Home / Artikel / Cahaya Di Tempat Kerja

Cahaya Di Tempat Kerja

 

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana bekerja dalam suasana tanpa cahaya? Tanpa AC, masih bisa kita berkarya. Tanpa makanan, bisa bertahan beberapa jam. Tanpa kursi. Tanpa meja. Pekerjaan kita, masih jalan. Tapi tanpa cahaya?

 

Persis selepas sholat subuh tadi, lampu mati. Rasanya seperti mati kutu. Walaupun ada 2 senter dan beberapa lilin menerangi. Tapi tetap saja tidak bisa beraktivitas secara normal. Padahal, segala urusan dimulai pagi hari.

 

Dalam terminologi religi, cahaya itu bermakna petunjuk agar kita bisa melangkah dijalan yang benar. Dalam konteks pekerjaan, cahaya berarti kemelekan. Wawasan. Atau pengetahuan atau pengalaman. Sehingga kita bisa menjalani pekerjaan dengan benar.

 

Kebutuhan kita pada ilmu pekerjaan sama seperti butuhnya kita pada cahaya. Maka orang yang terus mengasah diri sendiri, sama seperti orang yang membeningkan cermin dimana ilmu dari sana-sini terpantulkan lewat dirinya.

 

Ketika seseorang terus menyantap ilmu, maka lama kelamaan tubuhnya seolah diselimuti oleh cahaya. Yang terangnya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Melainkan juga bagi orang-orang disekitarnya.

 

Ketika orang lain bertanya, misalnya. Dia memberikan jawabannya. Ketika orang lain kesulitan mengerjakan tugas-tugasnya, dia memberi panduan. Ketika orang lain tidak mampu menemukan solusi atas masalah yang dihadapi, dia memberikan berbagai alternatif jalan keluarnya.

 

Kenapa dia bisa? Karena dirinya dipenuhi oleh cahaya ilmu. Ditempa oleh banyak pengalaman. Sehingga ketika dihadapkan pada suatu situasi, ilmunya menunjukkan jalan. Dan pengalamannya memberikan panduan. Dia, bagai orang berjalan diatas lintasan terang benderang.

 

Sebaliknya, membiarkan diri ketinggalan wawasan dan pengalaman soal pekerjaan, sama artinya pelan-pepan mendorong diri kita menuju kepada kegelapan. Kenapa? Karena, tantangan dalam pekerjaan itu senantiasa berubah.

 

Meskipun pekerjaan kita sama itu-itu juga. Tapi, mungkin atasan kita ganti. Ada kebijakan baru. Kompetitor semakin gesit. Tuntutan pelanggan semakin banyak. Maka apa yang memadai dimasa lalu, mungkin kini tidak cukup lagi. Jadi, tak ada ceritanya berhenti mengembangkan diri. Walau sudah belasan tahun bekerja dibidang itu.

 

Selain hal-hal kasat mata itu, cahaya juga berarti hati yang berbinar. Dalam bahasa kantoran, disebut attitude. Sikap. Orang yang hatinya bersinar terang, pasti sikapnya baik. Dan itu, tercermin dalam perilaku kerjanya. Lalu seberapa penting sih cahaya hati ini?

 

Perhatikanlah. Betapa banyak profesional yang berilmu tinggi dan kaya pengalaman. Selalu bisa menyelesaikan tantangan tersulit dalam pekerjaan. Tapi sikapnya buruk. Sikap pada kolega. Pada anak buah. Pada pelanggan. Bahkan pada alat-alat kerja. Buruknya sikap itu, menandakan bahwa hatinya gelap. Tidak bercahaya.

 

Jadi. Cahaya hati, sama pentingnya dengan cahaya ilmu dan cahaya pengalaman. Semua komponen itu membentuk sosok profesionalitas kita. Yang handal dalam bekerja. Dan terpuji dalam perilaku kerja. Dan di zaman ini, profesional seperti itu yang dibutuhkan oleh perusahaan.

 

Lebih sempurna lagi jika dilengkapi dengan kesadaran akan kehadiran Sang Maha Cahaya. Yaitu sumber dari segala cahaya. Yang dari Dia, cahaya yang lainnya ada. Dia adalah Nuuru samaawaati wal ardi. Yang kepadanya, kita kembali.

 

Sempurna. Jika kita punya cahaya yang satu ini. Dengan cahaya ini, kita bekerja sepenuh integritas diri. Tanpa dinodai oleh apapun. Tiada tergoda oleh segala sesuatu yang bukan hak kita untuk mengambilnya. Juga tidak meminta apa yang tak pantas kita memintanya.

Catatan kaki:

Pokoknya nggak rugi deh kalau terus update ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan. Karena, efeknya bakal kerasa pada cara kita bekerja. Dan hasilnya, akan kembali kepada  kita juga.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment