Home / Artikel / Dilema Sang Ayah

Dilema Sang Ayah

 
Ketika tiba dirumah, ayah mendapati anak-anaknya sudah pada tidur. Dan ketika berangkat kembali dikeesokan paginya, mereka belum bangun.
Itu bukan kejadian pertama yang dialaminya. Melainkan peristiwa harian 5 kali dalam seminggu. Senin. Sampai Jumat.
Dihari berikutnya, anak-anaknya sudah bangun. Tapi, sang ayah masih terbaring diranjang. Dengan wajah yang menggendong lelah. Tak ada yang berani membangunkannya. Ketika akhirnya sang ayah bangun, anak-anak sudah pergi bermain dengan teman-temannya.
Demikian pula dikeesokan harinya. Kejadiannya sama dan serupa. Tinggal dirumah yang sama. Tapi sedemikian sulitnya mereka ‘berjumpa’.
Sebenarnya, bisa. Jika sungguh-sungguh diupayakan. Tapi bahkan keinginan pun diliputi perbedaan. Anak-anak, ingin berjumpa dengan ayahnya di Sabtu dan Minggu. Sedangkan buat sang ayah, kedua hari itu sungguh sangat tidak bersahabat. Tahukah engkau kenapa?
Anak-anak bosan di rumah. Mereka berharap ayah mengajaknya pergi. Buat sang ayah, itu merupakan tantangan berat. Bukan soal rasa lelahnya. Tapi konsekuensi bahwa; keluar rumah dizaman ini sungguh tidak lagi murah.
Lapangan dan taman bermain sudah tak menarik lagi bagi anak-anaknya. Kandas tergilas pesona mall dan restoran. Dua lembaran warna merah dari dompetnya tidak lagi mencukupi untuk sekedar pergi sekali. Tiba-tiba saja ada jurang yang memisahkan mereka.
“Tidak adakah jalan keluarnya?” Demikian sang ayah bertanya dalam batinnya yang teriris. Dia tidak mungkin memaksakan diri melampaui kemampuannya. Bahkan semua kartu kreditnya sudah menyentuh limit dengan pembayaran minimum saja.
Dia tidak sanggup menanggung harga kehilangan ikatan dengan anaknya. Tapi juga tidak mungkin jika harus terus mengikuti gaya hidupnya. Kepalanya pusing. Lalu dia memilih terus berbaring. Dalam tangis sunyi. Dan hati teriris miris.
Pelan-pelan dia mendengar suara. “Siapa yang mengajari anak-anakmu gaya hidup seperti itu?” Demikian hujatnya.
“Aku,” bisiknya.
“Maka engkaulah yang bisa menghentikannya.” Katanya.
“Mana mungkin?” Sergahnya. “Mereka terlalu kecil untuk mengerti keadaan orang tuanya.”
Engkau meremehkan anak-anakmu. Engkau kira mereka akan merengek? Tidak. Jika mereka paham keadaan orang tuanya. Maka ajarkanlah mereka kenyataan tentang hidup. Bukan menutupinya dengan gaya hidup melampui kemampuanmu.
Sang ayah ragu. Tapi. Tidak ada cara lain yang bisa dicobanya. Sehingga dia pun memanggil anak-anaknya. Diajaknya mereka bicara. Seperti yang dinasihatkan suara itu. Dan ia. Benar-benar takjub. Betapa anak-anaknya yang masih kecil itu mengerti keadaan ayah dan ibunya.
Sejak saat itu. Sang ayah tidak gentar lagi menjalani hidup. Karena keluarganya, bukan beban. Melainkan mesin pendorong yang membakar semangat kerjanya. Dia, sekarang mau melakukan apa saja. Demi anak-anaknya.
Dan yang lebih membahagiakannya adalah, sebagai seorang ayah; dia telah melindungi anak-anaknya. Dari kontaminasi hedonisme dan konsumerisme yang entah kemana arahnya ketika mereka dewasa kelak. Sang ayah, kembali menemukan bahagianya.
Sang ayah, sekarang sudah menjadi pejuang tangguh. Yang meski masih mesti menghadapi susah, dia terus berbenah. Dan dalam tabah, perlahan tapi pasti; dilihatnya masa depan yang cerah. Dan kehidupan yang indah.
Catatan kaki:
Orang curang itu dimana-mana juga ada. Tapi dia hanya bisa mencurangi orang yang memang bisa dicurangi. Kepada orang yang nggak bisa dicurangi, ya dia nggak bisa berbuat curang.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment