Home / Artikel / Cara Memarahi Anak Buah

Cara Memarahi Anak Buah

 
Sebenarnya bolehkah atasan memarahi anak buahnya? Sebaiknya ya tidaklah. Tetapi, ada kalanya perlu begitu. Dalam kondisi khusus saja. Bukan dalam keseharian kepemimpinan kita.
 
Sayangnya, kok ada ya atasan yang – kayaknya – penasaran banget kalau hari itu belum marahin anak buahnya. Semoga Anda tidak termasuk yang begitu. Sebab, bisa jadi itu menunjukkan adanya masalah kejiwaan loh.
 
Saya tidak akan membahas aspek kejiwaannya. Cukup dari sudut pandang ilmu kepemimpinan saja. Bahwa seseorang menjadi anak buah kita, hanya disebabkan karena secara hirarki dia berada dibawah kita.
 
Apakah secara martabat kita lebih tinggi dari dia? Yang jelas, kita mengenal konsepsi leader de jure dan leader de facto. Salah satu latar belakang lahirnya konsepsi itu adalah fakta bahwa ada orang yang tidak menduduki jabatan tinggi tapi sangat dihormati, dipatuhi dan diikuti oleh para karyawan.
 
Dia bukan atasan. Tapi orang-orang lebih suka datang kepadanya daripada kepada atasannya. Kenapa? Antara lain karena atasannya sendiri suka marah-marah yang nggak jelas gitu.
 
Bukan tidak boleh marah. Tapi pertama, mesti proporsional. Jangan setiap ketidakpuasan pada anak buah diekspresikan dalam bentuk marah. Toh anak buah kita juga nggak selalu puas terhadap kualitas kepemimpinan kita kan?
 
Kedua, lihat-lihat tempatlah kalau mau marahin anak buah. Jangan marahin anak buah didepan orang yang tidak perlu tahu soal itu. Didepan pelanggan misalnya. Nggak pantes banget.
 
Saya pernah menyaksikan atasan yang memarahi anak buahnya didepan para pelanggannya. Ketika saya mendapatkan pelayanan darinya, saya bertanya;”kenapa dia marah-marah Mas?”
 
Lucu juga jawabannya. Dia bilang;”Ah emang dia itu orangnya begitu pak. Kerjaannya marah-marah melulu….”
 
Bayangkan. Betapa hancurnya kresibilitas seorang atasan yang suka marah-marah tidak pada tempatnya. Dikiranya dia kuasa. Padahal dimata anak buahnya, sama sekali tidak punya wibawa.
 
Jadi. Gimana caranya marah sama anak buah? Cara pertama dan kedua sudah dibahas. Ketiga, dipikir dulu. Apa masalahnya bakal selesai dengan marah? Pikiiiir beberapa kali. Nanti udah nggak mood lagi buat marah.
 
BAH! INI AKU HARUS MARRAH! Kalau memang harus, ya marah saja. Tapi Keempat, marahlah pada perilaku kerjanya. Jangan merendahkan pribadinya. Contoh. Kalau marah karena laporan telat, fokuslah pada laporan yang telat itu. Jangan singgung soal pribadi orang itu.
 
Dengan begitu, kalau pun marah; kita tidak membuat harga diri anak buah jadi rendah. Dan, kita juga tidak merusak kredibilitas diri sendiri dihadapan mereka.
 
Banyak atasan yang nggak bisa marah. Lalu dia diremehkan anak buah. Banyak juga atasan yang diremehkan karena kerjanya cuman marah-marah.
 
Ada pula atasan yang bisa marah. Tapi karena cara marahnya pas, efek dari marahnya jadi positif. Baik bagi kedisiplinan dan perkembangan anak buahnya. Maupun bagi kredibilitas dan kualitas kepemimpinannya. Anda, termasuk atasan yang seperti apa?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment