Home / Artikel / Disrupsi: Kompetisi Atau Sinergi?

Disrupsi: Kompetisi Atau Sinergi?

 

Orang semakin melek tentang disrupsi ya. Sayangnya, pemahaman terhadap fenomena itu makin melenceng. Salah satu contohnya adalah; ‘membenturkan’ antara model bisnis disruptif dengan bisnis ‘konvensional’.

Saya pribadi melihat bahwa model bisnis disruptif itu komplementer – saling melengkapi – dengan bisnis konvensional. Bukan saling melemahkan. Tapi, kenapa banyak bisnis konvensional yang kolaps gara-gara bisnis disruptif? Utamanya karena 2 hal.

Pertama, banyak orang ‘berilmu’ yang mengatakannya demikian. Disrupsi itu musuh bagi bisnis konvensional, katanya. Pelaku ekonomi kan mengikuti nasihat para ‘pakar’. Maka ketika mereka memberikan pemahaman yang salah, ya salah juga tindakan yang diambilnya.

Kedua. Kita melihat dari sudut pandang antipati. Curiga saja bawaannya pada model baru itu. Makanya kita pasang kuda-kuda ‘perlawanan’. Lihat bagaimana para pelaku bisnis konvensional berjibaku melawan bisnis disruptif. Ribut melulu kan ujung-ujungnya.

Walau kadang ada benarnya, namun kita mesti paham bahwa; pertentangan antara kedua model bisnis itu bukanlah satu-satunya pola interaksi. Ada aksi, ada reaksi. Tapi aksi tidak harus berupa tindakan merusak hingga menimbulkan reaksi defensif. Aksi pun bisa konstruktif, dan responnya menjadi kooperatif. Agar lahir interaksi berpola kolaboratif.

Memangnya bisa model bisnis disruptif komplemen dengan bisnis konvensional Dang? Bisa dong. Saya kasih 2 alasannya. Satu, model bisnis apapun hanyalah ‘alat atau cara’. Sedangkan yang pake alat itu, yang menerapkan cara itu; adalah manusia. Kita. Tinggal kita saja maunya bagaimana. Mau saling menghancurkan? Atau saling mengokohkan?

Dua. Coba Anda perhatikan; apakah ada model bisnis disruptif yang bisa hidup tanpa ditopang oleh bisnis konvensional? Kasih tahu saya kalau ada.

Contoh. Market place yang sekarang lagi pada heboh dengan kucuran dana triliunan. Apa sih yang mereka jual? Sistem transaksi online, betul? Lantas, apa bisa mereka eksis tanpa sokongan produsen produk-produk konsumer yang diperjual belikan di market place itu? Ya nggak bisa lah. Mereka ada, karena para produsen konvensional itu ada.

Jadi aneh kalau kita membenturkan konsep disrupsi dengan bisnis konvensional. Makanya, kita mesti kritis pada apa yang orang katakan. Belum tentu benar. Sekalipun yang ngomongnya bergelar doktor atau profesor.

Di era perang ekonomi seperti saat ini, bukan tidak mungkin jika ngawurisme itu sengaja dihembuskan untuk membodohi pengusaha dalam negeri. Khususnya UMKM dan sentra-sentra produksi masyarakat. Makanya bangsa Indonesia mesti hati-hati.

Lihat, bagaimana hancurnya industri tekstil lokal misalnya. Juga produk-produk dalam negeri lainnya. Kemudian, membanjirlah produk sejenis dari negara lain kan? Walau kualitasnya jauh lebih buruk dari produk kita sendiri.

Industri garam kita, setelah diobok-obok; lalu diguyur dengan pembukaan keran impor kan? Setelah dipojokkan dengan isyu kualitas, pabrik gula kita; ditenggelamkan dengan pembukaan impor gula rafinasi, bukan begitu? This is waaaar my friend. Dan dalam perang, ada saja traitor-nya kan?

Mari berhenti membenturkan prinsip disrupsi dengan bisnis konvensional. Kita justru mesti membangun sinergi. Antara bisnis model disruptif, dengan bisnis konvensional itu. Ayo kerja. Untuk memperkuat industri dalam negeri. Jangan cuma buka keran impor doang. Ayo kerja sungguhan. Lewat sinergi antara prinsip disrupsi, dan industri konvensional.

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment