Home / Artikel / Different Folks, Different Strokes

Different Folks, Different Strokes

 
Dalam ranah ilmu leadership, kita mengenal berbagai macam tipe kepemimpinan. Dari mengobservasi cara seseorang memimpin, kita bisa tahu gaya kepemimpinannya. Memahami tipe kepemimpinan atasan, menentukan karir seseorang. Betul begitukah?
 
Apalagi kalau sang pemimpin dikenal sebagai orang karismatik ya. Bawaannya, anak buah selalu kepengen manut saja. Bagus nggak sih kalau begitu? Kalau efeknya muncul berupa kepatuhan anak buah dalam menyelesaikan pekerjaan, tentu bagus dong ya. Apa salahnya dengan menjadi pemimpin yang dimanuti kan?
 
Tetapi kualitas kepemimpinan seseorang, antara lain ditandai dengan adanya pemahaman yang baik terhadap anak buahnya. Seorang pemimpin yang bagus memahami betul bahwa setiap anak buah mempunyai karakter, preferensi, kematangan, skill dan pola perilaku yang berbeda.
 
Kemudian, dia menggunakan pemahamannya itu untuk menyesuaikam cara atau gaya kepemimpinannya. Jadi, bukan anak buahnya yang harus menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinannya. Tapi justru sang atasan itulah yang menyesuaikan dirinya.
 
Lalu, apakah pemimpin seperti itu lebih baik dibanding pemimpin yang hanya mengandalkan karisma?
 
Masing-masing ada tempatnya. Dalam konteks kepemimpinan makro, menjadi pemimpin yang karismatik itu lebih tepat. Kita kan mempunyai keterbatasan waktu maupun energi kalau harus menyesuaikan diri dengan ribuan anak buah, misalnya.
 
Tapi dalam konteks kepemimpinan mikro, menjadi pemimpin yang paham setiap individu anak buahnya lalu memimpin mereka secara berbeda merupakan pilihan terbaik. Misalnya, kalau kita hanya memimpin 10 orang anak buah. Mungkin sekali kan melakukannya.
 
Bahkan ketika anak buah kita sudah ratusan atau ribuan sekalipun. Tetep aja kita mesti ‘menandai’ beberapa orang yang mesti kita didik dan kembangkan secara khusus. Melalui pemahaman mendalam kita terhadap aspek individualnya. Lalu menerapkan gaya kepemimpinan kita yang ‘customized’ itu.
 
Intinya, tidak semua orang bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Hal ini menuntut setiap pimpinan untuk mengasah kreativitasnya sehingga bisa memimpin semua orang didalam team kerjanya sesuai dengan kondisi, karakter, dan keunikan masing-masing. Kita, mengenalnya sebagai prinsip ‘different folks, different strokes”.
Catatan kaki:
Emang gampang kalau memperlakukan semua anak buah dengan cara yang sama. Tapi, itu bukan cara yang paling tepat dalam membangun hubungan yang terbaik antara atasan dengan bawahan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment