Home / Artikel / Customer First – Really?

Customer First – Really?

 
Hidup matinya bisnis setiap perusahaan ditentukan oleh order dari pelanggannya, betul ya? Walaupun perusahaannya keren dan produknya bagus; kalau tidak ada pelanggan yang mau beli, bakal bangkrut juga ya. Pelanggan itu, sangat penting.
 
Tidak ada yang menyangkal fakta itu. Makanya, kemudian banyak perusahaan yang menerapkan prinsip ‘Customer First’. Pelanggan adalah yang paling utama. Sehingga semua sumberdaya penting perusahaan didedikasikan kepada pelanggan.
 
Sayangnya, tidak sedikit leader yang miss-leading. Karena prinsip Customer First itu, employee-nya kurang mendapat perhatian. Yang penting customer happy tanpa mempedulikan apakah mereka bahagia atau tidak. Asal pelanggan senang, selesai urusan.
 
Cara pandang itu, terbalik. Bukan customer yang harus menjadi prioritas pertama untuk dibuat happy. Melainkan pegawai kita. It is not Customer First. It should be Employee First.
 
Hloh, kok bisa? Bukan bisa, melainkan begitulah mekanisme alamiahnya. Begini mekanismenya:
 
Hanya orang yang bahagia yang bisa membuat orang lain bahagia. Orang yang tidak bahagia, tidak akan bisa membuat orang lain bahagia. Maka bagaimana mungkin karyawan yang tidak bahagia membuat pelanggannya bahagia?
 
Jika tujuan utamanya adalah membuat pelanggan happy, maka jalan yang paling rasionalnya adalah; buatlah karyawan Anda happy. Maka mereka akan bergembira ketika melayani para pelanggannya. Dan orang yang melakukan pekerjaannya dengan gembira, akan membuat hari-hari kerjanya cerah dan ceria. Bahkan boleh jadi, meriah juga. Bakal indah hari-hari kerjanya.
 
‘Layani pelanggan dengan sepenuh hati’, bukankah itu yang menejemen titahkan kepada para karyawannya? Betul. Maka menejemen perlu lebih menyadari bahwa; jika dan hanya jika hati karyawan penuh dengan kebahagiaan saja prinsip ‘pelayanan sepenuh hati’ itu memiliki arti. Karyawan yang hatinya merana? Nggak bakal bisa melayani sepenuh hati dalam definisi yang sebenarnya.
 
Jadi apa point pentingnya? First, we must serve our employee at our best. Kita, para leader yang harus pertama-tama melayani anak buahnya dengan pelayanan terbaiknya. Bukan sebaliknya.
 
Contoh sederhana. ‘Berilah senyuman tulus kepada pelanggan Anda’, demikian nasihat setiap atasan. Tapi coba perhatikan dikantor Anda. Siapa yang paling renyah senyumannya ketika karyawan saling berinteraksi dalam keseharian kerja; atasankah? Atau bawahannya? Harus atasan yang duluan. Idealnya, sama-sama alias barengan. Tapi sayangnya, para atasan sering menjadi si raja dan ratu juteknya kan?
 
Ah, teori kamu Dang. Dengan pimpinan jutek pun perusahaan kami perform bagus!?
 
Iya, kalau ukurannya angka-angka jangka pendek. Patokannya produk terjual, target tercapai. Tapi kalau patokannya customer Anda happy, bagaimana bisa sedemikian pede-nya menyatakan kalau itu tercapai?
 
Lah. Buktinya mereka repeat order. Ya happy dong?!
 
Weis. Kleru, rek. Anda membeli produk pun tidak selalu karena suka pada pelayanannya kan? Mungkin karena butuh banget, DAN belum menemukan alternatif source yang lain. Betul? i.i.i.y.a.
 
Pelanggan yang membeli tapi tidak dilayani oleh karyawan yang hepi, tinggal nunggu waktu untuk pergi. Begitu ada alternatif provider lain; gone.
 
Sedangkan karyawan yang Anda perlakukan dengan dignity, adalah orang-orang yang bisa Anda andalkan untuk menjaga agar customer itu happy being with you. Karyawan yang hepi akan berusaha sekuuuat tenaga, membuat para pelanggan Anda setia. Bukankah itu yang disebut sebagai ‘fundamental’? Fondasi yang mengokohkan segala hal yang ‘kelihatan’.
 
So let’s sump up. If you are a leader, start to serve your subordinates at your best. In return, they will serve your customers on your behalf; for your interest. At best.
 
Shall we start now? Hayu.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment