Home / Artikel / Disukai Oleh Anak Buah

Disukai Oleh Anak Buah

 
Anda pasti punya atasan. Jika atasan Anda itu selalu membuka diri untuk Anda, Anda tentu suka kan. Jika setiap kali Anda membutuhkannya, dia selalu ada untuk Anda. Tidak membuat jarak dengan Anda. Memandang Anda sebagai manusia yang layak dihargai sebagaimana manusia lainnya. Anda suka? Tentu saja.
Maka, kira-kira sifat-sifat seperti itulah yang harus dikembangkan untuk membuat anak buah suka kepada atasannya. Saya paham jika sebagian dari kita masih ada yang alergi dengan soal ‘like’ and ‘dislike’. Tapi dalam konteks ini, ‘being liked’ merupakan salah satu faktor penting dan menentukan efektivitas sebuah kepemimpinan. Begitulah faktanya.
Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak akan berhasil memimpin jika tidak disukai anak buahnya. Karena memang, memimpin itu bukan untuk menyenangkan semua orang. Bakal ada saja yang tidak suka.Tapi. Kepemimpinan itu makin efektif, jika kita bisa menjadi pemimpin yang disukai oleh anak buah.
Lantas, bagaimana caranya supaya bisa menjadi pemimpin yang disukai oleh anak buahnya? Silakan lihat kembali dan renungkan paragraf pertama yang Anda baca dari tulisan ini. Bisa sesederhana itu sih sebenarnya. Berkaca kepada perasaan dan harapan diri sendiri sebagai anak buah. Lalu merefleksikannya kepada orang-orang yang Anda pimpin.
Intinya, menjadikan diri kita berguna buat mereka. Ada gunanya nggak sih keberadaan kita buat mereka? Jika adanya kita sebagai pemimpin itu tidak berdampak positif bagi mereka, maka lupakanlah ide untuk menjadi pemimpin yang disukai. Begitu saja kan?
Jadi jelas ya. Untuk disukai itu Anda bukan tidak boleh keras dan tegas. Bukan harus selalu bermuka manis dan lembek pada anak buah. Buruk bahkan pemimpin yang lembek itu. Bukan. Bukan begitu. Pemimpin itu, harus menjadi orang yang berguna buat anak buahnya.
Loh, bukankah justru anak buah yang harus berguna buat mendukung tugas kepemimpinan atasannya? O iya dong. Tapi kalimat itu belum sampai titik. Baru koma. Mesti ditambahin…”Sebaliknya, pemimpin juga harus berguna buat anak buahnya….” Dengan begitu, masing-masing saling memberi manfaat satu sama lain.
Itulah saat dimana ‘kemitraan’ terbangun. Antara atasan. Dan bawahan. Sehingga proses kerja itu berjalan bukan sekedar anak buah yang mensuppport atasan. Melainkan juga atasan memberi banyak manfaat kepada mereka.
Lantas, bagaimana efeknya terhadap efektivitas kepemimpinan? Weu… banyak banget. Salah satunya, kepatuhan bawahan kepada atasan. Nggak gampang loh membangun kepatuhan anak buah itu. Padahal punya anak buah yang patuh itu… ‘berjuta rasanya’.
Patuh yang saya maksudkan bukanlah seperti kerbau dicucuk hidung. Yang otak dan nuraninya tidak dipakai lagi. Melainkan kepatuhan ala manusia. Yang mendukung penuh kala sepakat. Dan terus memberikan solusi terbaik ketika berseberangan. Lalu berkomitmen untuk mengimplementasikan keputusan akhir yang diambil atasan.
Sikap seperti itu, hanya bisa dibangun melalui jalinan sambung rasa antara atasannya dengan anak buahnya. Dan itu, bisa dimiliki oleh para pemimpin yang disukai oleh anak buahnya. Mereka yang dibenci, nggak usah ngarep deh!

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment