Home / Artikel / Disrupsi Itu Realiti Atau Ilusi?

Disrupsi Itu Realiti Atau Ilusi?

 
Disrupsi itu bukan ilmu baru. Sudah dibahas sejak sekitar seperempat abad lalu.Tapi, biasalah. Namanya ilmu kan tidak langsung menyebar kemana-mana. Bahkan ketika konsep disrupsi itu lahir, banyak yang nyinyir. Termasuk kalangan intelektual itu sendiri. Tapi semakin hari, semakin banyak fenomena di dunia bisnis yang membuat bingung para praktisi maupun akademisi. Nggak bisa dimengerti. Karena tidak nyambung dengan – dan tak bisa dijelaskan melalui – teori-teori yang mereka pelajari selama ini. Nah, ketika itulah kita baru nyadar; “Oh… ini toh yang dimaksudkan oleh Pak Cyalton Magleby Christensen sebagai Disruption itu….”  
 
Jangan heran juga jika sampai saat ini pun masih baaanyak manager dan leader yang meragukan dan mempertanyakan: “Apa pula itu disrupsi? Tak adalah hitu! Cuma ilusi saja rupanya dia.” Jangan heran, kalau masih bejibun orang yang berpikir begitu. Namun tugas kitalah untuk pelan-pelan dan konsisten membawa kesadaran ini kepada organisasi kita. Supaya negatifnya: terhindar perusahaan ini dari kebangkrutan. Dan positifnya; supaya bisnis ini berkesinambungan.
 
“Wah, pake nakut-nakutin pula soal kebangkrutan! Mana mungkin perusahaan kami bisa bangkrut? Wong business performancenya memuaskan begini. Kompetitor kami pun tak berdaya lagi. Kamilah penguasa pasar di industry ini. Jangan pula ngajarin kami soal business sustainability. Tak cocoklah cakapmu itu….”
 
Begini. Bahkan Pak Rhenald Kasali pun menulis bahwa;”Dunia tengah menyaksikan runtuhnya perusahaan-perusahaan bersar – Para pemilik brand-brand yang 10 hingga 30 tahun lalu begitu memesona dan berkibar”. Maka brand atau produk, atau bahkan perusahaan Anda yang hari ini – saya ulang: hari ini – memiliki nama besar dan ketenaran, apakah 10 tahun atau 30 tahun yang akan datang masih akan tetap eksis? Tidak tahu. Tidak ada yang bisa menjamin itu. Yang kita tahu adalah; kita mau perusahaan kita, brand unggulan kita, nama besar kita; masih akan ada 30 tahun lagi kan? Bahkan sepanjang umur dunia ini maunya kita. Langgeng berbisnis. Dan berjaya selama-lamanya.
 
Itu juga loh, cita-cita, keinginan, impian para pemimpin brand yang hari ini ‘runtuh’ itu. Tiga puluh tahun yang lalu, mereka berjaya. Sampai mengira bahwa tidak mungkin lagi bisa dikalahkan oleh competitor manapun. Saking digdayanya mereka. Saking kokohnya fondasi bisnis mereka. Saking buaaanyaknya budget promosi mereka. Tapi nyatanya, hari ini; mereka sudah tidak dikenal lagi. Gone. Jangan bicara 30 tahun deh. Merk hand phone yang Anda pakai hari ini, sudah berbeda dengan merk hand phone favorit Anda 7 tahun yang lalu kan?
 
Perusahaan pembuatnya sama? Beda. Sudah wafat sang produsen hand phone sejuta umat itu. Padahal dimasa jayanya, tak terpikirkan bagaimana cara mengalahkannya dalam industry hand phone dunia. Namun ketika ada orang lain atau pihak lain yang memiliki disruptive innovation, tidak sedikit pun perusahaan sang raja hand phone itu percaya bahwa kehadiran ‘para pemula’ itu bakal meluluhlantakkan bisnisnya. Lalu dengan sombongnya mereka katakan;’Kami ini tangguh. Tak mungkin ada pesaing yang bisa bikin kami runtuh’. Dan kita semua, sudah sama-sama mengetahui bagaimana kisah selanjutnya kan?
 
Maka jika masih ada leader atau manager di kantor Anda yang teteeeep saja mempertanyakan;”Apakah Disrupsi itu beneran ada, atau sekedar ilusi saja?” Anda, berkewajiban untuk membangunkannya dari tidur berkepanjangan. Woi, bangun. Sadarkanlah dia, bahwa zaman terus berubah. Sehingga jika bisnis ini dijalankan dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya selama ini, maka perusahaan ini tidak akan fit lagi dengan zaman yang akan datang. That is the heart of disruption from this humble angle. Jadi, apakah disrupsi itu realiti atau ilusi? You bet!
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment