan politisi dan birokrat. Harus malah. Karena harus ada sistem kontrol pada kinerja aparat.

Anomali justru terjadi ketika situasi ekonomi masyarakat morat-marit, tapi akademisi sepakat terus dengan birokrasi. Itu indikasi jika fungsi ilmuwan tidak berjalan sebagai mana mestinya. Sehingga tidak kritis lagi menyikapi keadaan. Padahal, ‘Pengabdian Pada Masyarakat’ adalah jiwa keilmuwanan. Hallo, orang pintar. Hallo… Are you there?


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment