Home / Artikel / Cara Kerjamu Menentukan Future Karirmu

Cara Kerjamu Menentukan Future Karirmu

 
Setiap orang pasti ingin agar karirnya bisa berkembang. Tapi, tidak semua orang tahu jalan menuju kearah itu. Satu hal penting untuk dipahami bahwa; Perkembangan karir kita, sangat ditentukan oleh citra yang kita bangun dihadapan pengambil keputusan.
 
Dalam konteks pekerjaan, citra tidak berhubungan dengan foto atau selfie ketika memberi nasi bungkus pada orang miskin, masuk gorong-gorong, menyediakan air bersih di daerah kumuh, atau publikasi kegiatan sosial lainnya sebagaimana sering dilakukan para politisi. Bagi kaum profesional, citra dibangun melalui kualitas kerja dan profesionalitasnya.
 
Dalam 2 hari ini, misalnya. Saya 2 kali menggunakan jasa taksi online. Kemarin pagi-pagi sekali menuju ke tempat training. Dan siang ini, sepulang dari menunaikan amanah memfasilitas training itu.
 
Dari ke-2 driver taksi itu saya menemukan sebuah penegasan. Bahwa, cara kerja kita; benar-benar menentukan karir kita.
 
Kelak kalau pesan taksi online lagi, lalu dapat driver pertama yang kemarin pagi; mungkin saya akan mencancel orderan. Tapi kalau dapat driver yang ke-2, mungkin saya sudah lebih dulu senang hati bahkan sebelum dia datang menjemput.
 
Kenapa? Maaf ya, ini bukan diskriminatif. Apa lagi rasis. Ini murni karena pengalaman masa lalu yang berhasil dibangun oleh kedua driver itu. Different experience, direrente juga future action-nya.
 
Atasan Anda, kurang lebih sama. Jika kelak mereka berkesempatan untuk ‘memilih orang’, maka akan dipilihnya orang yang dimasa lalu telah melukiskan kenangan kerja bersama yang sangat baik. Sedangkan orang yang pernah bekerja dalam teamnya dengan kesan dan catatan yang buruk; tidak akan sedikit pun dia lirik.
 
Sejak membuka pintu, driver kemarin itu tidak menunjukkan wajah yang welcome. Sampai saya bertanya dalam hati; ‘apakah orang ini akan mengijinkan saya memasuki mobilnya’?
 
Saya kira, saya saja yang sensi. Maklum sekarang kan jaman orang sensi. Kepada orang lain boleh nyindir, tapi cepet ngambek kalau dia sendiri yang kena sindir. Ternyata bukan karena saya yang sensi. Orang itu pun bicaranya ketus.
 
“Oh, mungkin dia tidak berhasil melewati momen yang indah bersama istrinya tadi malam. Jadinya pagi ini uring-uringan.” Demikian saya menghibur diri. Lalu masuk.
 
Sebelum berangkat. Dia bertanya ke arah mana. Lalu saya beritahu arah jalannya. “Jadi kita muter lagi nih pa?” Demikian responnya. Ya Allah.
 
Saya menarik nafas panjang. Walau telinga nggak asik mendengar nadanya. “Kalau anda punya alternatif jalan lain menuju tempat yang kita tuju, silakan. Saya tak masalah…” Alhamdulillah, lidah ini mampu mengucapkan respon yang wajar.
 
Atasan Anda, sepanjang hari berinteraksi dengan Anda. Dia memonitor penugasan yang diberikan kepada Anda. Dia merasa loh, kalau cara Anda menjalankan tugas itu tidak ikhlas. Dia mungkin tidak bicara. Tapi dia, bisa menangkap frekuensi gelombang kejutekan yang Anda pancarkan. So, mawas diri from now on.
 
Driver yang siang ini lain. “Pak Dadang ya?” Sapanya dalam kontak mata pertama. “Betul pa. Saya Dadang.” Demikian respon spontan saya. Langsung nyambung. Seketika berasa nyaman.
 
Atasan Anda bisa merasakan adanya aura ketulusan right away when he first interact with you loh. Apalagi dalam interaksi seterusnya bersama dia selama 8 jam, 5 hari seminggu kan? Jadilah orang tulus. Dia akan tahu.
 
Sebelum berangkat. “GPS menunjukkan ke arah ini pak. Betul?” Ah. Pertanyaan yang langsung menelusup ke dalam kalbu. Khususnya setelah beberapa kali merasakan nyeseknya tersaruk-saruk ke jalan tikus gara-gara percaya GPS.
 
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa banyak boss sukses yang ‘memboyong’ orang-orang andalannya untuk mengikuti pergerakan gerbong kesuksesan karirnya? Silakan renungkan hal itu. Disitu ada petunjuk bahwa; cara kerjamu bersamanya, menentukan masa depan karirmu.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment